Istri Juragan

Istri Juragan
Mayang berulah lagi.


__ADS_3

"Kopi, Mas." ucap Tutik ketika meletakkan secangkir kopi di hadapan Sugeng.


"Trimakasih Sayang..." Sugeng tersenyum lalu menarik tangan Tutik dan menciumnya singkat.


"Lagi banyak kerjaan ya Mas?" tanya Tutik ketika melihat suaminya masih sibuk dengan laptopnya.


Tidak biasanya Sugeng membawa pekerjaan ke rumah, kecuali benar-benar urgent.


"Iya Sayang, Mas lagi cek laporan. Ada sedikit kejanggalan yang Mas temukan. Adek tidur dulu aja ya, gak usa nunggu Mas."


"Aku belum ngantuk kok Mas, gak papa, aku mau nemenin Mas dulu. Emangnya lagi ada masalah apa sih Mas di pabrik?"


"Ini loh Sayang.. hasil panen getah kita belakangan ini kan lagi banyak-banyaknya tuh. Tapi, herannya itu produksi kita justru menurun. Jelas ada yang aneh dong..?"


Tutik manggut-manggut paham.


"Berarti kemungkinan ada yang menggelapkan bahan baku, ini Mas. Kita lapor polisi aja."


"Iya Sayang.. tapi kita gak bisa gegabah juga, main lapor tanpa bukti yang kuat. Mas yakin, pelakunya pasti gak jauh kok. Orang pabrik juga, sementara ini kita diemin aja dulu, pura-pura nggak tau, tapi tetep kita pantau. Kalau dia merasa berhasil dan aman saat pertama kali mencuri, pasti dia akan mengulangi lagi. Kita tinggal nunggu aja Sayang."


"Iya Mas.."

__ADS_1


"Ya udah.. sekarang kita tidur yuk, uda malem. Besok kamu harus bangun pagi kan?" tanya Sugeng.


"Janji ya Mas cuma tidur aja?"


"Enggak janji dong hahahaha.."


Sugeng langsung menggendong tubuh Tutik dan membawanya kedalam kamar.


Sedangkan di tempat lain.


Mayang sedang kesal karena habis diejek oleh teman-temannya.


Ia begitu malu saat kalah saing dengan sesama mantan penyanyi dangdut dari kampungnya.


Tanah, mobil beserta motor telah habis terjual untuk biaya pernikahan. Bahkan Sutris hanya memiliki satu motor beat karbu untuk tranportasi ke pabrik dan kebun.


"Kenapa bibirmu itu Dek? sudah macam bibir kudanil saja aku lihat. Apa habis lipstik mu itu?"


Sutris bertanya kepada Mayang yang cemberut sejak sore tadi. Di ajak bicara pun hanya diam.


"Aku mau, Mas beliin aku mobil. Aku juga mau perhiasan. Malu aku Mas, sama temen-temenku. Pokoknya bulan depan kalau aku mau pergi arisan, mobil sama perhiasan itu harus sudah ada. Mobil nya harus atas namaku, biar mereka percaya kalo suamiku itu kaya dan tidak pelit. Kalau sampe tidak, pokokny aku mau minggat!"

__ADS_1


"Alamak.. kok ada-ada saja permintaanmu itu Dek? mau cari uang dari mana lagi aku?.. kan semua sudah habis untuk biaya pernikahan kemarin itu."


"Aku gak mau tau ya Mas, kamu mau dapet uang dari mana kek, aku gak peduli. Pokoknya bulan depan mobil sama perhiasan itu harus sudah ada!"


Mayang membanting pintu dengan kencang lalu melenggang pergi menuju kamar tamu.


Sutris pun mengejar istrinya, karena takut kalo Mayang beneran minggat.


Tok tok tok..


"Dek.. buka pintunya Dek!" Sutris menggedor-gedor pintu kamar tamu yang dikunci dari dalam.


"Pokoknya aku mau pisah ranjang sampe Mas janji mau beliin aku mobil! Kalo Mas gak janji, jangan harap bisa tidur sama aku!"


Sutris mengacak rambutnya frustasi, sungguh tidak pernah terbayangkan nasib rumah tangganya akan seperti ini.


"Iya.. iya.. nanti Mas belikan, tapi buka dulu pintunya!"


Di dalam sana, Mayang tersenyum licik hingga berjingkrak-jingkrak sebelum akhirnya membukakan pintu.


"Beneran ya.. janji?"

__ADS_1


"Iya..."


__ADS_2