
Saat membuka pintu Lasmi langsung kaget karena ada seseorang yang telah berdiri disana.dia langsung mundur beberapa langkah untuk berjaga-jaga dari orang itu.
"Pa-pak Mansur!" kaget Lasmi.
Saat ini banyak pikiran yang melintas dalam benaknya,apakah pria yang dikenal baik ini adalah dalang dari semua kejadian menimpanya.karena telanjur berpikir buruk pada pria itu,Lasmi memutuskan mendorong tubuh nya untuk menerobos keluar dari tempat itu.
"Kenapa dia lari?apa ada yang salah dengan ku?" gumam Mansur melihat kepergian Lasmi.
"Dia mau kemana?apa aku harus mengikuti dia?" gumamnya lagi.
Sementara itu Lasmi kini berlari sekencang mungkin,dia tidak peduli apa yang ia lewati.saat ini hanya dara di pikiran nya,dia Masi berharap bisa menyelamatkan dara.
Byur!
Suara air yang tadinya tenang kini bergelombang akibat Lasmi menjatuhkan diri ke kolam.dia melakukan itu saat datang ke kolam renang namun dara tidak ada disana,dia curiga bahwa dara tenggelam di kolam itu.
Dugaannya benar,saat dia menyelam dia dapat melihat tubuh dara yang telah mengapung di dalam air.dengan menahan rasa sesal dia mendekati dara dan membawanya ke permukaan.
"Hufh ... hufh ... bangun!kumohon,bangunlah!" ucapnya saat berhasil meletakan tubuh dara di tepian kolam.
"Ya Tuhan,jangan seperti ini.ku mohon jangan ambil dia!" doa nya sambil terus menekan dada dara.
Lasmi semakin panik karena apa yang ia lakukan tidak membuahkan hasil,dengan tangan bergetar dia mencoba memeriksa denyut nadi dara.
"Hiks ... hiks ... hiks ... maaf ... aku terlambat!" ucapnya dengan air mata yang merembes satu persatu.
Lasmi memeluk tubuh dara,dia menangis sejadi-jadinya.bayangan kenangan yang ia lalui bersama dara terlintas di pikirannya,mulai saat dia bercanda ria dan menangis bersama.
***
"Wit,aku mendapat surat dari seseorang.dia mengatakan bahwa aku harus ke kolam renang," cerita Ani yang membuat Wiwit berhenti menyulam.
"Kamu dapat surat darimana?apa ada orang yang mengetahui markas kita?ternyata sangat susah untuk bersembunyi dari Mak lampir," kesal Wiwit.
"Mungkin saja.tadi pagi aku menyapu halaman, lalu tiba-tiba ada seseorang yang sengaja memanah.untung aku cepat menghindar jika tidak lengan ku bisa terluka,saat aku mengambil anak panah itu ternyata ada suratnya," jelas Ani membuat Wiwit manggut-manggut mengerti.
"Apa isi suratnya?" tanya Wiwit lalu Ani menyerahkan surat itu.
"Ambil hadiah mu di kolam renang!!" ucapnya serentak.
__ADS_1
Keduanya terdiam sambil mencerna arti dari kalimat itu,tak lama mereka saling tatap dengan wajah Masi kebingungan.
"Wit,entah mengapa perasaan ku tak enak?aku merasa nenek tidak baik-baik saja." Ani mengungkapkan kegelisahan hatinya.
"Tenang,keberadaan nenekmu Masi aku selidiki.nanti malam aku akan mengikuti raya,aku yakin dia akan ke tempat nenekmu."
"Aku percaya padamu.mengenai surat itu,apa aku harus kesana?" tanya Ani.
"Aku takut ini jebakan lagi,seperti beberapa waktu lalu," balas Wiwit.
"Lebih baik kita datang kesana untuk mengetahui dalang yang sesungguhnya," usul Ani.
"Tidak semudah itu menemukan skenario permainan ini," sanggah nya cepat.
"Tapi jika kita tidak kesana kita tidak tahu hadiah apa yang mereka maksud?aku bisa mati penasaran,bisa-bisa semalaman aku tidak dapat tidur karena penasaran dengan hadiah itu," jelas Ani.
"Baiklah kita akan kesana.tapi,selama kita disana nanti,kamu harus patuh dengan apa yang aku katakan?" pesan Wiwit.
Awalnya mereka bercanda ria sambil menuju ke kolam,tapi senyuman keduanya terhenti saat menatap dari kejauhan ada dua perempuan yang sangat mereka kenali.
"Nenek!" jerit Ani lalu melepaskan genggaman tangan Wiwit.
"Ani!" pekik Wiwit agar Ani berhenti berlari.
"Nenek," lirihnya dengan rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak di dadanya.
"Ani," gumam Lasmi mendongak melihat kedatangan Ani.
"Nenek!nenek ... hiks ... nenekkkkkk!" teriaknya sambil menggoyang tubuh dara.
"Apa yang terjadi?" tanya Wiwit ikut terduduk dan terdiam kaku.
"Nenek!huhuhuhu ... nenek!"
"Kasian,dia menangis!" ledek raya yang memantau mereka dari tempat persembunyian.
"Wanita yang kabur dari markas itu sangat berbahaya,aku yakin setelah ini dia akan menceritakan semuanya pada cucu wanita tua itu," celetuk Tito membuat raya hanya tersenyum saja.
"Aku tidak takut pada mereka.biarkan mereka tahu,permainan akan semakin seru.peperangan yang sesungguhnya akan terjadi," balas raya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak berpikir bahwa wanita itu akan membawa hal ini ke kantor polisi,jika itu terjadi reputasi mu akan tercoreng."
Raya langsung termenung dengan ucapan Tito,jika kasus ini di bawa ke kantor polisi bisa di pastikan bahwa Lasmi akan menjadi saksi yang kuat untuk ia hadapi.
"Kamu benar,setelah ini habisi pelayan itu!" titah raya.
"Aku harap kamu tidak terlambat menghabisinya,takutnya dia keburu memberi tahu sebenarnya pada dua wanita itu," ujar Tito membuat raya menatap nya dengan kesal.
"Bisa tidak jangan menakut-nakuti ku!" ketusnya dengan suara sedikit lantang.
"Kecilkan suaramu,mereka akan mengetahui keberadaan kita jika kamu terus bersuara besar!" ucap Tito mengingatkan.
Keadaan kolam renang semakin ramai,satu persatu pelayan datang untuk melihat kejadian itu.mungkin dia mendengar suara jeritan ani sehingga berkumpul di sana.
"Astaga apa dia meninggal?"
"Kasihan sekali,hidupnya menderita di tambah neneknya bernasib seperti itu.aku jadi sedih melihatnya."
Tiba-tiba ada segerombolan orang yang membawa tandu membuat kerumunan itu segera memberi jalan.
"Nona!" tegur pak Mansur.
Melihat kehadiran pak Mansur membuat Lasmi kaget,dia Masi berpikir apakah pria yang ia kenal baik ini adalah orang yang telah membunuh dara.
"Nona,lebih baik nenek anda segera di makam,kan," ucap pak Mansur sambil tertunduk menahan kesedihan.
"Apa ... maksudmu?nenek ku Masi hidup!kalian tidak boleh mengambilnya!" seru ani dengan air mata semakin membasahi kedua pipinya.
"Ani,kamu harus iklas.kasihan nenek mu jika terus berada di sini," sahut Wiwit mencoba membujuk Ani.
"Nenek ku tidak meninggal!dia Masi hidup,wit!dia tidak mungkin meninggalkan ku!" kekeh nya lalu kembali memeluk dara.
Ani semakin menangis dia tidak menyangka hari ini neneknya pergi meninggalkan dia,entah bagaimana kedepannya hidupnya tanpa ada dara di sisinya.
"Ani berhenti lah menangis,apa kamu tidak lihat nenekmu ikut sedih melihatmu terus begini?" tegur Wiwit membuat Ani langsung melihat wajah neneknya.
"Nenek!" bisik Ani dia Masi berharap mata itu kembali terbuka.
"Jangan begini,nenekmu ikut sedih melihatmu menangis.bukannya kamu tidak suka jika melihat nenek mu menangis!" bujuk Wiwit sambil mengusap punggung Ani agar Ani jauh lebih tenang.
__ADS_1
Dengan segala bujuk rayu akhirnya Ani mau jika jasad dara dibawa dan di makam kan dengan sewajarnya.
"Maafkan saya,nona.saya gagal melindungi anda,saya merasa bersalah pada tuan besar karena tidak dapat memenuhi permintaan beliau.jika saja saya berani memerintahkan beberapa orang untuk menjaga anda dan nenek anda pasti hal ini tidak akan terjadi.tuhan pasti menghukum saya karena telah mengingkari janji dan membiarkan Anda hidup menderita."