
"Damar.....Damar.....Damar".
Damar tidak jadi memanggil Fatia dan menengok ke pintu samping ternyata ibunya yang memanggilnya karena ada putranya yang menangis mencarinya.
Damar keluar lagi dari rumah paman bergabung dengan bapak-bapak yang lain dengan menggandeng putra kecilnya.
Damar mencari sosok Fatia di luar karena yang dia tahu, keluar juga melalui pintu itu juga, baru setelah menoleh kesamping ada Fatia yang sedang di peluk oleh Jose, Jose juga mengusap pipi Fatia dengan mesra.
Hati Damar terasa sangat sakit, masih ada rasa cemburu yang amat sangat di hati Damar melihat pemandangan yang begitu nyata di depannya.
Damar akhirnya bergabung dengan pak lurah meneruskan pekerjaan yang belum selesai, tetapi sesekali melirik Jose yang sedang berbincang dengan Fatia begitu mesranya.
Fatia beranjak dari sana dan masuk lagi ke rumah paman bergabung dengan ibu Ibu yang sedang memasak untuk hidangan makan siang nanti.
Jose juga ikut melanjutkan pekerjaan dan bergabung dengan Irul dan bapak-bapak yang lain di halaman depan.
"Mas..... apakah tadi Damar sempat bertemu dengan mbak Fat?" tanya Irul.
"Sempat ketemu sih.... tetapi belum berbicara sepatah katapun mbakmu langsung meninggalkan Damar sendiri".
"Syukurlah..... jangan di berikan kesempatan untuk Damar mendekatinya mas, orangnya aneh begitu!".
Waktu menunjukan pukul setengah dua belas siang, waktu untuk makan siang, semua para bapak bapak berkumpul untuk menyantap hidangan makan siang bersama.
Al datang dari ruang belakang berlari mendekati Jose dan memeluknya.
"Yayah..... Yayah....Yayah...".
"Ganteng..... Mau mamam kah?"
"Iya.....mamam......mamam?".
Al meloncat loncat kegirangan di depan Jose minta disuapi oleh ayahnya, Fatia datang dari dalam rumah mendekati Al dan Jose.
"Bun.... sini sekalian makan sama Al".
Jose mengambil makan siang, tetapi hanya satu piring dan mendekati Al dan Fatia yang sedang duduk di kursi panjang yang ada di samping meja hidangan makan siang itu.
Jose makan satu piring untuk bertiga, sebagian besar pada bapak bapak banyak yang meledeknya ataupun memujinya.
"Mesra nya.... Makan aja suap suapan" ledek salah satu bapak yang makan di samping Jose.
Damar hanya melirik mereka sesekali sambil menyendok nasi dan memasukkannya kedalam mulutnya dengan malas, seperti tidak menikmati makanannya itu.
__ADS_1
Lain lagi Jose menyuapi Fatia dengan telaten sambil sesekali mengusap bibirnya yang ada sedikit nasi yang menempel di bibir Fatia dengan mesra.
Al juga tidak kalah senangnya karena di suapi, terkadang meminta lagi dan lagi dan mengunyah nadi itu dengan cepat.
"Mamamnya pelan-pelan Al, tidak usah buru-buru, enak kah?" tanya Fatia.
Al menganggukkan kepalanya dan menunjukkan kedua jempolnya tanda makanan itu sangat lezat.
"Yagi....yah.....yagi.... Al mau mamam yagi".
Jose kembali ke meja dan mengambilkan makan untuk Al dan tidak lupa air mineral dan di berikan kepada Fatia.
Azan berkumandang dengan merdunya setelah makan siang selesai, dan mereka membubarkan diri pulang ke rumah masing-masing untuk berganti baju dan sholat Zuhur berjama'ah di masjid.
Bagi Jose merupakan hal yang biasa mengikuti kebiasaan masyarakat yang agamis, justru membuat hatinya tenang dan bahagia.
Tetapi bagi Irul itu hal yang terbilang sangat berbeda dengan kesehariannya, membuat Irul tidak berhenti belajar, dan selalu mengamati keseharian masyarakat di sana.
Jose dan Irul berangkat ke masjid bersama sedangkan Fatia masih tetap di rumah paman untuk membantu di dapur, tetapi sebelum Jose berangkat ke masjid berpesan tidak usah berbincang dengan Damar.
Fatia menggendong Al ke dapur, banyak yang mengagumi wajah Al yang cenderung mirip dengan ayahnya sedikit berwajah bule terlihat dari warna matanya dan hidungnya yang mancung seperti kebanyakan orang keturunan indo.
Ibu-ibu memanggil Al dengan sebutan anaknya wong londo, itu kata mereka, Fatia dan Yosi yang sedang membantu mengupas kentang menjadi tersenyum mendengar mereka mengagumi ketampanan wajah Al.
"Permisi boleh bicara sebentar?" kata Damar mendekati Yosi.
"Ya ada yang bisa aku bantu pak?" tanya Yosi.
"Kamu adik iparnya Fatia bukan?, kenalkan aku Damar" kata Damar sambil mengulurkan tangannya.
"Namaku Yosi, maaf aku buru-buru mau sholat dulu" jawab Yosi sambil meninggalkan Damar.
"Tunggu sebentar Yosi, boleh aku tanyakan sesuatu tentang kakak iparmu?" tanya Damar.
Yosi seketika menghentikan langkahnya dengan cepat dan berbalik badan ke arah Damar.
"Apakah yang ingin anda tanyakan pak?".
"Sudah berapa lama mereka menikah?.
Yosi menjadi heran dengan pertanyaan Damar, seperti ada yang aneh dengan perasaan orang laki-laki yang ada di depannya itu.
"Yosi... bisakah aku minta bantuanmu ingin bicara empat mata dengan Fatia?".
__ADS_1
"Haaa.....".
Yosi semakin tidak mengerti dengan sikap dan permintaannya itu malah membuat hati Yosi jengkel.
"Maaf pak, apa hubungan anda dengan mbak Fatia?".
"Kalau itu maaf aku tidak bisa menceritakannya padamu!".
"Kalau begitu maaf saya juga tidak bisa membantu anda pak".
Yosi berlari meninggalkan tempat itu menuju rumah Fatia dengan cepat tanpa menengok ke belakang sama sekali.
Damar hanya memandangi Yosi yang berlalu menjauhi dirinya dengan hati yang tidak menentu.
Sampai di depan pintu rumah Yosi yang kerang hati-hati menabrak seseorang.
"Bruuuuk...".
"Kenapa tidak hati-hati dik?, untung yang ditabrak calon suami". nasehat Irul.
Ternyata yang di tabrak tunangannya sendiri Irul, Irul menangkap Yosi yang akan terjatuh, Jose yang ada di dekatnya malah meledaknya.
"Ini siang-siang pelukan disini, jangan macam-macam" kata Jose ketus.
"Mas....aku tuuuh.... buru-buru bukan berniat pelukan, ngawur aja kalau ngomong" protes Yosi.
Jose tertawa lepas melihat adiknya kesel dan uring-uringan, jadi ingin menggoda lagi, tetapi jadi tidak tega.
"Tadi aku ketemu Damar di jalan, makanya aku jadi kesal" ucap Yosi lagi.
Irul dan Jose saling menatap mata, seperti ada yang tidak di fahami maksudnyanya.
"Coba sini duduk dulu ceritakan apa yang terjadi?" perintah Jose sambil duduk di kursi panjang teras rumah Fatia.
"Nanti dulu....Yosi mau sholat Zuhur, tunggu aja disitu" kata Yosi sambil berlalu masuk ke rumah untuk melaksanakan sholat wajib yaitu sholat Zuhur.
Jose menarik nafas dalam-dalam, merasa kesal karena beberapa kali Damar ingin mendekati istri tercintanya terus, Irul juga tidak kalah kesal dengan tingkah Damar yang tidak jauh berbeda dengan mantan istrinya Triana.
Jose dan Irul menunggu Yosi hampir setengah jam, tetapi yang di tunggu tidak menampakkan batang hidungnya, membuat keduanya kesal dan menyusulnya ke kamar tamu.
Di bukanya pintu kamar itu dengan perlahan, ternyata orang yang di tunggu tidur pulas sambil terduduk masih menggunakan mukena lengkap.
"Yosi..... Yos.....di tunggu malah ngorok" ucap Jose kesal.
__ADS_1