
Hari Kamis pukul sepuluh pagi sidang ke dua Triana akan berlangsung, sudah ada Mark dan Jose yang selalu setia mengikuti persidangan itu.
Tidak lupa Irul yang selalu menjadi bayangan Yosi, sepertinya hati tak rela melihat sosok Geri yang selalu memperhatikan Yosi dengan penuh kekaguman.
"Yosi.... Maaf terlambat, apakah sudah di mulai?" ucap Irul yang baru datang dari luar.
"Belum mas.... Silahkan duduk"
"Selamat pagi Mr Mark" kata Irul sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan mencium punggung tangannya.
"Selamat pagi..." Jawab Mark singkat.
Irul duduk di sebelah Yosi sehingga Yosi berada diantara Irul dan Mark, Geri memandang mereka dengan tatapan mata yang tajam, seperti tidak rela dengan pemandangan itu.
Setelah setengah jam sidang itu berlangsung ada saksi yang sedang di kotak saksi dan di cecer pertanyaan oleh jaksa penuntut umum, membuat hati Yosi sedikit geram dan marah, dengan spontan tangan Irul menggenggam tangan Yosi ditautkan tangannya membuat Yosi sedikit kaget.
Mata sayu Irul menatap Yosi sekilas, membuat hati Yosi berdebar kencang, tanpa berkata sepatah katapun Yosi membalas tautan tangan Irul.
Di belakang mereka Geri semakin bergemuruh memandang tangan yang saling berpegangan bertautan tanpa bisa berbuat sesuatu.
Hampir satu setengah jam persidangan baru berakhir, Mark mengajak Yosi dan Irul untuk makan bakso yang berada di seberang jalan.
"Yosi jam berapa ada kelas kuliahmu?"
"Jam dua belas Ded"
"Kita makan bakso dulu masih ada waktukan, ajak juga temanmu itu".
"Baik Ded, ayo mas Irul ikut makan bakso bersama kami"
"Ooooo... Baiklah"
Mereka bertiga makan bakso dengan akrab, setelah itu Mark mengantarkan Yosi dan Irul ke kampusnya untuk mengikuti mata kuliahnya.
Belum mulai kelas Yosi, sehingga Yosi memutuskan untuk pergi ke perpustakaan kampus sebentar.
"Yosi.... tunggu aku mau ngomong sebentar".
"Ada apa mas?".
"Kita duduk di taman sebentar yok".
Yosi membalikkan badannya untuk pergi ke taman yang berada di belakang kampus mengikuti Irul.
Duduk di bangku panjang berdua Irul menghadap ke Yosi.
"Aku sangat menyukai kamu Yosi, maukah kamu menjadi pendampingku?".
"Mengapa pendamping?".
"Aku tidak suka main main Yosi, aku tidak ingin pacaran juga, tahun depan insyaallah aku lulus akan langsung melamarmu?".
__ADS_1
"Maaf.... berikan aku waktu mas....ini terlalu mendadak buatku".
"Tetapi kau suka aku kan?".
Yosi merasa hatinya berdegup kencang, dengan mata yang berbinar tetapi masih sedikit ragu dihatinya.
"Aku.....aku..... entahlah, aku belum bisa menjawabnya".
"Baiklah aku tunggu jawabanmu".
Yosi kemudian meninggalkan Irul yang masih duduk di bangku itu sambil memandang ke arah Yosi yang sudah menjauh darinya.
Di kantor Jose sedang sibuk dengan dokumen dokumen yang menumpuk saat Dedy nya datang.
"Assalamualaikum.... sibuk kah?".
"Dedy.... Sudah selesai sidangnya kah?".
"Sudah dari tadi, apa sangat sibuk?"
"Ya. ...... Biasa Ded, silahkan duduk"
Jose dan Mark berbincang tentang banyak hal, dari kasus Triana, saham milik Yosi di Jakarta, perusahaan yang di pegang Jose ataupun perusahaan yang di pegang Mark di Manhattan, serta tentang masalah keluarga.
Sampai menjelang sore mereka berdua pulang ke rumah dalam satu mobil, sedangkan mobil Jose di serahkan kepada Ardi karena Ardi masih ada kerjaan yang belum selesai.
Di rumah Jose segera membersihkan diri, sebelum mendekati Al putranya yang hampir berumur dua tahun itu.
Jose berbaring di tempat tidur dan menarik selimut sampai lehernya dengan cepat.
Fatia heran mengapa Jose tidak kunjung datang ke turun menemui putranya, Fatia kemudian berlari naik tangga menuju kamarnya.
"Yah.....yah.......dimana?".
Fatia kaget melihat Jose tidur berbaring dengan badan menggigil berselimut tebal, dia langsung mendekatinya, dan memeriksa suhu tubuhnya ternyata panas.
"Kenapa bisa begini yah, badannya panas banget, tetapi keluar keringat dingin?".
"Tidak apa-apa Bun, cuma tidak enak badan aja, tidak usah khawatir".
"Minum obat dulu ya....eeee tapi makan dulu sebentar di ambilkan makan ke bawah"
Fatia kembali turun mengambilkan makan Jose dan memberitahukan kepada Mark dan Yosi jika Jose badannya panas.
"Yos.... tolong jagain Al sebentar...masmu badannya panas, mbak Fat mau ambil obat penurun panas".
"Ya mbak beres".
Fatia kembali ke kamar dengan membawa sepiring nasi dan sayur soup beserta lauknya, dan diikuti oleh Mark yang tampak khawatir.
"Kenapa Se.... Sakit kah?" tanya Mark khawatir.
__ADS_1
"Iya Ded, badannya panas, tapi keluar keringat dingin, ayo yaaaah, bangun sebentar makan dulu baru minum obat".
Fatia membantu Jose untuk duduk dan di bantu oleh Mark juga, lalu menyuapinya dengan telaten setelah selesai minum obat dan berbaring lagi.
"Istirahat lah nanti jika tidak berkurang panasnya kita ke dokter" kata Mark dengan khawatir.
Jose terlelap sebentar, saat menunggu Jose istirahat Fatia mengajak Al mandi sore menyuapinya makan dengan sabar, Al makan sambil berlari kesana kemari dengan lincahnya.
Jose sholat Maghrib dan isya hanya dengan duduk dan menggunakan tayamum karena tidak berani memegang air.
Al setelah habis isya sudah terlelap dalam mimpinya di kamar kesayangan dengan nyaman.
"Yah... sudah turunkah suhu badannya?".
"Sudah sepertinya Bun, sini coba dipeluk biar cepat turun panasnya".
Fatia memeriksa kening Jose, dan berbaring di sebelah Jose serta memeluknya dengan erat.
Jose yang mendapat pelukan mesra tangannya tidak bisa diam, memasukkannya di dalam baju Fatia dan menelusuri seluruh bagian di sana.
"Yah.... Ini tangannya coba diam, lagi sakit tapi sempat sempatnya ngeres aja ini tangan".
"Bun.... Siapa tau kalau di ajak olahraga malam panasnya turun".
"Teori dari mana itu, namanya sakit minum obat dan istirahat bukannya olahraga malam?"..
"Teoriku lah, kalau tidak percaya ayo kita praktekkan".
"Aneh deh iiih".
Jose hanya menyeringai saja dengan protes Fatia dan mengulangi lagi tangannya bergerilya kembali.
Jose mencium bibir Fatia dengan mesra dan rakus.
"Naah kan bibirnya terasa panas ihh".
"Sekali kali merasakan sensasi ciuman panas namanya"
Jose semakin tidak bisa mengendalikan hasratnya, walaupun badannya panas tetapi tidak menyurutkan semangat untuk menikmati kemesraan yang selalu menjadi candu Jose kepada istri tercintanya itu.
Badan dan pergumulan panas itu akhirnya berakhir setelah sampai puncak kenikmatan yang luar biasa, Jose juga melarang Fatia untuk mengenakan baju kembali untuk skin to skin agar lebih cepat turun suhu badannya barulah berbaring miring dan tertidur sampai menjelang pagi.
Fatia bangun jam tiga pagi memeriksa kembali suhu tubuh Jose, masih sedikit panas.
"Yah...maaf kaget ya.....aku cuma memeriksa suhunya, sudah mulai turun".
Fatia hendak turun dari tempat tidur itu untuk mencari bajunya yang terlempar entah kemana.
"Mau kemana.... kalau tinggal sedikit panasnya, ayo olahraga pagi biar hilang panasnya.
"Eeeee teori apa itu ....... mulai lagi....".
__ADS_1