
Lasmi terbayang-bayang dengan apa yang baru saja ia lihat dan dengar.rencana jahat itu sungguh menghantui pikirannya.
Waktu ia bersembunyi tadi jantung nya berpacu sangat cepat karena ia takut ketahuan menguping pembicaraan itu,untung saja dia dapat pergi dari sana dengan mulus.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang?apa aku harus pergi menemui nona Ani?tapi sepertinya mata-mata sangat banyak mengintaiku,lebih baik aku tulis saja dan lalu mengirim surat ini pada nona Ani."
Dengan tangan bergetar Lasmi berusaha menulis di kertas kosong itu.sembari dia menulis dia memperhatikan keadaan sekitar kamarnya dia berharap tidak ada yang memperhatikannya.
Sedangkan di sisi lain,setelah melakukan pembicaraan yang serius mereka melanjutkan dengan sedikit pemanasan di atas sopa.
"Kau tidak pernah berubah,selalu memabukkan," puji Tito setelah merapikan pakaian nya.
"Kau juga tidak pernah berubah,selalu jago membuatku terbang ke nirwana," puji raya balik sembari memakai kembali **********.
"Jika begini aku semakin semangat melakukan rencana mu," pungkasnya.
"Harus Dong.udah buruan pulang nanti anak buah mu sibuk mencari," usir raya.
"Baiklah aku pulang," pamitnya Masi dengan senyum mengembang.
Saat Tito ingin berlalu dari sana,tidak sengaja ia menemukan gelang seseorang.setelah memungutnya dia langsung terdiam dan berpikir.
"Ah,sial!" umpat nya sambil menggenggam gelang itu dengan kasar lalu kembali lagi ke tempat raya.
"Ada apa lagi?" cetus raya melihat kedatangan Tito kembali.
"Kenapa kamu ceroboh sekali?" amuknya dengan wajah kesal.
"Loh,kok marah-marah,sih.aku gak ngerti apa maksud kamu?" omel raya tak terima Tito marah padanya.
"Lihat,ada yang menguping pembicaraan kita," jelas Tito sembari melihatkan gelang di tangan nya.
"Kurang ajar!berani orang itu melakukan nya!" marah raya merampas gelang itu lalu memerhatikan nya.
"Apa kamu tahu siapa pemilik gelang itu?" tanya Tito mendarat kan pantat kembali di samping raya.
__ADS_1
"Wanita itu!ini adalah gelang lasmi.gelang ini pemberian engkong baja,pasti si Lasmi itu yang menguping pembicaraan kita," pungkas raya lalu melempar gelang itu dengan kesal.
"Wanita gila itu benar-benar mencari mati!" maki Tito.
"Malam ini kamu harus membunuhnya.aku tidak mau semua rencana ku gagal total," desak raya.
"Aku akan melakukan nya.aku pulang dulu,kamu perintah kan orang mu untuk mengawasi si Lasmi itu," pesan Tito lalu pergi.
Setelah kepergian Tito raya langsung bergerak menuju tempat lasmi.namun langkahnya terhenti saat sampai di pertengahan jalan,dia tiba-tiba diam mematung dan lalu berputar arah dengan raut kesal nya.
"Aku tidak mungkin mendatangi Lasmi secara terang-terangan.nanti dia akan mengetahui bahwa aku sudah tahu bahwa ia menguping,jika hal itu terjadi dia pasti kabur atau bersembunyi di tempat aman.akan sulit membunuhnya jika sampai dia bersembunyi."
Begitulah pendapat raya yang membuat dia mengurungkan niat untuk mendatangi Lasmi,meski dia tidak jadi kesana namun dia tetap meminta orangnya untuk mengawasi Lasmi dan menangkap nya.
Sementara itu disisi lain Lasmi baru saja menyelipkan surat itu kedalam buku panduan hamil milik Ani,dia berharap Wiwit datang untuk mengambil buku itu dan menemukan surat yang ia tulis barusan.
"Semoga saja Wiwit jadi mengambil buku ini,rasanya aku tak tenang jika harus mati duluan sebelum menyelamatkan nona ani.semoga kalian berdua baik-baik saja."
Firasat Lasmi sangat kuat,dia merasa hidupnya tidak akan lama lagi.sebelum itu terjadi dia rasanya ingin sekali memeluk Ani untuk terakhirnya kalinya,entah mengapa dia punya keinginan seperti itu.padahal Ani bukan siapa-siapa nya namun Lasmi bisa menyayangi Ani sedalam itu meski baru mengenalnya.
"Aku tidak bisa mengurung diri di sini,pokonya nanti malam aku harus keluar.aku tidak bisa membiarkan orang jahat itu masuk kemari,bisa-bisa dia mengetahui surat itu dan kehamilan nona ani.aku harus mencegah mereka bagaimana pun caranya."
"Wit,wajahmu makin pucat aja.kamu udah minum obat apa belum?" tanya Ani memperhatikan wajah sahabatnya itu.
"Udah,kok.wajah ku memang seperti ini," balasnya agar Ani tidak menghawatirkan keadaan nya.
"Semoga ucapan mu benar,aku tidak mau lagi melihatmu pingsan," lirih Ani sedikit cemas.
"Aku tidak akan pingsan lagi,jangan terlalu mencemaskan ku itu tidak baik untuk kandungan mu," nasehat nya.
"Terimakasih sudah mengingatkan."
"Apa kamu tidak menginginkan sesuatu?biasanya orang hamil suka ngidam,apa kamu termasuk?" tanya Wiwit memperhatikan perut ani yang membuncit.
"Ada.aku ingin singkong bakar," ucap Ani dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Aku akan memenuhinya.sore ini kita akan makan singkong bakar," balas Wiwit di sambut sorakan gembira dari Ani.
Sesuai menu ngidam nya ibu muda itu,kini dua manusia itu sedang menyalakan api unggun mini dan memegang sate singkong masing-masing.bau harum mulai tercium menandakan singkong mereka telah matang.
"Harumnya," puji Ani sambil menghirup aroma itu.
"Nih,sambel terasinya.singkong bakar akan lebih nikmat jika di cocol dengan sambal terasi buatan ku," usul Wiwit menyodorkan sambal itu.
"Kenapa bau harumnya hilang?" rengek ani dengan raut muka kesal.
"Itu karena singkong nya udah Mateng Dan kita tidak bakar lagi," balas Wiwit agar Ani mengerti.
"Yasudah kalau begitu aku bakar lagi singkong ini," ucapnya.
"Jangan!nanti hangus! lebih baik kamu cepat makan singkong sebelum keburu dingin dan gak enak lagi," cegah Wiwit cepat.
"Aku gak mau makan singkongnya,aku cuma mau nyium aroma nya," bantah nya tetap membakar singkong itu kembali.
"Apakah ini yang disebut ngidam?aku baru percaya jika ngidam nya orang hamil itu tidak ada yang masuk akal."
Wiwit hanya dapat menatap miris pada singkong milik Ani,singkong itu telah hitam menyerupai arang karena berada di tangan yang salah.
Ingin menegur rasanya percuma karena tidak mungkin Wiwit berdebat dengan orang hamil,yang ada dia makin pusing.
"Bik Lasmi mana,ya?" tanya ani setelah melempar singkong di tangannya kedalam api.
"Mungkin kerja," tebak Wiwit sambil mengelap peluh di keningnya karena rasa pedas dari sambal terasi miliknya.
"Perasaan dia ingin memberi ku buku,tapi kenapa bukunya belum juga ada di tangan ku?" sindir Ani Karena ia ingat ucapan Wiwit yang berjanji akan mengambilkan buku itu untuknya.
"Beberapa hari ini aku sibuk.aku tidak sempat mengambil buku itu,kemungkinan nanti malam aku ambil," jelas Wiwit.
"Perasaan kemaren ada yang bilang siang nanti,ini malam nanti,siang ke malam,nanti pagi ke sore," sindir nya lagi membuat Wiwit tergelak.
"Hahaha ... tempramen ibu hamil mulai terlihat.sepertinya aku harus lebih berhati-hati berucap takutnya di amuk ibu hamil," ledek nya mencairkan suasana hati Ani.
__ADS_1
"Emang aku sebelum hamil udah begini,kok.kamu aja yang gak sadar!" kesal ani dengan wajah masam.
"Astaga salah lagi!" balas Wiwit mengusap punggung Ani untuk menurunkan emosinya.