Istri Juragan

Istri Juragan
Hamil


__ADS_3

Semua orang berangsur-angsur meninggalkan area pemakaman itu,banyak warga turut bersedih dengan kepergian dara.mereka berpikir wajar saja dara meninggal selain dari umurnya terbilang tua dan juga dara sering sakit-sakitan hingga warga berpikir jika dara meninggal karena sakit.


Meski hanya tinggal berdua,tidak membuat air mata Ani berhenti mengalir dan ia sepertinya tidak berniat untuk beranjak dari liang kubur sang nenek,dia senang tiasa memeluk batu nisan nenek nya.


"Ani,ayo,kita pulang," ajak Wiwit lembut tidak lupa dia mengelus bahu Ani.


"Aku ... tidak mau.aku mau disini,kasihan nenek tidak ada yang menemani," ucapnya dengan mata membengkak dan air mata yang terus bercucuran.


"Tidak baik seperti ini ani.kamu harus ikhlas dengan kepergian nenek mu,ingat satu air mata yang jatuh dari pipimu itu akan memberatkan langkah nenek mu untuk pergi," nasehat Wiwit.


"Wit,bunuh aku!aku ingin pergi sama nenek,wit!" pinta Ani sambil menarik tangan Wiwit untuk mencekek lehernya.


"Apa kamu gila?!hentikan kebodohan ini,ani.ayo kita pulang,kita harus mencari kebenaran!apakah nenekmu memang meninggal atau malah di bunuh!" bentak Wiwit geram melihat Ani yang lemah.


"Hiks ... hiks ... wit,nenek!" tangis Ani memeluk erat Wiwit dan menangis sejadi-jadinya.


"Maaf aku membentak mu!aku hanya tidak bisa melihat mu lemah seperti ini,aku mohon jangan seperti ini!" lirih Wiwit dan membalas pelukan Ani.


Berkat segala bujuk rayu yang Wiwit keluarkan, akhirnya Ani mau beranjak pulang.meski sepanjang perjalanan dia terus menangis sehingga mencuri perhatian warga sekitar.


"Kamu duduk dulu,aku ambil minum.ingat jangan berbuat nekat!" pesan Wiwit dan berlalu pergi.


Wiwit membuat minuman hangat untuk temanya itu,dia tahu karena kejadian itu Ani tidak ada makan apapun.dia kehilangan selera makan karena terlalui sedih dengan kepergian neneknya.semoga dengan minuman yang ia buat dapat mengganjal perut Ani.


"Ani ... aku .... astaghfirullah,Ani!" jerit Wiwit lalu minuman di tangannya jatuh kelantai.


Tanpa memperdulikan minuman berserta serpihan gelas yang berhambur, Wiwit segera berlari mendekati Ani yang terbaring dengan wajah pucat.


"Ani!Ani bangun!aku sudah mengingatkan mu jangan berbuat nekat!Ani bangun!" panik Wiwit sembari menepuk-nepuk pipi Ani.


"Apa yang terjadi?" tanya seseorang sehingga membuat Wiwit kaget.

__ADS_1


"Pak mansur.ini,pak,Ani minum racun," adu Wiwit menyimpulkan sendiri apa yang dialami Ani,sungguh jantungnya ingin lepas jika benar Ani melakukan hal bodoh itu.


"Apa??" kaget pak Mansur lalu merogoh ponselnya untuk meminta bantuan.


Pak Mansur berbicara pada seseorang,entah apa yang ia bicarakan karena Wiwit tidak fokus memperhatikan nya.saat ini fokus Wiwit tertuju pada temannya yang sedang berbaring lemah dengan wajah pucat nya.


"Mana pasien nya!" ucap Seseorang yang baru tiba setelah beberapa menit berlalu.


"Itu,cepat kamu periksa!" desak Mansur.


Wiwit segera berdiri agar dokter mudah untuk memeriksa keadaan Ani,keadaan hening semua mata tertuju dengan apa yang dilakukan oleh dokter muda itu.


"Dia tidak keracunan,dia cuma pingsan!" jelas dokter membuat Wiwit terduduk sambil membuang nafas lega.


"Syukurlah dia tidak melakukan hal bodoh," gumam Wiwit.


"Kenapa dia bisa pingsan?apa dia sakit?" tanya pak Mansur.


"Hamil!!" ucap Wiwit dan Mansyur serentak.


"Ia.dia hamil,usia kandungannya baru sekitar 5 Minggu," balas dokter itu lalu memberikan beberapa obat dan vitamin pada Wiwit.


"Beri dia obat serta vitamin yang saya kasi, semoga dengan meminum ini daya tubuh nya pulih dan janinnya akan kuat kembali."


Tidak ada ekspresi apapun yang di berikan Wiwit,dia hanya terdiam bak patung hingga pak Mansur dan dokter muda itu pergi.


"*Ya allah semoga anak itu adalah anak juragan,jika anak itu ternyata anak laki-laki breng*sek itu aku yakin Ani semakin sedih.kenapa aku selalu engkau tempatkan keadaan yang serba salah seperti ini,tuhan.aku harus melakukan apa?aku harus memberitahu Ani tentang kehamilan nya atau tidak*."


Disaat Wiwit dilanda kebingungan,Ani mulai membuka matanya,saat dia sadar dia mencoba duduk sambil bersandar,tidak lupa dia memegangi pelipisnya.


"Apa kamu baik-baik saja?" cemas Wiwit sambil merapikan anak rambut Ani.

__ADS_1


"Badan ku tidak nyaman,wit.kepalaku sangat sakit sekali," terang Ani dengan suara lemah.


"Kamu minum dulu," pinta Wiwit lalu membantu Ani minum.


"Wit,tadi aku mimpi aneh," ucap Ani membuat Wiwit langsung menatap manik mata Ani.


"Mimpi apa?"


"Aku mimpi bermain dengan anak kecil,anak itu mirip sekali dengan baja,aneh kan mimpiku," cerita Ani.


"Tadi waktu kamu pingsan kamu di periksa oleh dokter,terus dokter itu bilang kamu ha-mil" ucap Wiwit membuat Ani langsung menoleh pada temannya itu.seakan-akan ucapan Wiwit menjawab arti mimpi yang ia alami barusan.


"Apa kamu bilang?!aku ... aku ... hamil," kaget Ani sambil meraba perut datar nya.


"Ia.semoga dengan kehadiran anak itu kamu tidak merasa seorang diri lagi di dunia ini,jika aku pergi kamu Masi ada anak itu yang lindungi kamu," ucap Wiwit menahan kesedihan.


"Apa maksudmu?jangan bilang kamu mau pergi seperti nenek!" ujar Ani neneknya saja belum satu Minggu meninggalkan nya dan sekarang Wiwit juga akan meninggalkan nya.


"Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk kamu mengetahui semua tentang ku,aku tahu kamu sangat sedih hari ini.tapi,biarkan kesedihan ini datang secara bersamaan agar kedepannya kamu tidak perlu bersedih lagi." Wiwit tersenyum sembari mengelus perut datar ani.


"Di tubuhku tepatnya di bagian kepala,ini ada kanker otak.dia telah lama tinggal di sini sehingga dengan cara apapun aku mengusirnya dia tidak beranjak sedikit pun, menurut dokter umur ku akan habis bulan depan,jadi ... " Wiwit tidak bisa melanjutkan ucapannya karena pipi Ani basah dan Ani membungkam mulutnya untuk menahan tangisnya.


"Kamu bohong kan,wit!ayo,bilang semua ini bohong," pinta Ani kelopak mata semakin membengkak.


"Kamu harus menerima kenyataan ini,aku senang di sisa umurku aku bisa bertemu dengan orang sebaik kamu,jangan sedih.pada akhirnya semua orang akan mati,aku harap kita akan bertemu di alam yang berbeda," ucap Wiwit setenang mungkin meski dia tidak bisa berbohong bahwa hatinya juga ikut sedih.


"Kenapa??kenapa semua orang yang baik pada ku di ambil?jika terus begini aku membencimu tuhan!" teriak Ani histeris.


"Tidak boleh berkata seperti itu,percayalah ini jalan yang terbaik yang Tuhan beri untuk mu."


Ani tidak berkata apapun lagi,dia memeluk temannya itu dengan erat dia takut Wiwit pergi meninggalkan nya detik itu.

__ADS_1


__ADS_2