
Meski bubar dan menuruti ucapan Lilik,namun para koki dan pelayan tetap menunggu kedatangan intan di depan pintu dapur.mereka berharap intan kesana dan mereka akan mencaci maki intan karena telah pergi keluar saat jam kerja.
"Mana tuh perempuan,lelet banget jalannya," cetus Kelvin yang celingak-celinguk.
"Iya,nih.mulut gue udah gatel ingin nyerocos."
Suara langkah kaki membuat mereka tersenyum jahat,namun senyum mereka pudar saat mengetahui siapa yang datang.
"Kenapa,lihat,lihat?Lo kira gue intan,iya!suka banget ganggu orang,kalau berani satu lawan satu Jagan keroyokan kayak babi lepas dari kandang," hina Nisa dengan pisau di tangan nya.
"Apa kata,Lo?ulangi jika berani!" sahut Kelvin.
"Ba-bi kucel,mirip kayak muka Lo," ucap Nisa membuat kelvin emosi dan kebakaran jenggot.
"Dasar,wanita ja*lang.sini Lo kalau berani," amuknya ingin mendekati Nisa namun berhenti bergerak saat pisau yang berada di tangan Nisa telah berpindah di lehernya.
"Wanita zaman sekarang keras bos,berani menyakiti berarti sudah siap untuk di lukai," ucap Nisa.
"Nisa,apa kamu gila?jauhkan pisau itu darinya,apa kamu ingin membunuh anak orang?" cegah seseorang yang ngeri melihat pisau tajam itu.
"Iya,aku ingin membunuhnya.karena aku seorang psikopat,aku suka darah aku ingin membunuhnya!" seru Nisa dan mengayunkan pisau itu dan melemparkannya kearah Kelvin.
"TIDAK!" ucap mereka serentak sambil menutup mata,ucapan itu paling keras terdengar di mulut Kelvin.
"Tidak,jangan bunuh aku!" seru Kevin dengan suara bergetar.
"Hahahaha hahahhaha hahahhaha,astaga dia ngompol!" tawa Nisa terbahak-bahak.
Mendengar suara tawa Nisa dan juga suara Kelvin,membuat orang yang menutup mata barusan kembali membuka mata.ternyata pisau yang di lempar Nisa menancap di dinding sedangkan kelvin Masi berdiri di posisi semula dengan badan yang bergetar ketakutan.
"Lihat,lah.ucapan ku benar bukan,dia itu cuma Maco di luar tapi mulut dan burung yang lembek.baru pisau aja udah ngompol gimana kalau besok-besok gue bawa kapak Wiro sableng bisa tengiseng-ngiseng kue," ledek Nisa.
"Awas Lo!" ucap Kelvin pergi dari sana dengan menutupi celananya yang telah basah.
"Sumpah gue gak tahan lagi,hahaha ... dia barusan ngompol hahaha ... kok gue yang malu,ya," ucap teman Kelvin.
"Dasar temen laknat.itu temen Lo bukannya di bantuin malah ikutan ketawa," protes Winda.
"Biar aja,kami itu mendidik dia agar cepat dewasa.jika kami belain terus gimana dia bisa berpikir matang dan menjadi pria sejati," sahut teman Kelvin lainnya.
"Pria sejati,endas mu!" jengkel Winda lalu pergi dari sana.
__ADS_1
"Sule air kemih temen Lo di bersihin kalau bisa di pel berulang kali.gak baik jika sampai baunya Masi tersisa, bisa-bisa menyebar ke seluruh dapur,nanti bawa sial," titah Nisa sebelum pergi dari sana.
"Mulut Lo,pengen gue tabok rasanya!" ketus Sule.
"Oh,berani.sini maju,kalau mau kayak temen Lo barusan," tantang balik Nisa.
"Ada apa lagi ini?!"
Suara itu berasal dari Lilik yang baru tiba,dia bisa ada di sana karena mendengar keributan.dia tahu bahwa mereka berkelahi lagi.
"Biasa kami sedang ingin membuktikan laki-laki disini jantan atau banci,sehingga kami sedikit melakukan pertarungan," ungkap Nisa.
"Jika kamu berada di sini pasti dunia perdapuran ku tidak baik-baik saja.nisa bisa tidak?tidak membuat keributan sehari saja," omel Lilik.
"Tidak!" balas Nisa cepat.
"Ya Tuhan." ucap Lilik "kalian kembali berbaris lagi seperti tadi,tuan Austin sudah ingin tiba kemari.intan dan Vira sudah ada di depan sedari tadi," lanjut Lilik sejenak mengesampingkan perkelahian itu.
"Giliran intan duluan bapak sibuk suruh nyusul,eh,giliran intan terlambat gak di perintah sama sekali," cetus Sule.
"Hahahaha kasihan,iri,ya,bos.makanya jangan banci!" sahut Nisa tertawa garing.
"Jangan berkelahi!cepat kedepan!"
Dengan wajah ditekuk,mereka kembali ke halaman restoran.saat melihat intan disana mereka langsung melihat sinis hal itu membuat intan langsung menunduk dan berpikir apa yang terjadi,kenapa mereka melihat intan seperti itu?
"Gak,usah ambil pusing,tan.biasa banci mah iri dengan kecantikan alami milik wanita," ucap Nisa seakan tahu pikiran intan.
"Eh,diem Lo perempuan!" bentak Sule.
"Lah,Lo kenapa?Lo merasa diri Lo banci.cepet banget respon nya,tersungging ya," cetus Nisa.
"Ribut sekali lagi,saya benturkan kepala kalian berdua atau mau saya nikahkan sekalian!" omel Lilik yang masi melihat perkelahian anak buahnya.
"Ogah!" sahut Nisa.
"Payah lagi!" sahut Sule.
Semuanya kembali diam,saat mengetahui mobil milik Austin telah tiba.kini Austin yang tampan dan berkarisma itu telah ada di hadapan mereka,seketika itu parfum penguasa hinggap di hidung mereka yang membuat mereka terlena dan terpesona.
"Apa tamu ku telah tiba?" tanya nya pada lilik.
__ADS_1
"Sudah,tuan," balas Lilik sopan.
"Astaga,aku harus segera menemui dia.kalian jangan lakukan kesalahan,jika ada kesalahan siap-siap restoran ini aku tutup!" ancam Austin sebelum masuk.
Setelah Austin dan Lilik hilang dari pandangan mereka,barulah mereka bisa bernafas lega.
"Sumpah,wangi banget.andai dia milik ku pasti gue betah kelonin dia tiap malem," ucapan ngaur dari Diana.
"Muka ke celup bensin kayak Lo,ngarepin jadi nyonya muda.heh,gak bakalan terwujud," timpal Nisa yang suka membuat masalah.
"Lah,apa salahnya jika berandai-andai dulu mana tahu jadi kenyataan?" ucap nya tak mau kalah.
"Tuhan gak mau ngabulin.orang Lo hidup pas-pasan aja songong nya kayak gini apa lagi Lo jadi nyonya muda,bisa-bisa tu leher panjang kayak jerapah," cerocos Nisa membuat hati Diana memanas.
"Dasar Lo syirik aja,Lo takut bos lirik gue karena gue cantik kan.awas aja kalau gue jadi bini bos,gue tendang kalian dari restoran ini," jeritnya mengeluarkan sumpah serapah.
"Hahahaha mimpi dia!jangan berandai-andai terlalu tinggi entar ke banting," ledek Nisa.
"Udah,nis.lebih baik kita pergi," ajak intan untuk menghindari pertumpahan dara.
"Iya bawa tu,mulut monyet jauh-jauh!" timpal Diana.
"Oh,dia mau kena ajian tapak dewa," seru Nisa mau mendekati diana namun intan segera menarik paksa tangan nya agar menjauh dari sana.
"Huuu ... dasar pengecut!"
Suara teriakan itu berasal dari Diana,Nisa semakin emosi mendengar nya namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena tangannya di jepit di ketek intan.
Sedangkan di dalam ruang VVIP baja menatap tidak senang saat Austin baru saja masuk di ruangan itu.tatapan mata elang itu membuat suasana menjadi mencengkam.
Lilik hanya mampu berdiri bak patung.jantungnya sedang bergetar hebat saat makanan baru saja di hidangkan,dia sedang berdoa semoga saja makanan itu di sukai oleh penguasa itu.
"Makanan sejenis apa ini?apa ini laku di jual?" tanya baja melihat jejeran makanan itu.
"Ini adalah makanan terbaik di restoran kami,bisa di bilang bahwa ini adalah masakan andalan restoran kami."
"Menu andalan." ulang baja. "Jika keluarga ku melihat pasti mereka akan tertawa,bagaimana mungkin masakan kampungan seperti ini terjual keras di pasaran," lanjut baja.
Lilik hanya mampu terdiam mendengar perkataan yang lebih berkesan merendahkan.tidak tahukah teman bos nya itu bahwa menu kampungan itu di sukai oleh masyarakat yang merindukan kampung halaman atau masakan emak mereka di kampung.
Degub jantung Lilik semakin menjadi-jadi bahkan keringatnya di dahi telah bermunculan.hal itu saat baja mulai ingin memasukan sebuah makanan di dalam mulutnya.
__ADS_1