
Minggu terakhir sidang Triana berlangsung, banyak infotainment yang menyiarkan sekilas dari berita itu.
Divonis 15 tahun penjara dan uang denda tiga juta rupiah adalah hukuman yang di terima Triana Sekarang.
Saat keluar dari persidangan itu banyak wartawan yang ingin mewawancarai Triana tetapi dia diam seribu bahasa, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Baru awal bulan Triana akan di bawa ke Surabaya untuk persidangan tentang tabrak lari yang mengakibatkan kematian ibu Diniya.
Tetapi akhir bulan ini akan ada acara ulang tahun putri bungsu walikota Ridwan, acara akan dilaksanakan pada hari Minggu.
Fatia minta ijin kepada jose seminggu sebelum acara ulang tahun itu berangkat terlebih dahulu ingin berkunjung ke rumah orangtuanya sebelum menghadiri acara ulang tahun itu.
"Yah tidak apa-apa ya aku tinggal... Cuma satu Minggu aja kok?".
"Nanti kalau kangen kalian berdua bagaimana?".
"Bisa nyusul kami kesana"
"Kalau kangennya setiap jam harus nyusul setiap jam gitu?".
"Mana ada kangen setiap jam"
"Iya....iya.... Biar di persiapkan oleh Ardi nanti, jangan naik bus".
"Tapi besok pagi berangkatnya jangan sekarang".
"Kenapa begitu?".
"Jatah satu Minggu harus di rapel malam ini, biar tidak terlalu berat kangennya".
"Idih....mulai lagi".
Malam ini menjadi malam yang panjang bagi Fatia, harus membayar rapel kepada suaminya yang akan di tinggalkan selama seminggu, Jose tidak mau melepaskan sedikitpun berkali kali melakukan penyatuan keduanya.
Seperti tidak ada capeknya, sampai menjelang pagi Jose baru tertidur itupun sambil memeluknya.
Pagi harinyanya Fatia dan Al berangkat dengan helikopter perusahaan diantar langsung oleh Jose dari hanggar helikopter itu.
"Salam buat semua keluarga di Ngawi ya Bun".
"Iya yah....."
"Jangan bernostalgia sama anaknya pak lurah itu lho ya".
Fatin hanya tersenyum saja mendengar celotehan suaminya yang terlalu cemburu tanpa ada bukti yang yang jelas.
"Jangan berpikir macam macam, tidak lihat sekarang kita sudah punya Al".
"Bukan tidak percaya, tetapi anaknya pak lurah itu selalu mencari kesempatan kalau kita pulang ke sana"
"Sudah lah Kami tidak akan macam macam, berangkat dulu ya Assalamualaikum"
__ADS_1
Fatia dan Al mencium punggung tangan Jose bergantian.
"Walaikum salam, hati hati".
Baru satu hari tanpa anak dan istrinya seperti setahun di rumah sendiri, siang hari di sibukkan oleh pekerjaan tidak terlalu membuatnya kesepian.
Bila malam hari tidur terasa tidak nyaman, mencari posisi seperti apapun, seperti ada yang bilang separuh nyawanya, malam hari terasa sangat panjang.
Hari kedua malam itu pukul satu malam Jose memejamkan matanya tetap saja terjaga, akhirnya Jose melakukan vedio call dengan istri tercintanya.
"Sayang......... sudah tidurkah?"
"Kenapa jam segini vedio call ada yang penting?".
"Iya penting banget malah"
"Apa itu yah.. ngantuk nich...?".
Berkali kali Fatia menguap karena rasa ngantuk, dan dan menutup mulutnya.
"Lihat sini..... Kangen.... Kangen banget jadi tidak bisa tidur".
"Ya sudah sekarang sudah lihat kan, tidurlah".
"Nanti.....sayang .... kita cerita dulu, temani sampai ngantuk ya.....".
"Baiklah".
Jose dan Fatia bercerita banyak hal, dari keseharian Al bermain di sungai, ikut Pakdenya ke sawah sampai mengganggu jamaah masjid yang lagi ngaji.
Jose melakukan vedio call setiap malam sampai hampir seminggu selama di tinggalkan oleh Fatia.
Hari Sabtu nya Fatia berangkat ke rumah walikota Ridwan di antar oleh kakak iparnya, suami mbak Mona.
Sampai di rumah walikota Ridwan semua group teman sejati sudah berkumpul lengkap beserta anak dan istrinya, kecuali Fatia dan Al yang baru saja tiba di tempat itu.
"Se...... Istrimu datang tuuuuh" goda Danny.
Jose berlari menuju halaman rumah Ridwan melihat sosok Fatia yang turun dari mobil memeluk Fatia dan Al sekaligus.
"Langsung Pepet...... Se.... Jangan beri kendor" gantian Syaiful menggoda Jose.
"Apa sih ini pada ngeres, masih pagi jangan macam-macam" Iis ikut nimbrung para bapak bapak ngeres.
"Sini Al sama om Ardi, kangen juga seminggu tidak bertemu, Dina ada Al...nak" kata Ardi sambil membawa Al mendekati istrinya.
"Mbak Iis apa kabar?" kata Fatia langsung cipika-cipiki dengannya.
"Kakak ipar cipika-cipiki sama Jose juga dong" goda Danny lagi.
"Kalau sama dia nanti aja di rapel, mau berani berapa ronde, puas pada bully aku" kata Fatia sambil tersenyum.
__ADS_1
Semua tertawa bersama-sama mendengar ucapan Fatia yang ikut ikutan ngeres juga.
"Sekarang kakak ipar juga mulai sama kayak kita ngeres juga" jawab Ardi sambil tertawa.
"Kan kalian semua yang ngajarin" jawab Fatia sekenanya.
"Sudah deh kalau lagi ngumpul hanya itu aja yang di bahas, memang tidak ada topik lain apa?" Rina juga ikut protes.
"Iya nich..... Kayak kuat kuatnya aja berapa ronde, paling dua ronde aja sudah keok" kata Lia istri Danny.
"Danny..... Masak kau keok cuma dua ronde" ucap Jose ikut ikutan ngeres.
"Enak aja ...... wani Piro ..... mau ngajak lebih dari dua ronde" protes Danny.
"Sudah.... sudah..... Ayo sarapan dulu" ajak walikota Ridwan.
Semua rombongan berjalan menuju ruang makan untuk sarapan Bersama.
Fatia menyuapi Al terlebih dahulu, baru nanti ikut sarapan, tetapi melihat istrinya belum sarapan Jose membawa sarapannya mendekati Fatia yang duduk di depan televisi ruang keluarga.
"Sini sarapan bareng haaa" Jose menyuapi Fatia, dan untuk dirinya sendiri sarapan satu piring untuk berdua.
"Waaaaaah.... ini nich....yang membuat kita jadi ngeres lagi, masih pagi sudah suap suapan aja" celetuk Danny yang sudah selesai sarapan duduk di ruang keluarga.
"kalau ngiri sana sarapan lagi.... atau perlu aku suapin juga, tapi tinggal piringnya aja" jawab Jose sekenanya.
"Memangnya aku debus makan beling" protes Danny lagi.
"Boleh tuuuh.....debusnya pentas sama Kakak ipar" Ardi ikut berkomentar.
"Aku tidak ikut ikutan..... nanti arahnya paling ngeres lagi" ucap Fatia sambil tersenyum.
Mereka bercengkerama lagi sampai siang terutama para lelaki nya, sedangkan para wanita ikut berkumpul di dapur membuat hidangan untuk acara besoknya.
Di dapur ternyata tidak kalah serunya, para ibu-ibu jika sudah ngumpul ternyata sama saja pembahasan tidak jauh dari tubuh bagian bawah.
Ada salah satu daribeberapa ibu yang sedang mengelap pisang untuk hidangan penutup nanti.
"Itu senjata jangan di belai terus awas mengeluarkan lahar panas" kata ibu yang memakai jilbab hitam.
"Mana bisa muncrat masih bengkok pisangnya" kata salah satu ibu lainnya.
Pisang itu di tunjukkan dengan di acungkan ke atas sambil di goyang goyangkan.
"Tunggu lurus dulu baru bisa keluar laharnya".
"Jangan buru-buru di luruskan".
"Kenapa memangnya?".
"Nanti muncratnya terlalu cepat, kurang memuaskan"
__ADS_1
Para ibu-ibu itu tertawa bersama-sama, Fatia hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar celotehan mereka.
Ada saja bahan yang dijadikan plesetan bercandaan mereka membuat suasana di dapur semakin hidup dan akrab walaupun baru kenal.