
Ardi hampir satu Minggu ini di sibukkan oleh penerimaan karyawan baru, yang di butuhkan sekitar dua puluh orang, tetapi yang melamar hampir tiga ratus orang.
Awalnya di seleksi oleh bagian administrasi, tentang syarat awal, dilanjutkan lagi tes tertulis dari tahap kedua ini calon karyawan tinggal setengahnya saja.
Di lanjutkan dengan diadakan tes wawancara, dalam wawancara Ardi belum terjun langsung, hanya mengawasinya dengan seksama wawancara itu.
Ada satu yang menjadi perhatian lebih saat terjadi wawancara itu, melihat wajah pemuda yang tidak begitu asing, tetapi dimana Ardi bertemu atau mengenalnya itu yang dia
lupa.
Karena penasaran Ardi membaca dokumen surat lamaran pemuda itu ternyata bernama
Geri, yang masih kuliah di semester akhir jurusan ekonomi bisnis.
Ardi mengerutkan keningnya membaca nama kedua orangtuanya, membuka handphone mencari aplikasi ada yang ingin di carinya, ternyata betul kecurigaan Ardi bahwa dia adalah adik kandung dari Triana.
Temuan itu kemudian di laporkan kepada Jose dengan segera.
"Bos... coba lihat, ada salah satu pelamar yang harus diselidiki lebih lanjut".
"Dia siapa sih....?"
Jose membolak-balik kertas surat lamaran itu dengan seksama .
"Dia perasaan tidak asing siapa dia?" tanya Jose penasaran.
"Adiknya Triana sepertinya dia, aku cocokkan nama orang tua Geri nama orang tua Triana sama"
"Apakah memenuhi syarat bisa diterima kerja disini?" tanya Jose lagi.
"Tidak sih sepertinya, dia masih kuliah, belum lulus, satu angkatan dengan Irul dia, tinggal sekripsi sepertinya".
"Tidak usah di terima, berikan alasan mencari yang sudah berpengalaman".
"Tetapi jika di lihat dia termasuk lumayan pintar di kampusnya".
"Tidak.....tolak saja, aku tidak mau kedepannya terjadi hal yang tidak di inginkan".
__ADS_1
Hati Jose sudah bulat, di bilang tidak profesional tidak masalah yang penting Jose tidak mau terjadi dengan keluarga kecilnya.
Geri tidak lolos sampai tahapan wawancara karena dengan alasan belum memiliki ijazah S1 dan belum berpengalaman kerja.
Walaupun ada kekecewaan di raut wajah Geri tetapi dia harus menerimanya, mungkin suatu saat nanti bisa melamar ke perusahaan itu lagi setelah lulus kuliah.
Sampai di tahap terakhir tes yaitu tes kesehatan ada dua puluh lima calon karyawan yang memenuhi syarat hanya ada empat wanita di antara para calon karyawan itu.
Hanya saja keempat wanita itu hanya lulusan D3 dan kemungkinan tidak ada yang mengenal Jose dimasa lalu, mereka sebagian besar dari luar kota Surabaya.
Jose benar benar mengantisipasi hal-hal yang tidak ingin terjadi sesuatu kedepannya.
Hampir satu bulan ibu dan mbak Mona serta Aisyah di Surabaya, tiba-tiba hari Sabtu datang pak haji dari Ngawi sendirian dengan naik kereta api tanpa mengabari terlebih dahulu.
Dari stasiun pasar Turi pak haji naik mobil online menuju rumah Jose, didepan rumah pak haji mengetok pintu perlahan.
"Tok....tok....tok.... Assalamualaikum".
Dari dalam Yosi yang mendengar ketukan pintu itu langsung berlari dan membukanya.
"Walaikum salam..... bapak kenapa tidak menghubungi dulu kalau mau kesini?"
"Aku tidak mau merepotkan yang penting selamat sampai sini" jawab nya singkat.
"Mas......mas Jose ada bapak dari Ngawi".
Yosi yang berteriak memanggil Jose, akhirnya semua keluarga keluar menemui pak haji, dengan tergopoh-gopoh mereka mendekatinya dan mengulurkan tangannya untuk salim satu persatu bergantian.
Semua orang memarahi bapaknya mengapa tidak bilang, berbahaya pergi sendiri tanpa ada yang mendampingi, bapak hanya tersenyum tidak menjawab menjawab pertanyaan itu.
"Sudah lah jangan marahi bapak terus, bapak lapar banget nich, sudah matang belum masakannya Bu?".
"Ya... sebentar di persiapkan terlebih dahulu, kita sarapan bareng aja"
Mendengar bapaknya datang dari Ngawi, Jose menemuinya terlebih dahulu, Fatia keluar kamar ingin segera menemui bapak yang sedang sarapan, meraih tingkat kruk nya perlahan, dan keluar kamar.
Sampai tangga ada bibi yang lewat di samping tangga bawah,. mendongak ke atas.
__ADS_1
"Bu.... bisa kah turun sendiri, saya panggilkan bapaknya Al ya.....".
"Tidak usah Bik.... insyaallah bisa kok" teriak Fatia dari atas.
Jose yang mendengar percakapan mereka langsung berlari naik tangga mendekati Fatia.
"Sayang.....belum mulai sarapannya sabar, ..... kenapa tidak tunggu aku jemput sih?".
"Belajar yah... jangan di manja terus, jadi kebiasaan nanti akunya".
"Aku malah yang suka kalau manjain kamu, biar kalau malam gantian di manjain" kata Jose sambil menggendong Fatia turun tangga dengan perlahan sampai ruang makan.
"Mulai lagi nich.... suamiku ngeres" kata Fatia sambil mencium pipi Jose.
Fatia turun dari gendongan di samping bapaknya dan mencium punggung tangannya.
Berulah mereka sarapan bersama dengan nikmat hanya sendok dan garpu yang berdenting sesaat, tanpa ada yang berbicara sampai selesai.
Bapak mengosongkan jadwal ceramahnya dalam seminggu kedepan hanya untuk sekedar menengok putrinya.
Akan tinggal selama satu Minggu di Surabaya bersama istri, putri dan cucunya, bercengkerama keluar dari rutinitas sehari-hari membuat pikiran menjadi rileks dan santai.
Jose juga mengajak mereka sekedar makan malam di luar, ataupun jalan pagi di car free day tugu Pahlawan, Fatia di ajak serta tetapi menggunakan kursi roda untuk sementara waktu.
Seperti pagi ini, mereka jalan jalan di car free day Tugu Pahlawan Surabaya, membeli berbagai macam oleh-oleh dari gantungan kunci, dompet, tas kecil sampai kaos bertuliskan arek-arek Suroboyo, semua Jose yang membayarnya.
Al juga tidak mau kalah, membeli mainan yang lumayan banyak dari berbagai macam jenis, tembakan, bola dan lainnya.
Aisyah banyak meminta baju cantik dan boneka Barbie kesukaannya, mobil hampir penuh dengan belanjaan, pak haji menggelengkan kepalanya dengan melihat belanjaan itu.
Setelah selesai belanja mereka sarapan di jajaran food court yang ada di deretan pinggir jalan car free day dengan lahap, banyak menu makanan di sana walaupun mereka sarapannya berbeda-beda tetapi pesanan tidak terlalu jauh dari mereka.
Sore harinya Jose membelikan baju Koko, sendal dan sarung untuk bapak mertuanya itu serta untuk ibu dan mbak Mona membelikan baju games dan mukena di mall ternama di Surabaya dalam jumlah lumayan banyak juga, saat mereka di ajak jalan jalan di mall ternama di Surabaya.
Ternyata bapak datang ke Surabaya juga mendapatkan amanah dari adik kandung bapak mertuanya itu, untuk mengundang keluarga yang di Surabaya untuk menghadiri pernikahan putra pamannya yang akan di adakan dua Minggu ke depan.
Fatia juga mendapatkan kabar bahwa anaknya pak lurah yang dulu suka Fatia juga akan menikah dua hari setelah anak pamannya melangsungkan pernikahan dengan putri dari lurah desa sebelah.
__ADS_1
"Insyaallah kami hadir pak.... doakan semoga kaki Fatia sudah sehat seperti sedia kala" kata Jose saat mereka sedang ngobrol di ruang tamu malam itu.
"Aamiin ya rabbal Alamin"