Istri Juragan

Istri Juragan
Nasib Mayang


__ADS_3

Setelah menikah, Mayang tidak mau tinggal satu atap bersama mamak mertuanya.


Pasalnya Mayang memang tidak suka dengan sifat mamak Sri yang suka menindas dan semena-mena.


Akhirnya Sutris membawa Mayang untuk tinggal di rumahnya.


Sudah lebih dari satu tahun rumah itu kosong tidak berpenghuni.


Udara pengap langsung menusuk hidung saat pintu utama dibuka, Sutris dan Mayang bahkan sampai terbatuk-batuk.


"Kotor sekali rumah ini Mas? sudah macam sarang hantu saja, aku lihat."


"Ya memang lah Dek.. wajar kotor, sudah setahun lebih rumah ini kosong. Daripada banyak omong lebih baik kau bersihkan!" ucap Sutris sembari berjalan membuka seluruh jendela, perlahan udara pengap berangsur hilang.


"Apa tidak bisa besok saja Mas bersih-bersihnya? aku kan baru sampai." rajuk Mayang.


"Ya tidak bisa lah, memangnya kau mau tinggal di rumah kotor macam sarang jin ini?"


"Ya tidak.." lirih Mayang.


"Ya mangkanya kau bersihkan, cepat. Aku mau ke depan dulu."


"Loh! kok ke depan? ya bantuin aku lah Mas.. masa aku harus bersihkan semua ini sendirian?"

__ADS_1


"Ya iya lah Dek... itu kan kerjaa perempuan, laki-laki itu pamali mengerjakan pekerjaan perempuan." Sutris melenggang pergi meninggalkan Mayang yang masih melongo di ruang tamu.


Dengan perasaan dongkol setengah mati, Mayang akhirnya mencari sapu dan mulai membersihkan rumah.


'Sabar Mayang.. tidak apa-apa kalau sekarang kau disuruh bersih-bersih. Toh rumah mewah ini akan jadi milik kau seutuhnya.' bisik iblis di telinga Mayang. Mayang pun akhirnya bersemangat membersihkan rumah.


Sudah hampir tengah hari, namun Mayang belum juga menyelesaikan pekerjaanya. Rambutnya sudah awut-awutan penuh debu, bahkan pakaian seksinya sudah berganti dengan daster.


"Dek..! kopinya mana?" teriak Sutris dari teras.


Sejak pagi tadi, laki-laki itu tidak sedikitpun membantu, melainkan hanya sibuk main game.


"Sudah tidak mau bantu, sekarang malah minta kopi pula?" Mayang ngedumel sambil terus mengepel lantai yang tak kunjung selesai.


"Dekk..!" Sutris kembali berteriak.


Mayang emosi hingga membanting kain dari tanganya, karena masih kesal, Mayang pun menendang ember berisi air kotor bekas pel, hingga tumpah dan membanjiri seluruh lantai.


"Loh, kok jadi marah kau Dek? membuat kopi itu kan juga pekerjaan istri?"


"Iya! semua pekerjaan istri. Terus pekerjaan suami apa! main game? iya!."


Mayang seketika terdiam ketika melihat Mamak Sri datang bersama dengan Endang.

__ADS_1


Wanita tua dengan riasan tebal serta lipstik berwarna merah cabai itu, berjalan dengan angkuh saat melihat menantu barunya.


Mamak Sri mengulurkan tangan agar disalimi oleh Mayang, namun Mayang yang dasarnya tidak memiliki sopan santun, tentu saja tidak peka.


"Apa Mak? mau minta kain pel, Mamak?"


"Kain pel Mbahmu! salim! dasar manti gak punya sopan santun."


"Ohhh.. bilang dong Mak." Mayang akhirnya terpaksa menyalimi tangan Mamaknya dengan malas.


"Mayannnnnggggg....!" teriak mamak Sri ketika sampai di ruang tamu.


"Apa lah ini mak Lampir ini. Teriak-teriak sudah macam kehilnagan BH saja." rajuk Mayang.


"Apa kau bilang? kau ngatain mamakku macam mak Lampir ya? kau itu yang mak Lampir!" Endang emosi.


"Apa..! siapa yang bilang mak Lampir? dasar Grandong." Mayang tidak mau kalah, dan balas menghina Endang.


"Mayang..!"


"Iya Makk....!"


Mayang bergegas masuk kedalam rumah dan menemui mamaknya.

__ADS_1


"Apa ini? belum ada sehari kau tinggal disini, rumah ini sudah macam kandang sapi saja, kau buat!"


Alamak..! mampus kau Mayang.


__ADS_2