Istri Juragan

Istri Juragan
Mamak Sakit


__ADS_3

Tutik terlihat sibuk menyirami tanaman hiasnya di halaman rumah, sesekali perempuan berusia 32 tahun itu melamun, sudah dua malam suaminya tidak pulang ke rumah. Tutik tidak lagi mau ambil pusing, Suaminya itu pasti pergi menemui calon istri mudanya.


Hari semakin beranjak sore, biasanya Mamak Sri sudah datang berkunjung, namun sudah dua hari Mamak mertuanya itu tidak terlihat sedikitpun wujudnya. Tutik yang seharusnya senang justru mulai meresah. Meskipun sering dibuat kesal tapi Tutik tulus menyayangi Mamak mertuanya.


"Kemana.. lah Mamak ini, tumben-tumbenan dua hari tidak datang, apa sudah dapat hidayah mamakku itu? dua hari tidak datang antar cucian, tidak juga minta uang bayar arisan."


"Apa mamak sedang sakit ya?" Tutik bermonolog sendiri. "Nanti lah Aku lihat ke rumah Mamak. Tidak tenang perasaanku."


Selesai menyiram tanaman, Tutik menyimpan peralatanya kembali, setelah itu bergegas memasuki rumah.


"Bima..!" Teriak Tutik memanggil anaknya.


"Apa Makk..?" Bima menjawab dengan teriakan yang tak kalah kerasnya.


Sudahlah, jangan tanyakan bagaimana tetangganya, untung saja jarak rumah mereka dengan tetangga tidak terlalu dekat, coba kalau dekat. Sudah pasti sakit telinga, mereka.


"Mamak mau pergi ke rumah Mbahmu dulu, nanti kalau Bapak pulang terus nanyain Mamak, Kamu bilang saja Mamak pergi ke rumah Mbah begitu ya! Mamak khawatir, sudah dua hari Mbahmu itu tidak datang, entah sakit atau Nesu, Mamak tidak tau. "


"Iya Mak..!" Bima yang berada di lantai dua sedangkan Tutik posisinya berada di lantai satu, membuat keduanya bicara dengan saling teriak.


Setelah menyiapkan makanan serta kopi untuk Suaminya, Tutik bergegas meninggalkan rumah dengan berjalan kaki, tidak ada motor yang bisa Tutik pakai, akhirnya dengan berkobarnya semangat empat lima, Tutik berjalan kaki menuju rumah Mamak mertuanya. Itung-itung sekalian olah raga.


Hampir lima belas menit berjalan kaki, Tutik sesekali mengelap keringetnya yang bercucuran, daster lebar nya melambai-lambai tertiup angin. Akhirnya Tutik sampai juga di rumah Mamak mertuanya.


"Assalamualaikum..Makk..! Mamak...!" Tutik mengetuk pintu yang terbuat dari kayu jati, dengan ukiran khas kota Jepara.


Berkali-kali Tutik memanggil namun tidak mendengar jawaban, halaman rumah pun terlihat sangat kotor, daun-daun kering berserakan dimana-mana.


Tutik mendorong pelan pintu yang ternyata tidak dikunci. "Eh, tidak dikunci ternyata. Kemana Mamak ini?" Tutik masuk dan kembali memanggil Mamaknya.


Akhirnya terdengar jawaban dari kamar mamak, suara itu terdengar begitu lemah.


"Eh.. pelan sekali suaranya, apa benar itu suara Mamak? tidak biasanya Mamakku ini berlemah lembut." Tutik merinding sendiri.


"Mamak...! benarkah itu Mamak?" Tutik kembali memanggil untuk memastikan pendengaranya.


"Tik..! Mamak di sini." Suara yang sama kembali didengar Tutik.

__ADS_1


"Eh dijawab lagi." Tutik akhirnya memberanikan diri menuju kamar Mamaknya, namun bibirnya komat-kamit membaca ayat kursi.


Pintu kamar itu terbuka lebar, cahayanya remang-remang, karena lampu tidak dinyalakan. Dengan perasaan yang tidak karuan Tutik mencari saklar lampu dan menyalakanya. Barulah Dia bisa bernafas lega, ternyata benar Mamak yang menjawab panghilanya tadi.


Wanita yang usianya sudah lebih dari setengah abad itu meringkuk di atas kasur. Tutik bergegas menghampiri.


"Mamak.. " Tutik memegang pundak Mamak yang tidur membelakangi pintu, "Mamak kenapa? apa sakit Mamak?"


" Tega sekali Kau sama mertuamu ini ya Tik! tidak ada bakti-baktinya jadi anak. Dua hari Mamak tidak datang ke rumahmu, sepertinya senang sekali ya Kamu ini." Sembur mamak Sri.


"Maaf Mak.. Aku kan tidak tau kalu Emak sakit, Aku khawatir mangkanya Aku datang ke rumah Mamak."


"Ada saja alasanmu itu."


"Apa sudah Makan Mak? sudah minum obat?" Tutik bertanya


"Mamak sri menggeleng, tadi pagi Mamak makan, tapi setelah itu kepala Mamak sangat pusing, tidak kuat bangun Mamak. Jadi tiduran saja, Mamak belum minum obat."


"Ya Allah Mak.. kenapa tidak telfon Tutik Mak? untung Tutik datang kesini, kalau tidak bagaimana?"


"Kita ke Rumah Sakit saja ya Mak, Khawatir sekali Aku sama Mamak."


Mamak Sri hanya mampu mengangguk lemah, sedangkan Tutik justru kebingunagan dengan apa membawa Mamak ke Rumah Sakit. Di Rumah Mamak hanya ada motor, tidak mungkin jika Tutik membawa Mamak dengan naik motor.


Bergegas ke ruang tamu, tutik mencari hp Mamak nya, tujuanya hanya untuk menghubungi Sutris, suaminya. Namun berkali-kali menghubungi Sutris tak kunjung menjawabnya.


Tutik keluar rumah berusaha meminta bantuan kepada tetangga, tapi disana tidak ada tetangga yang memiliki mobil, Tutik semakin kebingungan.


Hingga beberapa saat kemudian Tutik melihat mobil Juragan Sugeng yang melintas di jalanan depan rumah Mamak Sri, Tutik melambai-lambaikan tangan meminta mobil itu untuk berhenti.


Juragan Sugeng berhenti dan menurunkan kaca mobilnya, "Ada apa Tik?"


"Boleh minta tolong juragan? tolong antar mamak ke arumah Sakit."


"Kenapa mamakmu Tik?"


"Sakit kepala."

__ADS_1


"Ya sudah Ayo Aku antar." Sugeng turun dari mobil dan bergegas masuk kedalam rumah, mencari keberadaan Mak Sri. Melihat keadaan Mamak yang lemah, Sugeng tidak tega dan langsung menggendongnya menuju mobil.


Berada dalam gendongan Duda muda, tampan dan kaya raya, tentu membuat hati mamak yang sudah lama gersang serperti disiram hujan, begitu menyejukkan. Mamak memegang erat pundak Sugeng, wajahnya menempel di dada bidang milik Duren Sawit itu. Sungguh hati mamak dibuat nyes-nyesan.


****


Dengan kondisi mamak yang sakit dan sedang dirawat, Tutik jadi memiliki pekerjaan tambahan, selain merawat mamak, Tutik juga harus bolak-balik rumah dan rumah sakit. Tidak hanya itu saja, Tutik masih harus masak dengan porsi super banyak untuk buruh tani yang sedang bekerja di sawah milik mamak.


Sutris adalah anak pertama dari tiga bersaudara, adik keduanya perempuan dan sudah menikah, sekarang tinggal bersama suaminya. Sedangkan adik ketiganya juga perempuan dan sedang melanjutkan pendidikan di Kota. Mamak Sri hanya tinggal sendiri di rumah.


Mendengar kabar mamak nya sakit, tidak lantas membuat Endang anak kedua mamak Sri, khawatir dan segera datang menjenguk. Jarak rumah yang lumayan jauh menjadi alasan wanita satu anak itu untuk tidak segera datang menjenguk mamaknya.


Hari semakin beranjak siang, Tutik harus segera ke rumah sakit sebelum Mamaknya kembali mengamuk. Tutik yang tidak memiliki motor, kebingunagan mencari tukang ojek, seakan semesta tidak merestuinya untuk segera sampai di rumah sakit.


Pucuk dicinta jacpot pun tiba begitulah kiranya. Lelah menunggu ojek, Sugeng tiba-tiba muncul dan menawarkan tumpangan. Tanpa malu-malu dan pura-pura menolak Tutik langsung naik keatas mobil dan duduk disamping kemudi.


Aroma maskulin bercampur kecut-kecut menguar di indra penciuman Tutik, tentu saja aroma maskulin itu berasal dari si Duda tajir, sedangkan aroma kecut, ya sudahlah jangan ditanyakan lagi, kalian pasti sudah paham haha.


Melihat Tutik datang dengan dengan Sugeng, emosi mamak Sri seketika menguar begitu saja, hati yang awalnya panas meletup-letup berubah dingin sedingin salju. Wanita tua iti seketika pipinya bersemu merah dengan senyum malu-malu seperti anak perawan yang ditanyain nikah.


"Eh ada Dek sugeng rupanya?"


"Iya Mak, gimana kondi Emak? apa sudah baikan?" Sugeng bertanya.


"Sudah baikan Aku Dek, terimakasih ya, sudah bawa Mbak ke Rumah Sakit. Tidak tau bagaimana nasib Mbak kalau kemarin sore tidak ada Dek Sugeng." Mata Mamak Sri mengerling kecentilan.


"Mbak? Mbah maksudnya?" batin Tutik.


"Itu hanya kebetulan saja Mak, Untung ada Tutik yang nyegat mobil Sugeng, kalau tidak, tidak tau lah bagaimana cara Tutik bawa Emak ke rumah sakit. Kasihan sekali Tutik kemarin kebingungan minta bantuan."


Mendengar Sugeng lebih memuji Tutik, sontak membuat Mamak Sri melirik kesal kepada anak menantunya itu.


"Ih, apa lah Emak lampir ini melotot-melotot?" batin Tutik.


"Tidak usah lah panggil Emak, kesanya Saya ini tuwa banget jadinya. Panggil Mbak saja ya, usiaku tidak jauh beda kok dari Adek Sugeng ini." Tidak jauh Ndasmu!


"Eh. I..iya Mak, Eh Mbak!"

__ADS_1


__ADS_2