Istri Juragan

Istri Juragan
Talak


__ADS_3

Setelah keluar dari rumah mamak, Mayang tak henti-hentinya merajuk kepada Sutris.


"Apalah mamakmu itu Mas, bagaimana bisa nyamain Aku yang cantik ini sama musang dan biawak?"


"Sudah lah Dek. jangan diambil hati perkataan mamak itu, mamak memang galak, tapi hatinya baik Dek. Mas yakin, nanti Adek pasti bisa jadi mantu kesayanganya mamak. Tolong Adek bersabar sedikit lagi ya." bujuk Sutris kepada Mayang saat berada di dalam mobil.


"Sebel Aku Mas, masa Aku dibandingin sama si Tutik itu, ya jauh lah Mas.. jelas-jelas lebih cantikan Aku, bagusan Aku kemana-mana. Tidak terima Aku Mas!" Mayang masih terus merajuk.


"Sudah dong Dek.. jangan ngomel-ngomel terus mulutmu itu, tambah pusing kepalaku ini."


"Ya sudah, bawa Adek ke rumahmu Mas, Aku mau ketemu sama istrimu itu, mau buktikan sendiri Aku, lebih baik siapa antara aku sama Tutik itu."


"Hem... iya lah. Tapi tolong jangan bikin keributan ya, nanti."


Mayang mendengus kesal setelah itu melengos menghadap keluar jendela.


'Jangan buat keributan? lihat saja nanti, apa yang akan Aku lakukan sama istrimu itu.' batin Mayang


"Loh, kok sepi sekali ya Dek?" heran Sutris ketika melihat rumahnya yang begitu sepi seakna tidak berpenghuni.


Rumah itu masih terlihat sama seperti dua bulan lalu, saat sutris terakhir kali pulang kerumah. Tanaman masih terawat, rumah juga terlihat bersih hanya saja semua pintu dan jendela tertutup rapat.


"Pasti lagi ngelayap istrimu itu Mas, lagi ngegosip sama tetangga itu pasti." tuduh Mayang asal.


"Coba Aku tanyakan dulu sama tetangga Dek, Kamu tunggu di sini ya!"


"Eh! masih hidup kau ternyata Tres? Aku kira kau sudah mati dimakan biawak. Dua bulan tidak pulang-pulang."

__ADS_1


"Apa Kau tau kemana Istriku Ti?" Sutris menghiraukan pertanyaan sarkas Siti, tetangga yang paling dekat dengan rumahnya.


"Suami macam apa Kau ini? Tutik kan istrimu? kenapa pula tanya sama aku? ya mana Aku tau." Siti melirik-lirik ke arah rumah Sutris, disana terlihat Mayang sedang bersandar di pintu mobil dengan bergaya ala-ala model.


"Ohh..ternyata ada biawak betina yang bikin Kau tidak pulang-pulang ya Tres? bagus lah Kalau Tutik lebih milih pergi, gak salah juga sih. Uda bagus malah keputusanya, laki-laki pelit kaya Kamu emang wajib di singkirin jauh-jauh sih."


"Heh Siti! kenapa lemes sekali mulutmu itu? Aku tanya baik-baik kenapa malah ngegas mulut kau itu?" Sutris beranjak pergi dengan wajah penuh emosi.


"Heh Sutris! Kau lihat tuh, sekarang si Tutik sudah sukses, warungnya ramai, jualanya laris manis. Duda di kampung sini sudah pada ngantri buat dapetin si Tutik. Kau tau tidak? Noh warungnya di ujung jalan! Kau datang saja waktu jam makan siang, Para juragan kaya raya ngumpul semua disana. Siapin tisu banyak-banyak ya, jangan sampai nangis-nangis karena menyesal Kau."


Meski penuh emosi, namun mobil Sutris tetap melaju menuju tempat yang disebutkan oleh Siti, dan benar saja apa yang dikatakan oleh wanita itu. Warung itu begitu ramai hingga pembeli harus antri, terlihat para juragan kaya sedang menikmati makananya, tidak hanya duda dan perjaka, suami orangpun ada disana. Seketika Sutris merasa sangat kesal hingga mencengkram kuat-kuat setir mobil.


Melihat Sutris terlihat cemburu, tentu Mayang tidak tinggal diam, wanita itu lantas merangkul lengan Sutris dengan manja. "Apa mau turun kita Mas?" tanya Mayang.


"Tidak. Nanti sore saja kita kembali lagi, sekarang pulang dulu."


Malam harinya, Sutris kembali pulang ke rumahnya, namun lagi-lagi rumah dalam keadaan sepi. Sutris akhirnya menuju rumah orang tua Tutik.


"Akhir nya yang ditunggu-tunggu datang juga." sambut Pak RT.


Selanjutnya orang tua Tutik mulai bertanya mengenai permasalahan yang sedang terjadi antara Tutik dan Sutris.


Sutris pun mengaku jika telah pergi meninggalkan rumah selama dua bulan dan tidak memberi nafkah, Sutris juga mengatakan akan menikahi Mayang dan menjadikanya istri kedua.


Tutik menolak dan lebih memilih untuk berpisah, meskipun Sutris tidak ingin menceraikan Tutik, namun Sutris juga tidak bisa jika diminta untuk meninggalkan Mayang. Akhirnya Sutris menuruti permintaan Tutik untuk bercerai.


Malam itu juga, dengan disaksikan oleh RT dan Ustadz setempat, Sutris berhasil menjatuhkan talak satu kepada Tutik.

__ADS_1


Mamak Sri menangis dengan memeluk anak menantunya, "Maafkan Mamak Tik, maafkan Mamak." Ucap Mamak Sri dengan tergugu.


"Maafkan Tutik juga Mak, selama ini Tutik banyak salah sama Mamak, Tutik belum bisa jadi menantu yang sempurna buat Mamak, meski apapun yang terjadi nanti, Mamak tetaplah mamakku, Aku akan selalu sayang sama Mamak."


"Iya Tik, Iya. Cuma kamu menantuku yang paling bisa ngertiin Mamak, sampai kapanpun Kau tetap anak Mamak, maafkan salah-salah Mamak ya, selama ini mulut Mamak memang kasar, Mamak suka minta minta uang dan merepotkan, tapi Mamak sebenarnya sayang sama kau Tik." Mamak sri semakin erat memeluk Tutik, bahkan air matanya sudah banjir membasahi baju Tutik.


"Sudah Mak, ayo kita pulang." ajak Sutris.


Mamak Sri melotot tajam kepada wanita yang selalu gelendotan di lengan anaknya, sudah seperti orang utan kebelet kawin saja kalau mamak lihat. Benci sekali mamak sama calon menantu barunya itu.


"Mamak pulang dulu ya Tik. Jangan sungkan-sungkan kalau mau ke rumah Mamak, ajak cucuku juga ya Tik."


"Iya Mak."


"Bapak...!" Bima tiba-tiba berlari dan memeluk Bapaknya.


Anak kelas dua SD itu menangis sesenggukan.


"Bapak jangan pergi lagi Pak.."


Sutris melonggarkan pelukan Bima, setelah itu Sutris berjongkok mengsejajarkan tinggi badanya dengan Bima.


"Hey Bima.. jangan menangis lagi ya, Bapak tidak kemana-mana. Bapak selalu dekat sama Bima, Oh ya sebentar lagi Bima juga punya Mamak baru, jadi Bima jangan sedih lagi ya. Bima bisa tinggal sama Bapak, dan Mamak Mayang nanti."


"Tidak mau Pak! Bima tidak mau Mamak baru, Bima sudah punya Mamak Tutik, tidak mau punya mamak baru lagi Pak! tidak mau!"


Bima menangis meraung-rang dibawah kaki Bapaknya, memohon agar Bapaknya tidak pergi dan menikah lagi. Melihat itu Tutik ikut menangis, tidak tega dengan Putra semata wayangnya yang harus mendapat kasih sayang pincang.

__ADS_1


Karena sejatinya korban sesungguhnya dari sebuah perceraian adalah anak.


Tutik mendekat dan menggendong tubuh putranya masuk ke dalam rumah, Bima terus meraung berharap keinginanya akan dituruti, namun Sutris justru pergi dengan merangkul pundak Mayang, menambah luka baru yang semakin dalam di hati seorang Bimasina.


__ADS_2