
"Hallo every body" Triana tersenyum ramah melihat kami datang terutama kepada Mark.
Tetapi Fatia kesal, melihat istrinya cemberut Jose yang sedang menggendong Al yang tertidur di pundaknya langsung memeluk Fatia dengan satu tangannya.
Jose dan Fatia masuk rumah dan tanpa menjawab sapaan Triana, Mark saja yang menjawab sapaan Triana.
"Halo.... kamu temannya Jose yang model itu ya".
"Iya.... Om... saya kebetulan ada job di Manhattan jadi mampir boleh kan?".
"Ooooo dengan senang hati, silahkan masuk dan duduk dulu".
Mark meninggalkan Triana di kamar tamu, memerintahkan pembantu rumah tangga untuk membuatkan minum, dan berlari ke kamar Jose dan Imma.
"My Son what happen, mengapa tidak di temui temanmu itu?".
Jose duduk di samping Mark dan menceritakan sekilas tentang sepak terjang Triana saat dulu waktu kuliah.
Mark memahami apa situasinya, tidak ingin menantunya marah dan cemburu Mark melarang Jose menemui Triana, Mark lah yang akan menemuinya.
"Sorry Triana, agak lama dan juga maaf Jose sedang istirahat, apa ada pesan nanti saya sampaikan?".
"Tidak Om.... aku hanya mampir saja kok, nanti lain kali saja siapa tau bisa ngobrol dengan Jose, terima kasih atas minum nya, saya pamit dulu, lain waktu saya akan mampir lagi".
Triana pamit masih tersenyum di hadapan Mark, tetapi setelah di depan rumah kakinya di hentakan di tanah tanda hatinya sangat kesal dan marah karena di tolak lagi oleh Jose.
Hatinya tidak terima dengan penolakan itu, Triana semakin ingin mendekati Jose.
"Seandainya tidak bisa mendekati Jose bapaknya pun tidak masalah yang penting aku bisa menghilangkan rasa sakit hatiku" gumam Triana dalam hati.
Triana meninggalkan rumah Mark dengan kesal menaiki taksi online ke hotel dimana dia menginap.
Triana menginap di hotel itu selama dua Minggu, sebenarnya job modeling hanya berlangsung selama tiga hari, selebihnya hanya ide sendiri untuk melakukan reservasi hotel selama dua Minggu.
Alasan itu karena Triana ingin berlibur di Manhattan, padahal Triana sengaja mengejar Jose setelah mendengar kabar dari temannya Merry bahwa Jose pergi bersama Dedy nya karena bisnis.
Tetapi Triana tidak menyangka bahwa istri Jose juga ikut ke Manhattan mendampinginya juga.
Semakin sulit Triana mendekati Jose untuk balas dendam, tetapi sekarang Triana bertekad ingin mendekati Mark terlebih dahulu entah itu merayunya sebagai kekasih atau sebagai apapun akan di lakukannya.
Benar saja saat Jose berangkat kerja, dan Mark bertemu dengan orang kepercayaannya Hasson di sebuah Kafe terkenal di Manhattan, Triana mengikutinya sampai kafe itu.
Triana menunggu selama setengah jam baru masuk ke kafe itu, pura-pura bertemu dengan Mark tanpa sengaja.
__ADS_1
"Halo Om Mark, bertemu lagi disini, boleh saya bergabung?".
"OOO silahkan duduk". Mark menjawab singkat.
Triana langsung duduk dengan posisi kaki berada di samping dan terlihat belahan rok yang panjang sehingga terlihat jelas siluet kaki jenjangnya yang mulus.
Setelah mereka menikmati makanannya dalam diam selesai Hasson berpamitan karena banyak pekerjaan di kantor.
"Om jangan pulang dulu please..., temani aku sebentar".
"Baiklah... mau pesan apa lagi?".
"Aku ingin minum sebentar".
Triana memesan wine dua botol, untuk di tawarkan kepada Mark satu botol, bagi penduduk Amerika minum alkohol adalah hal biasa karena sesuai dengan cuaca disana.
Hanya satu botol tidak membuat Mark mabuk, beda lagi dengan Triana yang notabene orang Indonesia yang jarang sekali minum alkohol.
Triana mabuk saat itu dan mulutnya mengeluarkan semua isi hatinya tanpa kecuali, sehingga Mark tanpa sengaja mengetahui rencana Triana.
"Om.... Om... aku ingin jadi pacarmu saja hi...hi...ha...ha jika Jose masih menolakku, ayo... lah Ommm".
Rancuan Triana dalam keadaan mabuk berat, Mark bingung harus bagaimana, Mark meraih tas Triana dan mencoba mencari sesuatu yang bisa di pakai untuk mencari informasi tentang dimana Triana menginap.
Sebagai laki laki Mark sempat tergoda dengan rancuan Triana, dan juga kehidupan bebas yang dilakukan Mark selama ini, ingin sekali bermalam dengan Triana di hotel.
Tetapi selama hampir ada Fatia dan Jose yang menjalani hidup dengan satu pasangan dan tidak bergonta ganti pasangan membuat Mark mengurungkan niatnya.
Mark sudah ingin melakukan hidup sehat baik lahir maupun batin karena umur yang semakin menua dan keinginannya kembali ke ibu Diniya.
Sesampainya di hotel Mark meminta petunjuk hotel untuk mengantarkan Triana masuk ke kamar hotel agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.
Mark langsung pulang ke rumah menemui Fatia dan menceritakan tentang pertemuannya dengan Triana tadi,
"Ded.... untuk sementara jangan ceritakan ini kepada suamiku ya..."
"kenapa begitu anakku?".
"Kita atasi dulu saja sendiri biar Jose konsentrasi dengan permasalahan perusahaan"
"Sebetulnya tadi Dedy hampir tergoda, karena ingat dengan kehidupan yang harmonis kalian jalani, Dedy ingin seperti kalian, hidup tenang dengan satu pasangan saja".
"Apakah Dedy masih mencintai ibu?"
__ADS_1
"Tentu saja anakku, tetapi sepertinya ibumu tidak bisa menerima Dedy lagi".
"Ibu mempunyai banyak pertimbangan Ded..... salah satunya tentang keyakinan agama".
"Sebetulnya Dedy sudah memperhatikan saat kau beribadah, bisakah bantu Dedy meyakinkan tentang ini, Dedy ingin mempelajari tentang agama yang kau anut".
"Baiklah saya akan bantu Dedy, tetapi dengan satu syarat".
"Apa itu Anakku?".
"Jangan jadikan ini sebagai alasan untuk mendapatkan hati ibu, agama adalah keyakinan yang tidak bisa ditawar, kerena menyangkut hubungan diri sendiri dengan Tuhan pencipta alam".
"Baik anakku, ini merupakan tekat hati yang kuat, jika bonusnya ibumu kembali padaku itu keberuntungan menjadi berlipat ganda.
Fatia tersenyum mendengar jawaban Mark yang berterus terang dengan perasaannya.
Jose datang menghampiri Mark dan Fatia saat sudah pulang dari tempat kerjanya.
"Sayang.... aku sudah pulang"
"Baiklah kalian istirahat sana, Dedy juga mau istirahat juga ok" ucap Mark sambil menuju ke kamar nya.
"Capek bangetkah yah kok kusut begitu?".
"Capek sih tapi sudah ada obatnya di sini".
Jose langsung memeluk Fatia dan mencium bibir nya dengan rakus, dengan tangan kiri masih memegang tas kerjanya.
"Mandi dulu sana bau, baru datang sudah mulai mesum"
Fatia mendorong Jose dengan pelan dan membantu membukakan dasi, meletakkan di keranjang baju kotor, meletakkan tas kerjanya di ruang kerja, dan membukakan jas dengan perlahan.
"Sayang.... kenapa tidak baju dan celananya sekalian di bukakan?".
"jangan mulai lagi deh aaaaahhh, genit banget sih, mandi dulu bau bunda tidak mau".
"Baiklah mandi dulu atau temani mandi aja yok".
"Bunda sudah mandi, sana cepat mandi sana".
"Baiklah....tapi nanti bersambung ya....., eeee tapi sini dulu nyicil dulu"
Jose mencium bibir Fatia lagi dengan rakus, karena di dorong oleh Fatia Jose langsung berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
"Tunggu ya... nanti bersambung lagi yaaaa".