
"Alhamdulillah,akhirnya sampai.terimakasih banyak pak,bapak hebat banget tadi!gak nyangka aku ternyata bapak bisa mengalahkan mobil mewah itu," cerocos intan sedikit bangga seketika ketakutan beberapa waktu telah sirna di hatinya.
"Ah,Eneng bisa aja.bapak mah udah biasa dengan begituan,dulu waktu bapak Masi muda bapak ini juaranya kalau balap sama mobil," ucap pak Syawal membuat intan tersenyum.
"Intan?!" suara itu berasal dari Karno yang telah menanti intan sedari tadi.merasa kesal karena intan tidak juga masuk ke rumah membuat karno langsung mendekati mereka.
"Kalian ngobrolin apa?kamu syawal jangan macam-macam dengan anak ku.aku tidak Sudi punya menantu tua bangka seperti mu!" seru Karno membuat intan langsung melotot tidak menyangka degan ucapan bapak nya barusan.
"Ih,bapak ngomong apa,sih?bukan nya berterima kasih anak nya udah dianterin malah marah-marah gak jelas," omel intan sungguh saat ini ia masi marah karena bapak nya itu tidak mengantar dan menjemput nya hari ini.
"Syawal kamu apakan anak ku?jangan bilang kamu pelet?" tuduh Karno lagi.
"Ia aku pelet,puas!" jawab Syawal membuat Karno segera mengambil ancang-ancang untuk meninju nya.
"Bapak,apaan,sih.udah,pak Syawal mending pulang aja.untuk yang tadi terimakasih!" ucap intan.
"Oke,sama-sama,neng.
Syawal mulai menghidupkan motor nya kembali dan segera melaju ke arah rumahnya.melihat Syawal telah hilang di pelupuk matanya barulah Karno mulai menginterogasi intan.
"Habis darimana kamu?kenapa bisa pulang bareng dengan pria itu?" cecar Karno tanpa perduli dengan tatapan intan yang sudah berubah.
"Bapak nanya?" balas intan dengan wajah juteknya.
"Dasar anak durhakim kamu!" umpat Karno sedangkan intan masuk kedalam rumahnya.
"Hahahaha," tawa Tini ternyata ia mengintip dari arah jendela.
"Kenapa ibu ketawa-ketawa?" tanya intan sedikit jutek.
"Kamu nanya?hahahaha," balas Tini seperti wajah intan yang melontarkan perkataan itu pada Karno.
"Gak lucu," imbuh intan semakin kesal.
__ADS_1
"Makanya kalau orang tua lagi nanya itu di jawab yang bener," sahut Karno sembari tersenyum.
"Makanya kalau ada urusan itu bilang lebih awal jangan tunggu matahari sudah di atas kepala baru ngomong," sindir intan dan itu membuat Tini kembali tertawa.
"Hahahaha."
Intan masuk kedalam kamarnya sedangkan suami istri itu memilih mengobrol di ruang tamu.
"Kau ini sangat senang sekali jika melihat kami berdebat," ungkap Karno.
"Habis nya kalian berdebat terus jika berjumpa.kamu juga mas terlalu posesif terhadap intan,kasihan dia.dia itu sudah besar biarkan ia menjalani hidup sesuai keinginan nya," nasehat ratu tidak lupa membuka Snack kesukaannya.
"Anak itu tidak bisa kita biarkan begitu saja,bu.meski dia telah besar dia itu Masi butuh didikan dari kita berdua,terutama masalah pergaulan nya.jangan sampai intan salah bergaul lagi,anak kita terlalu baik hingga orang lain memanfaatkan kebaikannya pun ia tak sadar," jelas Karno panjang lebar.
"Inilah alasan ibu males ngomong sama bapak.ibu ngomong baru satu kalimat bapak udah ngomong sepuluh kalimat,bapak itu gak mau Nerima pendapat ibu,bapak itu egois," ujar Tini mulai kesal.
"Bapak itu bukannya egois,buk.tapi bapak itu hanya sedikit tegas.emang ibu mau kejadian yang kemaren terulang,ibu lupa bagaimana anak kita yang hamil di kurung di gudang restoran.ibu udah lupa kah?" ungkap Karno yang memang makin posesif sejak kejadian tragedi itu.
"Yah,gak mau lah,pak.tapi,meskipun begitu bapak gak boleh ngekang anak kita.kasihan dia,setiap mau pergi kemana pun harus di tanya ini dan itu," ucap Tini agar Karno sedikit menyadari sifat posesif nya itu.
"Udah,udah,udah!sekarep bapak ae,ibu males debat dengan bapak."
Akhirnya keduanya memilih diam.tak lama dari kejauhan suara intan memanggil ibu nya.karena merasa tidak ada yang menuju kamarnya dengan terpaksa intan menuju ruang tamu itu.
"Ibu?!" panggil nya Masi dengan wajah cemberut nya.
"Apalagi,nduk?" sahut tini.
"Adam mana?kenapa gak ada di kamar intan?" tanya dengan wajah serius sekaligus panik.
"Emang kamu gak tahu?" kali ini Karno yang buka suara.
"Tahu apa?" tanya intan yang semakin was-was.
__ADS_1
"Tahu isi di colek saus,beuh mantap," timpal Karno lagi tidak lupa menahan senyum.
"Gak lucu!intan nanya serius Adam kemana,buk,pak?" tanya intan sedikit kesal karena di permainkan Karno.
"Coba kamu cek di kamar ibu?" usul Tini.
"Udah,buk,tapi gak ada?" jawab intan.
"Bapak tahu Adam dimana?tapi,sebelum bapak kasi tahu kamu harus ceritain,kenapa kamu bisa di antar tua bangka tadi?" ungkap Karno membuat intan menghela nafas.
"Ternyata bapak sekepo itu," ucap intan lalu duduk di sisi Karno. "Aku jumpa pak Karno saat berada di kompleks perumahan Vira," lanjut intan.
"Loh,ngapain kamu kesana?kamu tadi pagi ke restoran atau bolos ke rumah wanita itu?" tanya Karno yang tidak suka intan berteman dengan Vira.
"Ih,bapak.belum apa-apa udah mau marah aja dengan intan," kesalnya.
"Bukan marah,anak ku sayang,tapi bapak cuma kaget.sok lanjutin ceritanya," ucap Karno lembut.
"Jadi siang tadi nenek nya Vira meninggal.nah,kebetulan di restoran tutup jadi aku bisa izin untuk keluar.intinya pulang dari rumah Vira aku ketemu pak Syawal lalu aku minta entar pulang dengan dia," jelas intan sejelas mungkin.
"Oh,begitu.baiklah bapak percaya.anak mu tidur di kolong ranjang," ungkap Karno.
"Bapak??" ucap serentak Tini dan intan.
"Keterlaluan kamu,bisa-bisa nya Adam kamu biarkan tidur di kolong ranjang.kasihan Adam pasti di gigit nyamuk," omel Tini sedangkan intan telah lari menuju kamar.
"Yah,bagaimana lagi.cucumu itu merajuk pada ku,dia nangis minta es krim.kamu tahu bukan dia baru saja sakit mana mungkin aku turuti.alhasil dia marah dengan ku dan gak mau keluar dari kolong ranjang hingga tertidur," jelas Karno semakin membuat Tini kesal.
"Seharusnya waktu dia tidur bapak pindahin ke kasur jangan di biarin pak, bahaya tau gak?" omel Tini lagi.
"Bapak takut dia kebangun,Bu," balas Karno lagi.
"Bapak ini udah jelas salah gak mau mengakuinya.benar-benar tua bangka keras kepala!" sindir Tini lalu meninggalkan Karno.
__ADS_1
"Buk,kok marah sih!" jerit Karno Masi tidak menyadari kesalahan nya.