Istri Juragan

Istri Juragan
Bab 13


__ADS_3

Pukul setengah delapan pagi Tutik telah sampai di kebun. Beberapa oarang Buruh sudah terlihat sibuk menebangi pohon tebu.


Tutik datang dengan membawa sebakul besar berisi nasi serta lauk lengkap untuk sarapan para pekerja.


Meski sebenarnya itu bukan tanggung jawab Tutik karena tebunya sudah dibeli oleh Sugeng, namun Tutik tetap datang dengan membawa nassi liwet lengkap dengan Ayaam ingkung serta urap sayur.


Hal itu sudahmenjadi tradisi turun temurun setiap kali panen, bisa dibilang sebagai bentuk ungkapan syukur atas keberhasilan sejak mulai menanam hingga waktu panen tiba.


“Eh Tik, kau disini rupanya?”


“Iya juraan. Juragan disini juga?” basa-basi banget si Tutik ini ya, sudah tau pakai nanya.


“Harusnya gak perlu repot-repot masak Tik. Ini kan sudah jadi tanggung jawabku.”


“Tidak apa Juragan, sudah jadi kebiasaan setiap panen soalnya. Rasanya kaya ada yang kurang gitu kalau gak dilakuin.”


“Oh.. iya sudah, kalau gitu nanti aku ganti aja uang belanjanya ya.”


“Eh! Tidak Juragan. Gak usah, aku ikhlas kok. Gak perlu diganti.”


“Wah kalo gini kan aku jadi enak Tik. Hehe.. Trimakasih Ya.”


“Iya.. sama-sama. Tutik mau kesana dulu ya Juragan, mau lihat parit hehe.”


“Iya, mangga silahkan.”


Baru sampai di dekat parit, kaki Tutik tidak sengaja terpleset daun kering hingga tubuhnya terhuyung kedepan.


Melihat kejadian itu reflek Sugeng berlari dan meraih pinggang Tutik, namun Sugeng tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya hingga..


Brugh!


“Aww.!”


‘Apa ini di surga? Kenapa aku mencium aroma harum maskulin, aaaaa apa aku sudah mati? Eh tunggu! Tapi ini sepertinya..’


“Astaghfirullah.. Juragan! Ya Allah.. maaf-maaf Juragan, Juragan gak papa?” Tutik panik melihat Sugeng yang berada dibawah tubuhnya, keduanya terjatuh kedalam parit.

__ADS_1


Tutik bangkit lalu mengulukan tanganya membantu Sugeng untuk berdiri.


“Juragan tidak apa-apa?”


“Enggak kok Tik, aku gak papa.”


Namun Tutik melihat darah segar mengalir dari pelipis Sugeng, sepertinya kepala  pria itu terbentur batu saat menolong Tutik.


“Ya Allah Darah! Ada darah, Tolong..!” Tutik berteriak meminta tolong.


Sugeng memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, lukanya  di kepala serta kaki cukup dalam hingga harus dijahit, selain itu terdapat juga memar di beberapa bagian tubuh seperti tangan, punggung dan kaki.


“Juragan tidak apa-apa? Apa kepalanya sakit?” tanya Tutik.


“Aku dimana Tik?” tanya Sugeng


“Juragan lagi di Rumah Sakit, maaf ya Juragan. Gara-gara nolongin Tutik, Juragan malah jadi kena musibah.”


“Iya gak papa, daripada minta maaf kan lebih baik bilang terimakasih.”


“Belum lebaran Tik. Kenapa minta maaf terus sih.” Kekeh Sugeng


‘Eh Dia malah ketawa, mana ganteng banget lagi kalo ketawa. Kenapa juga ini jantung jadi nyut-nyutan gini. Please jangan baperan!’ peringat Tutik pada jantungnya sendiri.


“Kenapa bengong?” tanya Sugeng.


“Eh itu, anu. Aduh kenapa ya?” Tutik kebingungan


Sugeng kembali terkekeh melihat tingkah Tutik.


‘Tuh kan ketawa lagi, ini orang lagi sakit bukanya sedih malah ketawa-ketawa aja batin Tutik.


“Juragan makan dulu ya, tadi belum sarapan kan”


“Iya, tadi belum sempat sarapan.”


“Ya udah ini, makan dulu ya.”

__ADS_1


Tutik menga,mbil nampan berisi makanan dari Rumah Sakit.


“Suapin Tik. Tangan aku sakit.”


“Eh, iya juga ya. Hehehe ya udah ayo aku suapin. Aaaa”


“Jadi ngerepotin kamu, aku Tik.”


“Tidak apa Juragan, kan Juragan sakit juga gara-gara nolongin Tutik.”


“Oh iya, ngomong-ngomong gak usa manggil Juragan.”


“Lah emang kenapa, kan dari dulu juga gitu manggilnya. Uda terbiasa.”


"Ya mangkanya, sekarang harus dibiasain juga. Gak perlu manggil Juragan. Panggil nama aja.”


“Kalau boleh tau, Juragan sekarang usianya berapa ya?”


“Aku 33 tahun.”


“Ooo selisih satu tahun, tapi lebih tua juragan sih hehe. Gimana kalau aku panggilnya Kang aja?”


“Boleh, terserah. Asal jangan Juragan aja. Aku jadi ngerasa kaya yang di Tipi-tipi kao dipanggil Juragan hehe..”


‘Tuh kan.. Dia ketawa lagi, hobi banget sih bikin hati ser-seran.’


“Oh iya Kang, maaf ya. Aku belem sempet ngabarin keluarga Kang Sugeng.”


“Iya gak papa Tik. Di rumah juga lagi gak ada orang, Ibuk lagi ke Jakarta. Adek Aku baru lahiran soalnya, jadi gak usah dikabarin. Lagian cuma luka ringan kok ini, seminggu juga sudah pulih.”


“Ohh gitu, kalao gitu biar Tutik aja yang ngurusin ya, gak papa kan?”


“Aku sih seneng-seneng aja. Tapi emangnya gak ngerepotin kamu?”


“Ya enggak, kan Kang Sugeng kaya gini juga gara-gara Tutik. Tapi palingan nanti Tutik pulang dulu ya, sebentar.”


“Iya gak papa.. makasih ya Tik.”

__ADS_1


__ADS_2