Ikat Pinggang Cinta

Ikat Pinggang Cinta
Bab 84 Pantai Ria Kenjeran


__ADS_3

Besok pagi rencananya Dedy Mark, Jaseline, Banu Winarno beserta Emely akan berangkat ke Manhattan.


Hari ini semua keluarga jalan jalan ke pantai atas permintaan Mark, kebetulan juga hari ini juga hari Minggu.


Jose memilih mengunjungi pantai Ria Kenjeran yang jaraknya sekitar 9 kilometer dari pusat kota Surabaya.


Pukul tujuh pagi semua sudah siap untuk berangkat agar tidak terlalu panjang sampai di pantai.



Menggunakan dua mobil mereka berangkat menuju pantai ria Kenjeran dalam waktu satu jam sudah sampai tujuan.


Anak-anak bermain dengan gembira, setiap ombak datang Al akan berlari mengejar ombak itu sambil tertawa riang.


Saat Dina duduk di pasir ada ombak datang sehingga menggoyangkan badan Dina ke kanan dan kiri, Dina juga tertawa dengan renyahnya.


Apalagi Emely rupanya gadis kecil itu sangat menyukai lembutnya pasir, duduk meluruskan kakinya dan menimbun kakinya sendiri dengan pasir membuat hatinya sangat senang dan tertawa riang.


Fatia dan Jose ikut mengawasi mereka sambil tersenyum melihat tingkah mereka yang lucu.


Ada kepiting berjalan di pasir dengan cepat Al langsung mengejarnya.


"Yayah..... Yayah.... Al mau tuhhhh'.


Jose menangkap kepiting kecil itu dan memberikannya kepada Al pelan pelan, dibukanya tangan Jose kepiting itu anteng di telapak tangannya.


"Apa... Yayah...".


"Namanya kepiting sayang....". ucap Jose.


"Kiting..... kiting....iiiih... deyi....deyi".


"Bunbun ....tini....kiting....".


Fatia tersenyum melihat tingkah Al yang loncat loncat melihat kepiting kecil itu tetapi geli dan tidak berani memegangnya


"Biar pulang ya kepitingnya....dilepas kasihan?" usap Fatia memberikan usul.


"Ya....ya... puyang....kiting .... dadaaaaa"


Kepiting itu berlari sampai masuk ke dalam ombak Al mengikutinya sampai menghilang ke dalam air laut.


Joss dan Fatia membuat istana pasir dengan mengajak anak-anak untuk membantunya, saat istana pasir itu sudah selesai tersapu ombak yang datang dengan bergemuruh sehingga istananya hancur.


"Yaaaaah....... lutak....tapek....tapek"


Dina marah karena istana rusak, dan mereka melanjutkan dengan main mendekati ombak kembali.


Udara terasa panas saat menjelang siang, keluarga menghentikan kegiatannya dan mandi di kamar mandi sebuah restauran yang ada di area pantai itu.

__ADS_1


Semua keluarga sekalian memesan makan siang dengan menu seafood dengan suana lesehan di tikar.


Selesai makan siang dan beristirahat sejenak menunggu azan Zuhur dan sholat di mushola restauran itu, mereka melanjutkan lagi menikmati destinasi wisata di sekitar pantai.


Mereka berjalan jalan di daerah pantai yang menyediakan tempat spot foto yang sangat indah, mereka mengambil foto foto yang sangat indah.


Karena anak-anak sudah capek dan mengantuk mereka memutuskan pulang ke rumah dan beristirahat.


Di malam hari setelah makan malam di teras rumah keluarga bercengkerama dengan akrabnya, walaupun terkadang saling meledek tetapi tetap saja selalu akrab.


"Bun..... nanti kalau Dedy pulang ke Manhattan, rumah mungkin agak sepi".


"Iya mungkin akan jadi sepi, apalagi kalau Yosi kuliah, Yayah kerja dan di rumah cuma berdua".


"Atau kita buat satu lagi Bun..., cetak satu lagi gitu.....?


"Bukannya setiap hari maunya itu terus?".


"Bunbun sih..... dihambat...tidak jadi jadi akhirnya".


"Al masih kecil... cetak aja dulu, tidak usah di jadikan"


"Cetaknya sampai jadi gitu lho Bun, kalau perlu rela lembur terus mau"


"Mas..... ngomongin apa sih ....kok di cetak di cetak?" Protes Yosi mendengar Jose berbicara tidak jelas.


"Enak aja...... Yosi sudah mau nikah sebentar lagi... di bilang anak kecil".


"Memang anak kecil bucin" ledek Jose.


"Yosi tidak bucin, mas bule tuuuuh yang bucin"


Jika Jose dan Yosi berkumpul sering bercanda tetapi terkadang tidak ada yang mau mengalah, Ardi akhirnya ikut nimbrung juga.


"Kenapa to Yos, kok sewot?" tanya Ardi.


"Itu mas Jose tidak jelas, bilang Yosi anak kecil yang bucin, sendirinya bule bucin"


"Memang...." Jawab Jose singkat.


"Eee mas Ardi sama juga sih kalau sudah nempel mbak Rina kayak prangko yang susah di lepaskan dari kertas suratnya" jelas Yosi lagi.


"Aku tidak ikut ikut, jangan bawa namaku" jawab Rina yang mendengar ocehan Yosi.


"Memangnya apa sih mbak Fat yang mau dicetak?" tanya Yosi penasaran.


"Tanya aja sama mas mu sendiri, mbak Fat juga bingung" jawab Fatia sekenanya.


"Apa mas Jose?" tanya Yosi lagi.

__ADS_1


"Rahasia...... jangan tanya terus, nanti aja kalau kamu sudah nikah dan mengakui kalau kamu juga bucin baru aku jawab". kata Jose sambil tersenyum melirik Fatia.


Jose bergeser pelan pelan ke arah Fatia dan meletakkan dagunya di pundaknya dan berbisik di telinganya.


"Bun..... dianya jadi bangun... ayo masuk kita cetak sekarang".


Fatia tidak menjawab tetapi malah mencubit pinggang Jose dengan keras.


"Auch.....auch.....auch sakit Bun"


Jose malah menempelkan bagian bawah badan Jose di badan bagian belakang Fatia, ada yang keras disana, Fatia sampai memandangi Jose dengan melotot.


Fatia takut Jose tidak bisa mengendalikan hasratnya, kemudian berdiri masuk rumah dengan beralasan ingin melihat Al yang sedang tidur sendiri di kamar.


"Bun... tunggu aku juga mau ke kamar mandi" Jose ikut masuk rumah dan mengikuti Fatia naik ke lantai dua masuk kamarnya.


Karena Jose dan Fatia masuk rumah dan juga sudah malam semua membubarkan diri masuk kamar masing-masing untuk istirahat.


Sampai di dalam kamar Jose mencari Fatia, tetapi tidak ada, mencari di kamar Al juga tidak ada, kembali ke kamar lagi ternyata ada suara gemercik air dari dalam kamar mandi.


Jose merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil bermain handphone menunggu Fatia keluar dari kamar mandi.


Hampir setengah jam Jose menunggu, tetapi Fatia belum keluar juga dari kamar mandi, Jose bangun dari tempat tidurnya dan meletakkan handphone di meja rias, saat ingin mendekati kamar mandi, pintu kamar mandi terbuka dengan pelan.


"Kenapa lama betul Bun, di kamar mandi aja".


"Sakit perut....BAB jadi agak lama, kenapa lapar kah?".


"Ya.....tapi pingin makan Bunbun"


Jose menarik Fatia memeluk pinggang dan mulai mencium bibirnya dengan lembut dan lama.


"Bun.... cetakan hari ini kalau bisa di jadikan ya....".. Jose pindah mencium leher dan turun menaiki gunung kembarnya bergantian.


"Mana bisa langsung jadi aku masih pakai IUD selama satu tahun kedepan baru bisa di buka" gantian Fatia menciumi leher Jose dan dada bidang Jose.


"Bun.... sekarang kau semakin pintar ayo lanjut...".


Jose melanjutkan gerilya, mengimbangi desahan kecil Fatia semakin membuat Jose menuntut lebih, dengan mengulum bibirnya mendaki gunung kembarnya, berhenti sejenak di puncaknya, turun kembali mendatangi pusat di mana kenikmatan dunia itu berada.


Sampai dengan penyatuan keduanya membuat mereka seperti melayang sampai langit ke tujuh, membuat Jose sangat bahagia hidup bersama istri dan putranya tercintanya.


________________


Jangan lupa like vote dan komentar nya ya


satu lagi novel ku yang up ......


baca juga " DIA ADIKKU BUKAN ANAKKU"

__ADS_1


__ADS_2