Istri Juragan

Istri Juragan
Bulan Madu.


__ADS_3

Tutik memandang sendu dua buah tiket bulan madu Yang baru saja diberikan oleh mertuanya sebagai kado pernikahan.


Bukan Tutik tidak bahagia disuruh untuk berbulan madu, hanya saja Tutik berat jika harus meninggalkan Bima.


"Kalo adek keberatan kita gak usah pergi aja ya Sayang, di rumah juga kan bisa tetep bulan madu tiap hari." ucap Sugeng sambil membelai lembut rambut basah milik istrinya.


"Bukan itu masalahnya Mas, tapi aku berat kalo harus ninggalin Bima."


"Iya Sayang.. Mas ngerti kok. Habis ini kita jemput Bima ya."


Tutik bersiap-siap dan mengeringkan rambut basahnya, Tutik begitu malu jika ketauan sudah keramas 2kali sepagi ini.


Rencana untuk menjemput Bima harus urung manakala Mamak Yati melarang Tutik untuk membawa cucunya, Mamak meyakinkan Tutik jika Bima akan baik-baik saja saat Ia tinggal.


Bahkan mamak memaksa Tutik agar mau pergi berbulan madu.


"Kau tenang saja lah Tik, pasti aman si Bima sama Mamak. Kau pergi saja bulan madu sama suamimu, Mamak pingin cepat-cepat punya cucu lagi, Bima pun pasti senang kalau dapat adik, Tik. Sudah tidak sabar dia." Bujuk Mamak Yati.


"Makk.. "

__ADS_1


"Percaya sama Mamak Tik. Tidak akan apa-apa anakmu itu meski kau tinggal pergi satu minggu."


"Baiklah Mak." Tutik akhirnya menyerah dan menitipkan Bima kepada Mamak dan Bapaknya.


Tutik memnag percaya jika Bima tidak akan apa-apa meski ia tinggal pergi selama satu minggu, hanya saja Tutik tidak bisa jauh terlalu lama dari putra semata wayangnya itu.


Pukul 10 pagi, Tutik dan Sugeng akhirnya berangkat untuk berbulan madu, tidak perlu terlalu jauh sampai ke Bali.


Tutik justru memilih untuk berbulan madu di kotanya sendiri, Jepara memiliki banyak pantai yang sangat cantik.


Cukup untuk Tutik dan Sugeng menghabiskan waktu bersama untuk berbulan madu.


"Terimakasih ya Mas." ucap Tutik kepada Sugeng saat telah sampai di hotel.


Jalan-jalan ke kota, tidur di hotel dan belanja di Mall adalah impian Tutij saat masih menjadi Istri Sutris,namun semua itu justru diwujudkan oleh orang lain.


Sugeng memeluk tubuh Tutik dari belakang, aroma maskulin menyeruak masuk hingga menembus indra penciuman Tutik. Tutik berbalik menghadap suaminya, memejamkan mata dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang sekarang sudah menjadu favoritnya.


Tanpa menunggu lama, Sugeng membopong tubuh Tutik dan membawanya keatas tempat tidur.

__ADS_1


Sore harinya, Tutik dan Sugeng keluar dari hotel karena ingin bermain-main di pantai sambil menunggu matahari terbenam, namun mata Tutik memicing tajam saat melihat seseorang yang sepertinya Ia kenal.


Pria itu terlihat baru saja keluar dari hotel bersama dengan seorang wanita.


"Dek, bukanya itu suaminya mantan adek ipar kamu?" tanya Suveng kepada Tutik.


"Sepertinya iya Mas, tapi sama siapa dia?"


"Apa mau kita samperin saja Dek?"


"Jangan Mas! gak perlu, kita gak usa ikut campur urusan orang lain, lebih baik kita nikmati saja waktu liburan ini."


Sugeng tersenyum lalu mengandeng tangan istrinya berjalan menuju pantai.


3 hari telah berlalu, Tutik dan Sugeng memutuskan untuk pulang lebih awal dari jadwal bulan madu yang telah ditentukan.


Banyaknya pekerjaan, membuat Tutik dan Sugeng harus segera kembalj ke kampung halaman.


"Maaf ya Sayang, kali ini kita gak bisa lama-lama bulan madunya, tapi mas janji, lain waktu kita pergi lagi sama-sama." ucap Sugeng ketika membantu istrinya berkemas.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Mas.. aku udah seneng kok. Lagian ini juga kan musim panen, kita gak bisa pergi lama-lama."


__ADS_2