
Fatia marah marah karena Jose salah membuat kan susunya,
"Sana jauh.... dari pagi bikin aku marah terus" gerutu Fatia.
"Mas jahat... tidak sayang lagi..... sana jauh" Fatia mengulang lagi marahnya.
"Maaf, mas yang salah sayang jangan marah lagi ya..... ya ....ya?" rayu Jose
"Jangan tidur sama aku, mas tidur di luar aja" ucap Fatia lagi.
"Sayang..... sayang... jangan begitu dong, mas buatkan lagi deh susunya" Jose berharap.
"Tidak aku sudah tidak ingin minum susu lagi" jawab Fatia ketus.
"Terus maunya apa?" tanya Jose penasaran.
"Aku maunya kapal selam" jawab Fatia singkat.
"Sayang buat apa kapal selam, sudah tidak ada yang perang lagi?" jawab Jose dengan hati heran.
"Naaaah kan mulai lagi, empek-empek Palembang yang kapal selam" gerutu Fatia lagi.
"Ooooo maaf kalau sayangku lagi marah marah mas jadi bingung, tidak bisa mikir, ya sudah mas beli dulu" kata Jose sambil keluar kamar.
Dibawah ada ibu Diniya yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi.
"Mau kemana Se?" tanya ibu Diniya.
"Mau cari kapal selam Bu" jawab Jose singkat.
"Kenapa mau keluar cuma pakai kaos dalam dan celana pendek?" tanya ibu Diniya heran.
"Astaghfirullah, lupa Bu, dompetnya juga lupa he ....he ....he" jawab Jose sambil berbalik badan kembali ke kamar.
"Sayang.... dompet mas ketinggalan dan lupa ganti baju juga" ucap Jose sambil tersenyum.
"Mulai lagi kan, mas tidak niat ya......?" protes Fatia.
"Sabar ya.... ini mas mau berangkat cepat kok, ini sudah selesai ganti baju dan sekarang ambil dompet, mas berangkat ya, muaaah" kata Jose sambil mencium bibir Fatia singkat.
Jose berlari kecil kembali keluar kamar dan menuruni tangga kemudian di garasi mobil.
"Waduh....... kunci mobilnya ketinggalan" kata Jose sambil menepuk dahinya.
"Alamat di marahi lagi nich" Jose menggerutu.
Akhirnya Jose melihat mobil Ardi terparkir di garasinya, berlari ke arah rumah Ardi .
"Ardi........ Ardi.... pinjam mobil sebentar, mau cari kapal selam" kata Jose cepat.
"Mobil mu kenapa bos, ngapain beli kapal?" tanya Ardi.
__ADS_1
"Kunci ku ketinggalan di atas, malas mau balik lagi, empek-empek kapal selam bukan kapal" keterangan Jose.
"Oooooo permintaan bumil ya, nich kuncinya" jawab Ardi.
"Yang enak di mana beli kapal selam Ardi?" tanya Jose lagi.
"Ada di samping kampusnya Yosi yang enak, nama tokonya empek-empek UNI" ucap Ardi.
Joss langsung berangkat menuju ke tempat yang di tunjukkan Ardi dengan semangat, ternyata jalanan macet, hampir satu jam baru tiba di tempat.
Sampai di toko itu ternyata sangat antri, banyak sekali yang ngantri membeli empek-empek Palembang itu.
Jose terpaksa ikut ngantri, padahal seumur hidupnya dia tidak pernah melakukan itu, biasanya tinggal perintah semua sudah tersaji di depannya.
Saat Jose ngantri hampir sampai dua antrian di depan nya ada seorang paruh baya yang mengantri tidak asing menurut pandangan matanya.
Postur tubuh laki laki paruh baya itu seperti pernah dia lihat, dan saat di melihat ada tanda lahir di belakang telinga sebelah kiri, Jose langsung mengingat peristiwa Delapan belas tahun yang lalu.
Keringat dingin keluar dari tubuhnya, seolah-olah kakinya berat untuk melangkah, Jose mengeluarkan handphonenya dan mencoba mengambil gambarnya dengan sisa sisa tenaganya.
"Cekrek....... cekrek...... cekrek"
Jose mengambil gambarnya dengan diam diam, sampai Jose di deretan depan dan di panggil pelayan toko empek-empek itu.
"Pak..... pak pesan yang mana?" tanya pelayanan toko itu.
"Yang kapal selam dua dan campur dua juga" jawab Jose kaget.
Setelah sampai parkiran rumah Ardi Jose lari ke rumah dan naik tangga dan membuka pintu.
"Ceklek......"
"Yang.........sayang.... tolong mas ... tolong" ucap Jose lirih dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Fatia yang awalnya duduk di bangku panjang langsung menghampiri Jose yang sudah lemas.
Yang seharusnya Fatia mau marah karena terlalu lama membelikan apa yang dia mau, akhirnya tidak jadi marah setelah melihat keadaan Jose yang lemas dan panas dingin.
"Mas kenapa, apakah mas habis muntah muntah lagi?" tanya Fatia cemas.
"Sayang sini sebentar tolong dekat dengan mas, tolong peluk mas sebentar" ucap Jose gemetar.
Fatia langsung mendekap erat Jose, badannya awalnya gemetar dan panas dingin setelah mendapat dekapan hangat dari Fatia kemudian berangsur-angsur pulih.
Setelah sekitar satu jam Jose mulai pulih, badannya mulai normal dan suhu tubuhnya stabil.
"Maaf jadi dingin empek-empek nya" kata Jose pelan.
"Aku sudah tidak pingin makan itu lagi, mas tadi kenapa?" tanya Fatia penasaran.
Kemudian Jose menceritakan tentang pertemuan dengan laki laki paruh baya yang mempunyai tanda lahir di belakang telinga sebelah kiri.
__ADS_1
"Coba foto nya dikirim ke mas Syaiful saja mas, siapa tahu bisa membantu melacak orang itu" saran Fatia.
"Ya nanti aja, mas mau mandi dulu, ayo temenin mandi nya ya ya ya" rayu Jose.
"Aku sudah mandi mas, nanti kalau masuk angin gimana kalau mandi lagi?" protes Fatia.
"Baiklah mas mandi sendiri saja, mas tidak mau sayangku jadi sakit" kata Jose sambil jalan menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi Jose mengajak Fatia ke rumah Syaiful, mereka menghubunginya terlebih dahulu sebelum kesana.
Jam lima sore akhirnya Jose dan Fatia di rumah Syaiful.
Ternyata Syaiful sedang sendiri, anak dan istrinya sedang di rumah neneknya karena ada acara.
Jose mengirim foto yang tadi siang di ambilnya di toko mpek-mpek tadi.
"Tolong selidiki orang yang tak kirim di wa handphone mu?" perintah Jose.
"Siapa dia?" tanya Syaiful singkat.
"Kemungkinan besar orang yang merampok di rumahku delapan belas tahun yang lalu" jawab Jose lagi.
"Berarti kemungkinan ayah kandungnya Yosi?" tanya Syaiful pemasaran.
Jose hanya menganggukkan kepalanya dengan pertanyaan yang diajukan oleh Syaiful.
Menjelang magrib Jose dan Fatia pulang kerumahnya, tetapi karena sudah azan magrib di jalan akhirnya Jose mampir di masjid.
Mereka mampir di Islamic center sholat Maghrib dan makan bakso seperti waktu dulu.
Jose sudah merasa tenang setelah melaksanakan kewajiban sholat Maghribnya.
"Yang sabar ya mas, jangan terlalu emosi, biar pikiran mas tentang" nasehat Fatia.
"Iya sayang.... terimakasih" ucap Jose singkat.
"Ingat sekarang kita juga akan punya anak mas, jangan di gedein emosinya" titah Fatia.
"Iya iya sayang sudah jangan kau ulangi lagi tentang tadi pagi, mas jadi malu" pinta Jose sambil mengusap perut Fatia yang masih rata.
______________________
Jangan lupa baca novel ku yang lain ya
judulnya
Dia Adikku Bukan Anakku
trims jangan lupa like vote dan
komentar juga
__ADS_1