
Pagi hari Irul berangkat ke kampus berharap bertemu dengan Yosi di sana, tetapi sampai menjelang siang yang di tunggu tidak juga datang.
Pulang dari kampus Irul langsung ke rumah sakit untuk menemui pamannya.
"Maaf paman, Irul tidak bertemu dengan Yosi di kampus, tunggu sampai sore kalau tidak ke sini, Irul akan berkunjung kerumahnya" jelas Irul kepada Purnomo.
Raut wajah Purnomo begitu kecewa, tetapi apa daya, hanya seorang yang tidak di inginkan oleh Putri sendiri.
Purnomo tidak bisa memaksa kehendak Tuhan, hanya pasrah menerima nasib atas apa yang diperbuatnya di masa lalunya.
Purnomo juga hanya pasrah, menanti datangnya Yosi yang dirindukan itu setiap detik, menit bahkan jam hanya ingin melihat sosok Yosi datang.
Di rumah Jose, Ibu Diniya meminta Yosi datang ke rumah sakit, tetapi Yosi ingin kesana bersama ibunya.
Ibu Diniya tidak menjawab permintaan Yosi hanya diam saja, sementara Jose bingung harus bagaimana.
Danny bercerita Purnomo semakin menurun kesehatannya, kemungkinan tidak bisa bertahan hidup lama lagi.
Jose menyampaikan kepada ibu Diniya dan Yosi, agar mau memaafkan Purnomo, akhirnya pagi itu mereka memutuskan untuk pergi kerumah sakit bertiga.
Sesampainya di ruang rawat inap itu Yosi perlahan mendekati Purnomo.
"Selamat pagi pak, apakah anda baik baik saja" tanya Yosi ragu ragu.
Purnomo kaget dan terbengong bengong melihat siapa yang datang, Yosi ada disampingnya, sedang Ibu Diniya dan Jose hanya berada di samping pintu ruang rawat inap.
"Yosi maafkan bapak.....maaf....maaf" ucap Purnomo berkali kali.
"Seandainya nanti bapak pergi ada sedikit barang bapak tolong di jaga dan bisa dimanfaatkan untuk keperluan Yosi" pinta Purnomo.
"Tolong terima kunci ini" perintah Purnomo kepada Yosi.
Yosi hanya diam dan mengambil kunci yang di berikan kepadanya..
Kemudian Purnomo perlahan melihat ke arah Ibu Diniya dan Jose yang berdiri agak jauh dari brankar itu, hanya melipatkan tangannya dan sedikit mengangkat kepalanya serta berlinang air mata.
"Maaf..... ma..... ma.......af" ucap Purnomo.
Langsung mata Purnomo terpejam, tangan terkulai dan nafas berhenti, sontak Yosi kaget, melihat ke arah Jose dan ibunya yang mematung.
"Pak.... pak...bangun hu...hu...hu" kata Yosi sambil menggoyangkan badan Purnomo.
Jose langsung berlari mencari Danny atau dokter jaga, Jose menemukan Danny sedang berbincang dengan salah satu suster di samping lobi ruang rawat inap.
"Danny.....Dan... ayo lihat dia" perintah Jose
"Ada apa?" tanya Danny kaget.
__ADS_1
Jose dan Danny berlari kecil kembali menuju ruang rawat inap Purnomo, Danny memeriksa denyut nadi, ternyata sudah tidak berdenyut.
"Maaf Yosi, pak Purnomo sudah tidak ada dan dinyatakan meninggal dunia" kelas Danny.
Yosi langsung menangis dan mendekati ibunya, memeluk ibunya dengan erat, bergantian dengan Jose.
Ardi langsung menangani pemakaman Purnomo, hingga proses sampai di peristirahatan yang terakhirnya.
Sampai di pemakaman pun Yosi masih memegang kunci yang di berikan oleh almarhum Purnomo.
Di pemakaman itu banyak juga yang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir untuk almarhum Purnomo.
Ada perwakilan dekan, persatuan sekuriti, mahasiswa, dan ada juga dari kafe atau kantin universitas menghadiri pemakaman almarhum Purnomo.
Tetapi tidak ada satupun yang mengetahui hubungan antara Yosi dan Purnomo kecuali keluarga Irul dan Samsul.
Semua yang hadir di pemakaman hanya tahu bahwa Irul lah keponakan Almarhum Purnomo.
Setelah selesai dari pemakaman Jose dan Yosi pulang ke rumah menemui ibu Diniya dan fatia yang saat itu tidak hadir di pemakaman.
"Ibu baik baik saja kan? " tanya Jose.
"Iya ibu baik" jawab ibu Diniya singkat.
"Bun.... baby Al dimana?" tanya Jose kepada Fatia
Jose langsung ke lantai atas menemui putra tercintanya, hanya meninggalkan setengah hari aja hati Jose sangat merindukan bayi gembul itu.
Sementara Yosi hanya duduk termenung di dalam kamarnya, membolak-balik kunci yang di berikan oleh almarhum Purnomo kepadanya.
Kunci itu tertuliskan logo brankas sebuah bank swasta terbesar di Surabaya, yang terletak tidak jauh dari kampus Yosi.
Sudah Tujuh hari berlalu sejak meninggalnya almarhum Purnomo, Yosi belum masuk kuliah lagi.
Setiap hari Irul menunggu di depan gerbang kampus hanya untuk melihat sosok Yosi Kurniawan, tetapi tidak pernah di jumpainya selama satu Minggu ini.
Jika hari Senin besok Yosi tidak juga ke kampus Irul memutuskan ingin menemui Yosi di rumahnya.
Irul ingin menyampaikan pesan terakhir almarhum Purnomo Sebelum meninggal dunia, yaitu gaji almarhum Purnomo selama bekerja di kampus Yosi tidak pernah di ambilnya.
Pesan almarhum Purnomo agar bisa di serahkan kepada Yosi, sedangkan toko sovenir oleh-oleh khas Madura yang ada di kota Madura itu di wariskan kepada Irul dan sudah di sampaikan oleh pengacara almarhum Purnomo.
Almarhum Purnomo berpesan toko sovenir itu mohon di kembangkan oleh Irul dengan baik untuk masa depannya kelak.
Hari ini hari Senin pertama kali Yosi masuk kuliah setelah peristiwa peninggalannya almarhum Purnomo.
Irul yang tetap setia menunggu di gerbang kampus setelah melihat sosok Yosi langsung berlari mendekati nya.
__ADS_1
"Yosi........ Yosi" panggil Irul sedikit berlari mendekati Yosi.
"Ya.. mas ada apa?" tanya Yosi singkat.
"Ini amanah terakhir paman Purnomo untuk mu" kata Irul sambil menyodorkan map coklat tua.
"Ya terima kasih" jawab Yosi sambil pergi meninggalkan Irul.
Irul hanya mematung dengan kepergian Yosi, padahal dia masih belum selesai berbicara, masih banyak yang ingin di sampaikannya.
Irul hanya diam membisu seribu bahasa, hanya bisa pasrah dan mungkin lain waktu bisa mendekati Yosi lagi dengan keadaan yang lebih tenang.
Di kampus Yosi masih banyak diam dan melamun, map coklat tua itupun tidak juga di bukanya sama sekali.
Yosi berniat menyerahkannya kepada mas Jose untuk mengurusnya.
Sepulang dari kampus Yosi langsung naik mobil online menuju kantor Jose yaitu PT KURNIA.
"Tok......tok .....tok..."
"Masuk ...." jawab Jose dari dalam.
"Mas Jose...." ucap Yosi singkat.
"Ada apa, kok kesini?" tanya Jose.
"Ini mas, Yosi bingung mau bagaimana mana?" tanya Yosi sambil menyerahkan map coklat tua dan kunci brankas.
"Kamu sudah membukanya?" tanya Jose lagi.
"Belum mas, Yosi juga tidak tahu apa isi dan apa maksud nya?" ucap Yosi kemudian.
"Mas aja yang mengurusnya, Yosi tidak faham" pinta Yosi.
"Nanti kita rundingkan sama ibu aja dulu" perintah Jose.
Pada malam harinya Jose sebelum merundingkan tentang wasiat dari almarhum Purnomo minta pertimbangan kepada Fatia terlebih dahulu.
"Bagaimana sayang, menurutmu masalah ini" tanya Jose.
"bunda setuju aja yah, sebaiknya di musyawarahkan aja dulu" nasehat Fatia.
"Tetapi ngomong ngomong baby Al sudah berumur berapa hari ya, ada 40 hari belum?" tanya Jose sambil mengedipkan matanya.
"Belum yah, masih Minggu depan" jawab Fatia sambil tersenyum.
"Kenapa lama banget sih, ayahanda pingin......." ucap Jose sambil Fatia memeluknya dengan erat.
__ADS_1