Ikat Pinggang Cinta

Ikat Pinggang Cinta
Bab 92 Pindah Sementara


__ADS_3

Setelah selesai makan siang, Syaiful menyarankan untuk pindah untuk sementara waktu kepada Jose dan keluarga.


Yosi yang mendengar kabar dari Rina bahwa ada Syafitri kabur dari rumah sakit jiwa mendatangi rumah mereka, berlari pulang tidak jadi mengikuti mata kuliah di kampus.


Irul yang melihat dari kejauhan ikut berlari mengejar Yosi dan memanggilnya.


"Dik...... Yosi..... ada apa?" teriak Irul dari jauh.


"Mas Irul......maaf, dirumah lagi ada masalah" kata Yosi sambil berlari keluar kampus dengan tergesa-gesa.


"Aku antar saja biar cepat sampai rumah".


"Mas Irul naik apa?" tanya Yosi tetap sambil berlari.


"Motor....ayo ke parkiran".


Irul menarik tangan Yosi menggandengnya sampai parkiran, di pakaikan helm, kemudian melaju melesat membelah jalanan padat, melewati gang kecil jalan pintas supaya lebih cepat sampai di rumah.


Motor belum berhenti sempurna Yosi loncat turun dan berlari membuka pintu dengan cepat.


"Mas......mbak Fat, apa yang terjadi?" kata Yosi sambil mengatur napas karena terengah-engah.


Irul mengikuti Yosi dari belakang setelah memarkirkan motornya dengan cepat.


"Sudah tidak ada apa-apa Yos, jangan khawatir" ucap Fatia.


"Irul...sini sekalian ikut makan siang bersama" ajak Jose.


Mereka makan bersama tanpa ada suara hanya suara piring yang bersentuhan dengan sendok dan garpunya saja.


Selesai makan mereka duduk kembali ke ruang keluarga, dan berbincang dengan hangat.


Syaiful mengusulkan untuk keluarga kecil sahabatnya itu.


"Sebaiknya untuk sementara pindah saja dari rumah ini, karena biasanya jika orang yang sakit jiwa akan mengulangi apa yang ada dalam pikirannya" jelas Syaiful.


"Iya mas.... kita pindah saja ke apartemen mas Jose saja untuk sementara" ajak Yosi.


Fatia yang tidak tahu jika Jose mempunyai apartemen mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Memang....... punya apartemenkah yah?" tanya Fatia.


Jose hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Fatia, memang istrinya itu tidak pernah menanyakan masalah properti ataupun uang sama sekali.


"Sayang..... Sebelum kita menikah aku punya apartemen, dan saat kita menikah aku juga membelikan rumah buat kamu, tetapi sampai sekarang masih di sewa orang rumahnya" jawab Jose panjang dan lebar.


Akhirnya di sepakati sore ini juga Jose akan pindah ke apartemen untuk sementara dan Yosi akan ikut serta, serta kedua bibi ART nya.


Di bantu Irul dan Ardi mereka bersiap siap untuk pindah rumah, rumahnya di titipkan pada Om Ari dan Tante Tanti, untuk di jaga sementara waktu.


Sampai apartemen Fatia tidak bisa membantu banyak, dia hanya duduk di kursi roda dan mengatur mana yang harus di tata ulang.


Semua dikerjakan oleh bibi dan di bantu oleh Yosi, dan Jose. jika Fatia ingin membantu selalu di larang oleh Jose dengan alasan kakinya tidak boleh banyak di buat untuk beraktivitas.


Apartemen itu hanya ada dua kamar tidur, ruang kerja dapur ruang tamu, ruang makan dan ruang keluarga, tidak terlalu besar tetapi sangat elegan dan bersih.


Al yang biasa mempunyai kamar sendiri dengan berbagai macam mainan, akhirnya ruang kerja Jose di sulap menjadi kamar Al dengan bercorak Tayo kesukaan Al.


Malam harinya Jose mendapatkan kabar bahwa Syafitri di tempatkan di ruangan khusus agar tidak bisa kabur lagi dari rumah sakit jiwa itu.


Jika malam hari bibi kembali ke rumah lama, karena tidak ada kamar untuk para ART di apartemen, dan pagi harinya kembali apartemen.


Malam ini juga Jose mulai menggoda Fatia, hampir satu bulan sudah dia tidak mendapatkan sentuhan dan jatah dari Fatia karena kakinya yang cedera.


"Sayang...... apakah sudah boleh....?".


Jose memeluk Fatia dari samping saat mereka duduk berdampingan di atas sofa dengan mesra.


"Apanya yang boleh?" tanya Fatia pura-pura tidak tahu.


"Yang itulah.... hampir satu bulan ini aku menahannya, nanti kita bermain yang cantik deh kayak yang dulu lagi?".


"Yang dulu mana sih?" jawab Fatia pura-pura tidak tahu.


"Waktu......em....em...malam pertama kita sayang, anggap saja kita malam pertama lagi"


Baru Jose tersenyum sambil mengenang malam pertamanya Jose dan Fatia memulai pergumulan panas malam itu, tidak cuma satu kali tetapi mereka melakukan sampai lebih dari tengah malam, baru tertidur pulas sampai pagi menjelang dan mandi bersama setalah itu.


Hari Minggu ini di Jose dan Fatia menghabiskan waktu di apartemen bersama Al, tidak pergi kemanapun, hanya Yosi saja yang jalan-jalan bersama Irul.

__ADS_1


Hari Minggu bibi ART di rumah lama, sehingga Fatia yang memasak untuk menu makan siang, hari ini jadi bapak rumah tangga yang baik, Fatia hanya mengarahkan bagaimana cara memasak menu makanan.


Rencana Fatia masak cah kangkung, sayur soup untuk Al dan ayam goreng, pertama Jose menyiangi kangkung, mengupas wortel, dan kentang.


Setelah bahan selesai Jose kupas, di potong dan di cuci bersih, Jose mengupas bawang putih dan bawang merah.


Awalnya mengupas bawang putih aman-aman saja, setelah mengupas bawang merah mata Jose perih dan mengeluarkan air mata.


"Kenapa yah.....kok nangis?" .


"Ini ngupas bawang merah kok aku jadi nangis ya....perih banget mataku?".


"Awas....jangan di kucek matanya nanti tambah perih".


Fatia berdiri menggunakan tongkat kruk nya mendekati Jose dan mencuci tangan dan wajah Jose di wastefel samping kompor.


Yosi baru datang dan mendekati Jose dan Fatia di dapur dan melihat Jose menangis.


"Mas ngapain nangis?.....lagi kelahi sama mbak Fat?".


"Enak .... aja...tuuuh lagi ngupas bawang merah" celoteh Jose sambil melempar lap ke Yosi.


Yosi tertawa lepas melihat masnya mau mengupas bawang merah, padahal seumur hidup tidak pernah melihat Jose ke dapur.


"Dasar mas bule.......cemen..... ngupas bawang sekecil itu aja nangis apalagi bawang Bombay yang besar... mungkin mas bule cemen satu ini meraung-raung " ledek Yosi.


Jose mengejar Yosi dengan cepat, sedangkan Yosi memutari meja makan untuk menghindari kejaran Jose.


"Sudah... jangan bercanda terus, Yosi bantu mbak Fat masak sini ".


Akhirnya Jose tidak jadi membantu memasak karena insiden bawang merah, Fatia juga tidak boleh memasak juga, Yosi yang melanjutkan memasak semuanya.


Selesai memasak semua menu makanan Yosi memanggil Jose, Fatia dan Al untuk makan bersama di meja makan dengan lahap, terutama Al karena makanan favoritnya adalah sayur soup dan ayam goreng.


Tetapi Fatia tetap menyantap makanan kesukaannya yang rasanya pedas, yaitu cah kangkung dengan level yang sangat pedas.


Walaupun peluh keluar dari kening dan pipinya Fatia tetap menyantapnya dengan lahap.


"Bun....makannya sampai keringatan begini, apa tidak kepedesan sampai merah begitu bibirnya?"

__ADS_1


Jose mengusap pipi dan keningnya menggunakan tisu dengan lembut.


"Pedas sih yah....tetapi enak dan mantap, aku suka".


__ADS_2