Istri Juragan

Istri Juragan
Pernikahan Tutik dan Sugeng.


__ADS_3

Waktu berlalu terasa begitu cepat, hingga tiba saatnya dimana hari pernikahan Tutik dan Sugeng dilangsungkan secara sederhana.


Tidak ada pesta sampai dua hari dua malam, tidak ada orkes hiburan,bahkan tidak banyak pula tamu yang diundang.


Semua itu atas permintaan Tutik, menurutnya lebih sederhana semakin lebih baik.


Kedua mempelai telah resmi menjadi suami istri satu jam yang lalu. Dengan sekali tarikan nafas, Sugeng telah menghalalkan Tutik untuk menjadi pendamping hidupnya di Dunia.


Acara telah berakhir dan kini hanya tinggal Tutik, Sugeng serta keluarga dari Sugeng.


Orang tua serta keluarga Tutik telah kembali ke rumah masing-masing. Begitupun dengan Bima, anak itu ikut pulang bersama dengan Simbahnya.


"Dek." panggil Sugeng kepada Tutik saat berada di kamar pengantin.


"Iya Mas?" jawab Tutik yang sedang duduk diatas sofa singgle.


Sugeng mendekat dan berlutut di hadapan Tutik.


Tutik pun reflek ikut turun, dan duduk di lantai. Tidak sopan kalau menurut orang Jawa.


"Loh kok ikut turun Dek?"


"Hehe.. tidak apa-apa Mas, tidak sopan kalo ngobrol terus aku duduk diatas, tapi Mas di bawah." Tutik tersenyum.


"Yaudah.. kalo gitu kita ngobrolnya di atas aja.


Tanpa aba-aba, Sugeng menggendong tubuh Tutik dan membawanya ketas tempat tidur, reflek Tutik melingkarkan kedua tanganya di pundak Sugeng.


"Mas.. turunin. Berat loh akunya."

__ADS_1


"Enteng ini Dek, disuruh gendong keliling kampung juga Mas sanggup." kekeh Sugeng.


Tutik tersipu dan menempelkan wajahnya di dada bidang milik Sugeng.


"Dek.. trimakasih ya." ucap Sugeng ketika sampai di atas tempat tidur, keduanya sedang duduk di sisi ranjang dengan saling berhadapan.


"Terimakasih untuk apa Mas?"


"Terimakasih karena uda mau nerima Mas."


"Lah kok gitu? kenapa harus terimakasih?"


"Jujur Mas sudah lama suka sama Adek. lama banget malah."


"Oh ya, kok bisa?"


"Bisa dong.. hahaha mau gak, kalo Mas ceritain awal mula Mas suka sama adek?"


"Wani piro...? hahaha..."


"Ish nyebelin!.." Tutik mencubit pelan pinggang Sugeng.


Sugeng memeluk tubuh Tutik lalu mencium keningnya cukup lama, Tutik bisa merasakan ketulusan serta cinta disana.


'Terimakasih Ya Allah.. terimakasih telah mengirimkan Suami sebaik Mas Sugeng untukku.' Batin Tutik.


"Dek, besok kita jemput Bima ya. Biar rumah ini semakin ramai, Mas uda gak sabar. Rumah ini sebelumnya selalu sepi, semoga kedepanya rumah ini bisa lebih bernyawa setelah Adek sama Bima tinggal disini."


"Iya Mas.. terimakasih ya."

__ADS_1


Tutik mengangguk, canggung dan malu-malu. Sugeng semakin dibuat gemas dengan tingkah malu-malu istrinya.


"Mas, di luar masih ada Ibuk loh, ada keluarga juga. Dipending dulu ya itu nya." ucap Tutik ambigu.


"Itunya apa Dek?" Sugeng sok polos.


"Ya itu Mas.. itulah pokoknya."


"Iya... itu apa? yang jelas dong, mas kan gak ngerti. Adek dari tadi cuma itu-itu aja." Sugeng terus menggoda Istrinya.


"Mas ih. Gak tau ah, aku mau mandi dulu." Tutik bangkit dan bergegas menuju kamar mandi.


"Dek Tungguin.. Mas ikut.." teriak Sugeng mengejar Istrinya.


***


Pernikahan yang sangat sederhana padahal keluarga kaya raya, tentu menjadi topik hangat untuk diperbincangkan dikalangan ibu-ibu.


Apa lagi bagi mereka yang tidak turut diundang dalam acara pernikahan Tutik dan Sugeng. Sudah pasti paling kenceng ngegosipnya.


"Katanya kaya, tapi bikin pesta gak mampu."


Sebut saja itu Marni, wanita yang tidak pernah lelah untuk menebar fitnah dan gosip mengenai Tutik.


"Heh jangan suuzon dulu kau Mar. Mereka itu bukanya tidak mau bikin pesta, jangankan dua hari dua malam, tujuh hari tujuh malam pun aku yakin pasti sanggup itu si Juragan Sugeng bikin pesta. Tidak akan habis harta dia." Bela Siti, sahabat Tutik yang selalu membela kebenaran.


"Halah! buat apa kaya tapi medit." Marni masih saja mengompori.


"Ya gak papa Kaya tapi medit, dari pada situ sudah kismin, medit lagi." cibir Siti.

__ADS_1


"Heh Siti! aku itu bukan kismin ya, cuma aku gak mau sombong aja, jadi gak nunjuk-nunjukin harta sama warisanku." sewot Marni.


"Terserah kau sajalah. Tidak penting pun buat aku."


__ADS_2