
"Apa maksudmu mengatakan dia anak kita?" tanya Karno tak senang.
"Kecilkan suara mu nanti ada yang mendengar nya," titah Tini sembari melihat kiri kanan. "Biarkan dia menjadi anak kita,kita ini udah tak muda lagi.sudah sepatutnya kita memiliki anak,kamu tahu sendiri dia sedang hamil,ini kesempatan kita untuk menimang cucu," lanjut Tini geregetan sendiri.
"Tidak semudah itu kita mengatakan dia anak kita.di dunia ini kita tidak tinggal berdua saja,saat kita pulang ke rumah pasti banyak yang bertanya dia itu siapa kita.tidak mungkin kita bilang dia anak kita,kalau kita bilang ponakan pasti akan menjadi tanda tanya besar untuk wanita itu." Tini langsung terdiam memikirkan perkataan suaminya.
"Tapi,aku sangat menginginkan dia untuk jadi anak kita," keluh Tini sedih membuat Karno tak sampai hati melihatnya.
"Kalau kamu Masi mau begitu,dengan terpaksa kita harus berhenti bekerja di kantor dan pindah rumah keluar kota.apa kamu siap kehilangan itu semua?" saran Karno.
"Tidak masalah,kita akan memulai kehidupan yang baru bersama intan.kamu merasakan sendiri hidup banyak harta tidak menjamin kita bahagia,lebih baik harta yang kita punya kita korbankan untuk menjadikan intan anak kita," balas Tini membuat Karno tak menyangka dengan jawaban itu.
"Kamu serius?dia itu baru kita jumpai,kita tidak tahu bagaimana tabiat dia,bagaimana jika dia itu jahat dan sifatnya tidak baik?apa tidak sebaiknya di pikirkan lebih matang?" Karno tidak mau mengambil keputusan yang salah yang mungkin berujung penyesalan baginya dan Tini.
"Aku yakin dia baik.jika dia jahat tidak mungkin ujian ini di berikan padanya,tuhan memberi ujian pada hamba-nya yang sangat ia cintai.apakah kamu meragukan karakter seorang manusia yang telah di cintai oleh sang pencipta nya sendiri?" kali ini Karno terdiam memuji diam-diam penilaian sang istri.
"Baiklah,jika itu kemauan mu,akan ku lakukan!"
Setelah melakukan pembicaraan itu,akhirnya mereka pergi keluar untuk sekedar makan dan membelikan berbagai makanan untuk intan.
Karno meninggalkan istrinya di rumah sakit untuk kembali di penginapan dan mungkin ia juga mengurus segala sesuatu sebelum membawa intan ikut bersamanya.
"Loh,ibu datang sendiri.bapak nya mana?" hati tini tersentuh dia terharu akhirnya sebutan *ibu* telah melekat padanya.
"Ibu kenapa?kok malah begong," tanya intan heran.
"Ah,tidak.itu ... bapak kembali ke penginapan ada beberapa barang yang harus ia ambil.ini pesanan mu,ayo,makan.biar ibu suapin." Tini mendudukkan diri di sisi intan dan bersiap menyuapi.
"Baiklah,terimakasih,Bu," balas intan menyabut suapan itu.
"Ya,tuhan aku tidak tahu keputusan ku ini salah atau benar.aku takut wanita ini memiliki orang tua,pasti orang tuanya mencemaskan nya.maafkan aku tuhan jika aku tidak sadar berbuat jahat dengan menjauhkan anak ini dari orang tuanya."
"Kenapa ibu sering bengong?apa ibu memikirkan biaya perawatan ku?jika itu memberatkan ibu lebih baik bawa aku pulang,aku tidak masalah jika di rawat di rumah," ucap intan salah mengartikan ke terbengong an Tini.
__ADS_1
"Ah,tidak,nak.ibu merasa bersalah,karena ibu kurang mengawasi mu sehingga kamu bisa jatuh ke sungai,maafin kelalaian ibu,nak," dusta Tini.
"Ya,Allah maafkan hamba karena sering berbohong akhir-akhir ini.hamba tidak sanggup berkata jujur,hamba takut dia pergi."
"Itu bukan kesalahan ibu,semua sudah qadar Allah tidak ada hubungan nya dengan ibu," balas intan sembari tersenyum.
"Ya, Allah ternyata dugaan ku benar,dia sangat baik."
"Kamu benar.tapi,lain waktu ibu akan lebih siaga lagi,ibu akan menjaga mu."
"Terimakasih,bu.walau aku amnesia tapi aku yakin selama ini aku terlalu banyak merepotkan ibu,terimakasih Bu selalu ada di sisi ku." Tini sedikit terharu.
"Sama-sama,nak.sekarang kamu istirahat,ya.jangan pikirkan yang berat-berat dulu,nanti kepala mu sakit," nasehat Tini.
"Baiklah Bu."
Tak terasa sudah seminggu intan di rawat di rumah sakit,selama itu pula ia tidak melihat sang bapak.sudah sekian kali ia menanyakan pada Tini namun bapak nya itu memiliki pekerjaan sehingga tidak ada waktu untuk menjenguknya atau sekedar menelpon.
"Yang,jemput kita bapak,kan,buk?" tanya intan sedikit senang.
"Sudah,bu.insya Allah semuanya sudah aku masukan tas dan tidak ada lagi yang terlupa," ucapnya yakin.
"Kalau begitu kita nunggu bapak di lobi," ucap Tini telah membawa tas begitu juga intan.
Akhirnya dua perempuan itu pergi dari ruangan itu menuju lobi.ternyata di lobi Karno telah menunggu,intan tersenyum melihat Karno dia repleks memeluk Karno layaknya anak memeluk ayahnya.namun,Karno terdiam kaku tidak membalas pelukan intan dia hanya menatap ke arah Tini.
"Bapak,intan rindu bapak," ucap intan Masi memeluk Karno.
"Nak,bapak mu sedikit lelah.bisa kamu lepaskan pelukan mu," pinta Tini sedikit cemburu.
"Apa ibu cemburu?pak,ternyata ibu Masi cemburu dengan anak perempuan nya sendiri.ibu,cinta pertama anak perempuan adalah bapak nya,jadi jangan cemburu," ledek intan sembari mengandeng lengan Karno.
"Ternyata dia percaya bahwa Karno itu bapaknya,perilakunya selayaknya ia memang anak kandung ku.tini buang jauh-jauh rasa cemburu mu."
__ADS_1
"Kamu sudah besar,dia ini suami ibu.jangan sentuh dia,ibu tak suka," canda Tini melepaskan tangan intan lalu ia ganti menyelipkan tangannya di lengan Karno.
"Cie ... cie ... so sweet," ledek intan tertawa senang sehingga Karno pun ikut tersenyum.
"Ibu mu cemburu,nak," balas Karno seperti nya dia menyukai intan.
"Ia,pak.bapak tahu,ibu melihat handphone nya terus.dia menunggu panggilan dari bapak,dia bilang ke intan kalau dia gak bisa jauh dari bapak," timpal intan sembari tersenyum kearah Tini.
"Gak,ada,ya.ibu cuma lihat paket ibu bukan menunggu panggilan dari bapak mu.ibu juga gak ada bilang gak bisa jauh dari bapak," sangkal Tini.
"Dia membantah tapi tangannya makin erat meluk lengan bapak,hahaha ... " tawa puas intan saat Tini kalah telak.
"Dasar kampret kamu,hahhaha ... " kesal Tini ikut tertawa.
"Kalian berdua ada-ada aja.ayo,kita pulang."
Akhirnya tiga orang itu meninggal kan desa itu.mereka menuju kota untuk memulai kehidupan bersama intan,disana tidak ada seorang pun yang mengenali mereka sehingga tidak ada yang membongkar rahasia bahwa intan bukan anak mereka.
"Apa kamu mual,nak?" sepertinya sebutan 'nak' itu sudah sering di ucapkan Tini sejak ia bertemu intan.
"Tidak,Bu.aku hanya merasa lapar saja," keluhnya.
"Kuat sekali kamu makan, perasaan baru beberapa detik kamu berhenti mengunyah dan sekarang kamu minta makan lagi," protes Karno.
"Wajar pak diakan hamil.dia berbadan dua jadi makannya lebih banyak dari biasanya," sahut Tini sembari memberikan beberapa cemilan pada intan.
"Ia.bapak tidak mengerti.gak boleh pelit sama cucu sendiri pak,nanti cepat tua," nasehat intan.
"Kalau marah itu cepat tua.kalau pelit nanti kuburan nya sempit." Karno membenarkan.
"Nah,itu bapak tahu.jadi,mulai sekarang bapak harus beliin intan banyak jajanan sebagai tanda bapak tidak pelit,ingat pak orang pelit kuburan nya sempit," ucap intan tersenyum puas.
"Hahaha, denger pak jangan pelit," tini ikut membela intan.
__ADS_1
"Dasar kalian berdua suka memeras ku!" ketus karno langsung di sambut suara tawa dari kedua perempuan itu.