Ikat Pinggang Cinta

Ikat Pinggang Cinta
Bab 43 Pelurunya Tembus ke Jantung


__ADS_3

Jose masih diam membisu dengan pertanyaan dari adik tercintanya itu, Yosi yang tidak sabaran menunggu jawaban semakin menggoncangkan badan Jose.


"Bos ayo dia masih hidup, kita bawa ke rumah sakit" kata Ardi panik.


Jose terselamatkan oleh panggilan Ardi, karena tidak bisa menjawab pertanyaan Yosi, kemudian Jose menarik tangan Yosi untuk ikut ke mobil dan mengikuti mobil ambulance yang membawa Purnomo.


Semua rombongan beriringan mengikuti mobil ambulance yang membawa Purnomo ke rumah sakit.


Jose hanya memeluk Yosi yang cemas dan terkadang membelai rambutnya agar bisa tentang.


Ardi menghubungi Danny bahwa dia sudah hampir sampai di UGD rumah sakit, Danny berlari dari ruangnya menuju ke lobi UGD mencari arah datangnya mobil.


karena adanya kepanikan Danny membuat dokter lain dan suster yang ada disekitar heran.


"Ada apa dok, kok lari-lari?" tanya salah satu suster itu.


Danny tetap berlari kecil tanpa menjawab pertanyaan suster yang bingung itu.


Suara ambulance akhirnya muncul di depan lobi UGD, langsung petugas mendorong brankar tempat tidur untuk membawa Purnomo ke dalam ruangan itu.


Tubuh Purnomo sudah dingin, mata terpejam, banyak kehilangan darah, kaki pun terlihat membengkak karena terkena kayu tajam tadi.


Jose sebelum turun dari mobil, membuka jas nya dan memakaikannya kepada Yosi, Yosi hanya tersenyum dan mengikuti memakai jas Jose.


Semua ikut berlari menuju lobi UGD, Danny langsung mendekati Yosi.


"Are you ok, Yosi" tanya Danny cemas.


Yosi hanya menjawab dengan anggukan kecil saja tanpa bersuara sepatah katapun.


Purnomo di bawa ke ruang UGD dan diperiksa dengan cepat.


Kemudian brankar tempat tidur yang membawa Purnomo di dorong lagi menuju ruang operasi.


"Harus dioperasi sekarang untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di dadanya" kata Danny kepada Jose.


"Ok,..... sebaiknya kalian pulang dulu, kasihan istri dan ibu Diniya cemas menunggu" saran Ardi kepada bosnya.


"Tetapi mas.... " protes Yosi.


"Ayolah nanti kita kesini lagi bersihkan badanmu dulu dan ganti baju" perintah Jose kepada adiknya.


Jose pulang kerumah bersama Yosi bersama pengawalnya.


Di rumah Fatia dan ibu Diniya menunggu dengan cemas, untungnya baby Al tidak rewel dan tertidur pulas di box bayinya.

__ADS_1


Sesampainya di rumah ibu Diniya langsung memeluk putrinya dengan erat, Yosi pun langsung menangis dalam pelukannya.


'Bu.. Bu,. bisa tolong jelaskan siapa Purnomo itu" Yosi langsung menyerang dengan pertanyaan.


Ini Diniya langsung terhuyung ke belakang sambil menatap Yosi karena kagetnya, Jose hanya mematung dengan tatapan tajam kepada ibunya.


Kemudian Fatia mendekati mereka bertiga dengan lembut.


"Ayo kita duduk dulu, kita musyawarahkan biar tidak terjadi kesalahpahaman" saran Fatia dengan sabar.


Karena baby Al menangis, Fatia meninggalkan keluarganya itu langsung lari kecil ke lantai atas menuju kamar baby Al.


"Darimana kamu tahu tentang Purnomo?" tanya ibu Diniya kemudian setelah mereka duduk dengan tenang.


Yosi menceritakan tentang pertemuannya dengan Purnomo dari awal masuk kampus sampai saat Purnomo tertembak.


Ibu Diniya hanya menangis mendengar cerita tentang Purnomo dari Yosi.


"Sudahlah Yosi mandi aja dulu, dan istirahat sebentar, nanti kita ke rumah sakit lagi, langsung tanyakan ke orangnya sendiri" jawab Jose.


Yosi berjalan gontai ke kamarnya, ibu Diniya terus menangis, seperti baru mengalami peristiwa itu kembali, bayangan peristiwa itu sangat membuat hatinya sakit dan tidak berdaya.


Jose hanya menghibur ibunya dengan mengusap punggung dan memeluknya dengan erat.


Ibu Diniya masuk kamar dan berbaring dengan lemah, menyelimuti seluruh tubuhnya sampai leher.


Jose kemudian berlari kecil naik ke lantai dua untuk menemui istrinya dan putra tercintanya.


"Sayang.... bunda......" panggil Jose dan membuka pintu kamar.


'Ya....yah, bagaimana ibu dan Yosi sudah tenangkah?" tanya Fatia cemas.


"Alhamdulillah sudah, baby Al bagaimana sudah tidur?" tanya jose pagi.


Fatia mengangguk saja, kemudian Jose berbaring sebentar mengistirahatkan tubuh dan fikirannya untuk mempersiapkan diri bercerita tentang Purnomo ke adiknya Yosi.


"Yang.... sini sebentar, tolong peluk dulu sini" pinta Jose.


Jika Jose agak tertekan, asalkan di dekap oleh istri tercintanya langsung tenang, emosi juga langsung stabil, memang cinta dan dekapan Fatia sudah menjadi candu baginya.


setelah dua jam istirahat Jose terbangun badan sudah segar, mandi dan turun kebawah menuju ruang keluarga.


Di ruang keluarga sudah duduk menunggu Yosi dan ibu Diniya yang sedang membelai putri kesayangannya.


Jose dan di ikuti Fatia yang sedang menggendong baby Al duduk berhadapan dengan mereka.

__ADS_1


Baru Jose menceritakan semua tentang kejadian perampokan dan kejadian yang menimpa ibunya itu. Yosi hanya menangis tersedu-sedu mendengarkan cerita itu.


Ibu berpesan kepada Yosi tidak boleh mempunyai dendam kepada siapapun agar hidup menjadi lebih baik.


Fatia hanya bisa memberi dukungan dan perhatian dengan memeluknya dengan erat.


"Kita semua sangat menyayangi Yosi, jangan merasa rendah sedikitpun, kita adalah keluarga harus saling mendukung" nasehat Fatia kepada Yosi.


Baru saja ada telpon dari Ardi bahwa operasi nya Purnomo sudah selesai, tetapi kemudian Purnomo di pindahkan ke ruang ICU karena belum sadar dari komanya.


Ternyata peluru yang menembus dadanya itu langsung mengenai jantungnya, sehingga kata Danny kemungkinan sembuhnya hanya 30% saja.


Mendengar cerita itu Yosi dan ibu Diniya cuma hanya bisa menangis dan berdoa semoga semua di berikan keselamatan.


Sudah dua hari ini Purnomo di rawat di ruang ICU, Yosi tidak berani menengok ke rumah sakit, hatinya masih terasa sakit, belum begitu bisa menerima kenyataan bahwa Yosi adalah anak hasil dari perbuatan jahat ayah kandungnya.


Pihak kepolisian juga sudah menindak lanjuti laporan tentang tertembaknya si shadow dan seluruh anak buahnya.


Pada hari ke lima akhirnya Purnomo sadar dari komanya, dan di pindahkan di ruang rawat inap.


Danny menghubungi Jose tentang kabar itu, kemudian juga mengabari teman dekat Purnomo yaitu Anwar dan putranya Irul.


Anwar dan Irul langsung menuju rumah sakit setelah mendapat kan kabar bahwa Purnomo ada disana.


Sudah beberapa hari ini keluarga Anwar mencari keberadaan Purnomo, dan tidak tahu berada dimana.


Saat Anwar dan Irul masuk ruangan rawat inap itu melihat Purnomo terbaring lemah di atas brankar tempat tidur nya.


"Apa yang terjadi, mengapa tidak menghubungi kami saat ada di sini?" tanya Anwar khawatir.


"Maaf aku baru saja sadar dari koma" jawab Purnomo singkat.


Kemudian Purnomo menceritakan kejadian beberapa hari lalu, dan tentang Yosi Kurniawan kepada Irul.


"Nak.... bolehkah tolong hubungi Yosi, paman ingin bertemu sekali saja, paman ingin minta maaf" permohonan Purnomo kepada Irul.


___________________


Yosi bisa memaafkan nya kah


tapi tunggu dulu ya....


jangan lupa like vote dan komentar nya


terima kasih

__ADS_1


__ADS_2