
Waktu satu minggu telah berlalu, Tutik sangat jarang bertemu dengan Sutris. Mungkin hanya sesekali saja mereka berpapasan tanpa saling tegur sapa. Keduanya masih betah perang dingin.
Uang pemberian Sutris satu minggu lalu telah habis tak bersisa, bahkan uang simpanan Tutik pun ikut terpakai untuk ongkos bolak-balik rumah sakit.
Sutris yang merasa diabaikan justru dengan senang hati tidak memberi uang belanja kepada Tutik, menurutnya agar Tutik jera dan kapok karena sudah berani mendiamkan suami.
Siang itu Tutik dibuat bingung manakala tidak ada beras untuk dimasak, sedangkan Bima sebentar lagi akan pulang sekolah. Pagi tadi anak kelas 2 SD itu hanya sarapan dua butir telur rebus, itupun hasil dari ternak Ayam milik Tutik yang sudah kembali bertelur.
Tutik tidak bisa tinggal diam begitu saja, jika sudah menyangkut urusan perut anaknya, Tutik tidak akan membiarkan Bima kelaparan karena menunggu Bapaknya pulang.
Tutik keluar rumah dengan membawa uang pecahan 10 ribu rupiah, uang itu rencananya akan Ia gunakan untuk membeli mie instan, tidak masalah sesekali makan mie instan asal tidak kelaparan.
***
Hari minggu ini, genap sudah dua bulan Sutris tidak pulang serta memberi nafkah untuk Anak serta Istrinya. Namun Tutik sudah tidak ambil pusing, pasalnya wanita berusia 32 tahun itu sudah tidak berharap apapun kepada Suaminya.
Entah pulang atau tidak, semua itu tidak berpengaruh bagi Tutik.
Dengan modal uang lima juta rupiah pemberian Orang Tuanya, Tutik membangun warung makan kecil-kecilan di lahan kosong milik Orang Tuanya.
Warung yang hanya buka dari hari Senin sampai dengan Sabtu itu seakan tidak pernah sepi oleh pembeli, bahkan sesekali Tutik harus menambah pegawai untuk menjaga warung saat Tutik mendapat pesanan untuk masak di rumah Juragan Sugeng.
Ya, pertama kali saat mencoba masakan Tutik, Juragan Sugeng langsung cocok dan ketagihan makan di warung Tutik, sesekali Duda berusia 33 tahun itu meminta Tutik untuk memasak di rumahnya. Saat ada acara, atau bahkan kerap kali saat panen tebu dan singkong.
Masakan Tutik akan dikirim ke ladang dan menjadi santap siang para pekerja di ladang milik Sugeng. Selain perkebunan karet, Sugeng juga memiliki ladang tebu serta singkong.
Bahkan, Bima sudah tidak lagi menanyakan kapan Bapaknya akan pulang, pernah suatu hari Bima pulang sekolah sambil menangis, saat Tutik bertanya, Bima hanya diam dan langsung masuk ke kamaranya.
__ADS_1
"Apa belum pulang juga Suamimu itu Nduk?" Tanya Mak Yati, Ibu Tutik.
"Belum Mak, mungkin Dia sudah bahagia sekarang Mak."
"Terus apa rencanamu selanjutnya Nduk? Suamimu sudah dua bulan tidak pulang dan memberi nafkah."
"Jika Tutik memilih jalan perpisahan apa Mamak akan dukung Aku Mak?"
"Nduk.. Percerian itu sesuatu yang sangat dibenci oleh Allah, tapi Allah juga tidak mengharamkan sebuah perceraian. Apapun yang terbaik buat anak Mamak, pasti akan Mamak dukung."
"Tutik ini sudah tidak dianggap Mak, sekarang Aku sudah bukan tempat suamiku untuk pulang, Dia sudah punya tujuan baru Mak, rumahnya bukan lagi Aku. Terus buat apa juga Aku bertahan Mak?"
"Iya Nduk, Mamak ngerti perasaanmu. Tapi jangan gegabah ya, pikirkan dulu baik-baik. Bicarakan juga sama Mamak Sri, walau bagaimanapun Dia Ibu mertuamu."
"Iya Mak."
Mamak melongo di depan pintu saat melihat seorang Perempuan yang datang bersama dengan anaknya.
"Heh! garangan teko alas endi seng mbo gowo iku Tris?" Musang dari hutan mana yang Kamu bawa itu Tris?
"Kok musang Mak? ini namanya Mayang. Bukan musang."
"Dek, kenalin ini mamakku." Sutris memberi kode pada Mayang, untuk segera menyalimi mamaknya.
Mayang mendekat dan mengulurkan tangan kepada Mamak Sri, namun Mamak Sri hanya diam tidak menyambut.
"Saya Mayang Mak."
__ADS_1
"Sudah tau Aku, kan anakku sudah bilang tadi." Mamak Sri melirik sinis.
"Ada perlu apa Kamu bawa perempuan musang ini kesini Tres?" Mamak kembali bertanya.
"Masuk dulu lah Mak, Aku jelaskan di dalam. Di sini tidak enak dilihat tetangga."
"Mak, Aku mau bicara sama Mamak. Tapi Mamak jangan marah ya?"
"Ya mamak lihat dulu, nanti. Harus marah atau tidak." jawab mamak Sri santai.
Menarik nafas dalam-dalam, dengan jantung berdebar-debar akhirnya Sutris memberanikan diri untuk menyampaikan niatnya.
"Ini Mayang Mak, calon istri kedua Sutris."
"Heh! apa katamu? calon istri kedua? Istri satu saja sudah dua bulan tidak kau beri makan! sekarang mau kawin lagi Kau? apa sudah kau gadaikan otakmu itu Tres? apa mau bikin malu Mamak Kau ini? Mamak sampai tidak berani keluar rumah, saking malunya sama tetangga. Kau lihat itu Istrimu, rela kerja banting tulang sendiri biar tetap bisa kasih makan anakmu! apa sudah dibutakan matamu itu Tres?" seketika emosi Mamak Sri meluap setelah mendengar kalimat yang diucapkan Sutris.
"Kurang apa Tutik sama Kau ini Tres? apa kurang berbakti Dia sama Kau, sama Mamak saja Tutik tidak pernah membantah, selalu nurut apapun perintah Mamak. Apa otakmu itu tidak bisa membedakan, mana perempuan, mana biawak?"
"Mak.. sabar dulu lah Mak.. tolong jangan marah-marah." Sutris mencoba untuk membujuk.
"Bagaimana Mamak tidak marah Tres, jelas-jelas anak Mamak, lagi di jalan yang salah, sebagai orang tua, Mamak wajib mengingatkan."
"Iya Mak.. Sutris tau. Tapi Sutris ini cinta sekali sama Dek Mayang ini Mak, cuma Dek Mayang yang bisa bikin Sutris merasa jadi lelaki seutuhnya Mak. Dek Mayang selalu ngerti apq kemauan Sutris."
"Heh Tres! Kau dengarkan baik-baik ya mulut Mamakmu ini ngomong. Cinta sama nafsu itu beda Tres, Kau sama perempuan biawak ini bukan cinta, tapi sekedar nafsu saja. Mamak tidak mau Kau sampai menyesal nantinya. Apa Kau tidak pernah mikir bagaimana perasaan Si Bima itu?"
"Tapi Mak.."
__ADS_1
"Sudah lah, pusing kepala Mamak! Kau pikir dulu baik-baik apa perkataan Mamak tadi! cepat bawa biawak itu pergi! Mamak tidak mau rumah ini di grebek warga, Mamak mau masuk kamar dulu, pusing kepala Mamak."