
Malam ini acara pengajian dan pembacaan Al-Berjanji setelah habis Isya, seluruh anggota keluarga Fatia datang kesana tanpa kecuali.
Berita tentang perbuatan Damar terhadap Fatia sudah tersebar luas seluruh desa bahkan sampai desa tetangga sebelah.
Saat semua keluarga Fatia datang semua menyambutnya dengan ramah seolah masyarakat memahami apa yang terjadi pada mereka dan mendukung keputusan mereka.
Semua para tamu sudah mulai perkumpulan, bapak-bapak dan pemuda di halaman rumah sebelah kiri, Ibu-ibu mayoritas di dapur, sedang para pemudi nya bersiap dengan pembacaan Al-Berjanji.
Karena Fatia adalah mantan ketua pemudi, ketua yang baru menarik Fatia dan Yosi untuk memimpin acara pembacaan Al-Berjanji itu, untuk nostalgia seloroh mereka.
Terpaksa Fatia mengabulkan permohonan para pemudi itu, sedangkan Yosi menyimak dengan seksama, ada rasa kagum dengan kemampuan kakak iparnya itu, dan suaranya juga tidak kalah merdu dengan yang lain.
Tahu yang memimpin acara itu Fatia Jose membuat siaran langsung melalui Facebook dan You Tube, tidak kalah dengan Jose, Irul yang pertama kali menyaksikan acara yang baru di kenalnya itu dengan antusias ikut merekamnya apalagi ada Yosi di samping Fatia.
Tanggapan positif dari teman sejati dan relasi bisnis Jose tentang kemampuan yang dimiliki oleh Fatia membuat kebanggaan tersendiri bagi Jose.
Tanpa di sengaja saat Jose sibuk mengambil vedio dengan mundur perlahan, ternyata menabrak sosok Damar yang sedang diam-diam mengambil gambar dengan handphone.
"Aduh........ini orang mengapa tidak ada kapok kapoknya sih?" gerutu Jose sambil melototi Damar.
"Saya tidak ngapa ngapain pak, cuma melihat dan mendengar para gadis membaca Al-Berjanji" jawab Damar gugup.
Irul yang melihat Jose memaki Damar berlari mendekati Jose sambil mengangkat tangan memberikan kode kepada pak lurah.
Pak lurah datang dengan cepat dan mengajak Ahmad putranya mendekati Jose dan Damar, Jose hampir menghajar Damar seketika itu juga jika tidak di cegah oleh Ahmad sebagai ketua karang taruna.
"Sabar mas.... jangan membuat semua tidak terkendali" kata Ahmad sambil menarik tangan Jose.
Pak lurah menarik tangan Damar keluar dari tempat itu dan di tariknya ke tempat para bapak-bapak yang ada di halaman rumah.
Setelah duduk di kursi dan di apit oleh pak lurah dan Ahmad Damar mulai gelisah.
__ADS_1
"Pak sumpah aku tidak mendekati siapapun, aku hanya melihat dan mendengarkan pembacaan Al-Berjanji saja" jelas Damar.
"Kamu sudah di larang tidak mendekati keluarga pak gaji, mengapa masih mendekati Fatia?" tanya Ahmad.
"Tidak..... sumpah... saya tidak tahu kalau ada dia di antara mereka" jawab Damar.
"Sudah sebaiknya jangan di perpanjang mas Jose, nanti acara pembacaan Al-Berjanji akan terganggu" nasehat pak lurah.
Jose pergi meninggalkan mereka dengan hati yang sangat marah, tetapi setelah mendengar suara Fatia dengan merdunya sedang membacakan Al-Berjanji itu seketika melunak, dan mulai merekam kembali.
"Pak bisa minta tolong jaga dia jangan Sampai terjadi sesuatu yang tidak di inginkan" pinta Irul.
Kemudian Irul menyusul Jose takutnya dia tidak bisa mengontrol emosinoya, tetapi di luar prediksi Irul, Jose mulai tersenyum memandangi wajah istrinya yang sedang di antara para gadis desa tetangganya itu.
Dari kejauhan ada Al bersama Aisyah berlari mendekati Jose dengan riang.
"Yayah..... Bunbun mana?" tanya Al.
Jose menggendong Al dan menunjukkan vedio rekaman dengan seksama kepada Al.
Dengan menggendong Al Jose berjalan menuju tempat para bapak bercengkerama, sudah hampir satu jam acara itu berlangsung.
Saat Jose duduk di depan pak lurah dan Ahmad ternyata Damar sudah tidak ada disana, dia lagi duduk di pojok halaman itu bersama pak RT dan warga yang lain yang sedang menghisap rokok.
"Eeeeee ....... si ganteng siapa namanya?, kok persis sama bapaknya?" tanya Ahmad.
"Namanya Al....om?" jawab Jose dengan tersenyum.
"Iya..... persis kok tidak ada yang mirip ibunya sih?" sahut pak lurah.
"Jangan lupa besok hari Senin langsung bersambung kerjabakti di rumah setelah acara resepsi pernikahan ini" ucap Ahmad.
__ADS_1
"Insyaallah......mas" jawab Jose singkat.
Waktu berlalu begitu cepat, setelah hari Minggu acara resepsi pernikahan berjalan dengan lancar hari Senin sampai Rabu gantian di rumah pak lurah juga mengadakan acara resepsi pernikahan Ahmad tepat nya ngunduh mantu kata orang Jawa.
Hari Rabu siang walikota Ridwan baru bisa hadir di acara resepsi pernikahan pak lurah, yang dari kemarin Ridwan hanya mendengar cerita tentang Damar melalui pesan group teman sejati ingin menemuinya secara langsung.
Ternyata Damar sudah kembali ke kota kabupaten Ngawi dan sudah bekerja seperti biasa, dari tetangga menceritakan bahwa cutinya sudah selesai jadi tidak bisa menghadiri acara pernikahan di tempat pak lurah.
Malam ini Ridwan dan istri menginap di rumah Fatia karena besok akan mengadakan acara bansos yang diadakan setelah selesai resepsi pernikahan Ahmad.
Keesokan harinya bansos yang diketuai oleh kedua pasangan pengantin baru berjalan dengan lancar, bansos itu hampir dua kali lipat ramainya karena acaranya di rencanakan jauh jauh hari tidak seperti yang di adakan saat Jose dan Fatia menikah dulu karena acara dadakan.
Ternyata mempelai wanita adalah anak gadis dari salah satu lurah di desa sebelah teman dari orang tua Ahmad, sehingga jangkauan sasaran bansos lebih luas.
Juga karena kehadiran walikota Ridwan juga menambahkan ramainya bansos itu, acara berlangsung sampai hampir seharian penuh.
Pada hari Kamis pagi Jose dan rombongan pulang ke Surabaya tanpa mampir ke rumah walikota Ridwan karena ada Dedy Mark dan uncle Marten yang datang dari Manhattan USA ke Surabaya.
Uncle Marten sudah bebas dari penjara dua Minggu yang lalu sehingga ingin berkunjung ke rumah keponakannya yang telah membimbingnya ke jalan yang benar.
Sampai di Surabaya rombongan menuju rumah lama yang sudah hampir dua Minggu di tinggalkannya, karena Dedy dan uncle Marten berada di sana.
Ternyata sangat mengejutkan, uncle Marten datang ke Indonesia ada tujuan untuk masuk Islam seperti Dedy Mark, hampir sudah satu tahun ini uncle Marten mempelajari agama Islam waktu di penjara.
Di penjara uncle Marten bertemu dengan wanita staf penjara keturunan Amerika Indonesia beragama Islam, rencana akan mempersunting wanita itu dengan menikah tata cara Islam.
"Dedy maunya pak haji saja yang membimbing uncle Marten untuk masuk Islam" kata Mark saat mereka berada di ruang tamu.
"Nanti aku yang menghubungi bapak Ded, dilihat terlebih dahulu jadwal beliau" jawab Fatia.
"Ya .... kita tunggu aja, untuk sementara kita belajar mengajinya sama kamu saja, suaramu bangus banget saat malam Minggu itu di Facebook" bilang Mark lagi.
__ADS_1
"Hah......di Facebook... kapan?".
"Aku Bun, kemarin yang siaran langsung..... Dedy melihatnya dari sana" jawab Jose tersenyum.