
"Ada apa dengan ibu mas?" tanya Yosi khawatir.
"Maaf Jose, Yosi sepertinya ibu sudah....... Sudah....." Danny hampir tidak tega untuk memberikan kabar sedih itu.
"Sudah apa bro?" Jose bertanya lagi.
"Ibu sudah di panggil oleh Allah SWT dua jam yang lalu, maaf".
Yosi mundur dari brankar tempat tidur itu sambil menutup mulutnya, dan pingsan di tangkap oleh Mark dari belakang.
"Inna ilaihi wa innailaihi rojiun" kata Jose sambil meneteskan air matanya tanpa bisa di kendalikan.
Mark merebahkan tubuh Yosi di sofa panjang, dan di olesan minyak kayu putih oleh Danny.
"Yosi.... Yosi... Bangunlah.. kau harus kuat".
Yosi membuka matanya dan langsung memeluk Danny dan menangis sejadi jadinya.
"Kau harus kuat.... Ingat Allah lebih sayang kepada ibu, jadi ikhlaskan" nasehat Danny.
Jose menghubungi Fatia mengabarkan bahwa ibu Diniya sudah meninggal dunia, dan berpesan untuk menghubungi Ardi minta kerumah sakit sekarang.
Fatia juga langsung menelpon orang tuanya di Ngawi mengabarkan bahwa ibu Diniya telah meninggal dunia.
Danny juga tidak kalah sibuk menghubungi group teman sejati mengabarkan jika ibu Diniya telah meninggal dunia.
Lebih syok lagi Mark, dia hanya duduk menunduk membenamkan kepalanya diantara kedua lututnya sambil menangis tersedu-sedu.
Syaiful dan Ardi datang bersamaan ke rumah sakit itu menemui Jose dan Danny.
"Ardi ajak Jose dan keluarga pulang, ini aku dan Syaiful yang langsung membawa jenazah ibu" titah Danny kepada Ardi.
"Jangan biarkan Jose membawa mobil sendiri, kau harus menjaga mereka sampai di rumah, Triana sampai sekarang belum tertangkap" Syaiful berbisik di telinga Ardi.
"Ya baiklah" jawab Ardi.
"Bos ayo kita pulang, Dedy, Yosi come on, semua harus tabah".
Mereka berjalan beriringan, Jose berjalan memapah Yosi yang lemas seperti tanpa tulang, sampai parkiran mobil dan melaju ke rumah mengikuti ambulance yang membawa jenazah ibu Diniya.
Dalam perjalanan pulang Ardi menghubungi pilot helikopter untuk menjemput orang tua kandung Fatia dan walikota Ridwan yang sudah berkumpul di rumah pak Haji.
__ADS_1
Semua bergerak cepat, sebelum Isya jenazah harus sudah di makamkan, sholat jenazah di pimpin langsung oleh pak Haji sesaat setelah beliau datang.
Pukul 18.30 malam jenazah di bawa ke pemakan terdekat, Jose masuk ke liang lahat saat mayat sudah di dalam azan dan Iqamah sebagai tanda segera makam itu akan di tutup kembali oleh tanah.
Sudah tertutup rapat makam itu di beri nisan bertuliskan nama ibu Diniya, dan sebagian pelayat berpamitan.
Jose, Yosi, Mark masih duduk bersimpuh di situ seakan enggan meninggalkan ibunya.
Fatia duduk diantara Jose dan Yosi sambil menautkan tangan keduanya.
"Ayo kita pulang, habis isya bapak akan mengadakan tahlilan untuk mendoakan ibu".
Mereka berjalan pulang dengan air mata yang masih mengalir deras di pipi, seperti mimpi kehilangan ibu yang baru di peluknya tadi sore.
"Sampai tujuh hari kedepan adakan tahlilan nak" kata pak Haji kepada Jose.
"Baik... Pak" jawab Jose singkat.
"Ingat.... Jangan menyalahkan siapapun atas kejadian ini, mungkin Allah sudah menggariskan seperti ini jalannya, kau harus ikhlas"
"Insyaallah pak".
Selesai sholat isya diadakan tahlilan dipimpin oleh pak haji bapak kandung Fatia, dan di hari oleh tetangga sekitar serta semua teman sejati.
Sampai tiga hari pak haji memimpin tahlilan, karena pak haji dan ibu harus berpamitan pulang, kemudian setelahnya di pimpin oleh pak ustadz yang tinggal di kompleks perumahan Jose.
Sudah satu Minggu berlalu sejak meninggalnya ibu Diniya keluarga Jose masih tetap belum beraktivitas seperti sedia kala.
Waktu Mark di Indonesia juga seharusnya sudah berakhir satu Minggu yang lalu, karena kabar duka Mark minta waktu lagi.
Karena masalah perusahaan yang di tinggalkan masih belum stabil, sehingga terpaksa Mark harus kembali ke Manhattan USA.
"Dedy akan menyelesaikan tugas perusahaan dengan cepat, nanti Dedy akan kembali kesini".
"Ya Dedy.... Jose mengerti".
"Dedy akan melaksanakan amanah ibumu, saat sebelum pergi, dia berpesan Dedy sebaiknya tinggal di sini bersama kalian".
"Ya Dedy kami akan sangat bahagia jika Dedy mau bersama kami".
"Makanya Dedy akan menyelesaikan tugas perusahaan yang di Manhattan terlebih dahulu".
__ADS_1
"Ya Dedy kami akan menunggu".
Mark pulang ke Manhattan USA setelah berpamitan kepada seluruh keluarga, tetapi sebelum ke Manhattan Mark akan mampir sebentar ke Jakarta bertemu dengan putri, menantu dan cucu kesayangannya.
Di Jakarta Jose juga akan mencari tahu informasi tentang kasus Arnold yang hampir seminggu ini tidak di ketahui perkembangan nya.
Hari ini juga Syaiful memberikan kabar bahwa sudah tiga hari yang lalu Triana di tangkap oleh pihak kepolisian di salah satu wisata di Bali.
Sekarang Triana sudah berada di tahanan kantor polisi di daerah Jakarta barat sesuai dengan kejadian perkara.
Sedangkan kasus yang di Surabaya saat ini adik kandung Triana sedang di interogasi oleh kepolisian.
Adik kandung Triana membuktikan bahwa saat itu mobilnya di pakai oleh kakaknya, sedangkan dia berada di sebuah kafe bersama teman temannya, dan di buktikan oleh sebuah CCTV.
Hari ini kepolisian sudah mendapatkan bukti bahwa tabrakan itu di sengaja oleh Triana.
Dan kepolisian juga menetapkan Triana sebagai pelaku tunggal atas meninggalnya ibu Diniya.
"Bro.... aku serahkan saja semua kepada pihak kepolisian tentang masalah Triana" ucap Jose kepada Syaiful.
"Apakah kau tidak akan menuntut Triana".
"Kau saja bro... Aku tidak mau berurusan dengan wanita itu, jika masalah yang bersangkutan dengan ibu, semua keluargaku sudah mengikhlaskannya"
"Baiklah.... Percayakan padaku, dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya, aku jamin itu".
"Aku percaya padamu".
Jose melangkah menuju kamar lantai atas tetapi kembali berbalik kepada Syaiful.
"Satu lagi bro, jika bisa tolong jangan libatkan keluarga kami pada kasus Triana yang ada di Jakarta".
_________________________
Di Jakarta Triana duduk di pojok ruangan Terali besi tahanan Polda metro jaya, menunduk lesu, pandangan matanya kosong, menyesali perbuatannya yang menghancurkan masa depan yang telah di bangunnya dengan jatuh bangun.
Belum lagi berita terkait Triana yang menjadi tranding topik di seluruh media massa baik televisi, sosial media lainnya.
Berita seorang model cantik menusuk kekasihnya sendiri setelah selesai memadu kasih, itu judul berita yang terpampang di sana.
Triana sendiri hanya diam seribu bahasa tidak membantah dan tidak mengakui semua berita yang beredar di media itu seperti roket yang melesat tanpa bisa di hentikan.
__ADS_1
Triana hanya melamun dengan duduk di lantai bersandar di tembok pandangan mata ke langit-langit di balik terali besi, tak pernah membayangkan akan menjadi seperti ini akhirnya, semua yang di lakukan tanpa di pertimbangkan akibat yang akan terjadi seperti ini.