Istri Juragan

Istri Juragan
Deman


__ADS_3

Satria menatap nanar pada obat pemberian Kelvin barusan.sejak di tinggal istri tercinta baja sering mengalami demam seperti ini,sebenarnya satria khawatir akan kesehatan majikan nya.namun,apa yang bisa ia lakukan jika hal itu menyangkut luka di hati.


"Semoga anda segera pulih," doa satria yang memilih menarik kursi dan menelungkup,kan wajahnya di sisi baja.


Perlahan kelopak mata seseorang mulai terbuka,meski dia Masi bingung dengan apa yang terjadi,dia tetap berusaha untuk menyandarkan punggungnya di sisi ranjang.


"Ani.malam tadi aku bermimpi bertemu dengannya,tapi kenapa di mimpi ku juga ada anak kecil?sudahlah mungkin aku terlalu merindukan nya sehingga terbawa mimpi aneh itu."


"Kenapa dia tidur di sini?apa aku kembali demam lagi?sial,kenapa aku lemah sekali?jika sampai musuh tahu ini semua pasti mereka akan tertawa!" gerutu baja lalu menyibakkan selimut.


Tanpa menganggu tidur nyenyak satria,baja memilih mandi dan sarapan seorang diri.dia tahu satria kelelahan karena mengurus pekerjaan di tambah merawatnya malam tadi, sehingga ia membiarkan satria tidur begitu saja.


"Jika dia bangun katakan untuk membersihkan diri dan sarapan,lalu minta dia untuk menemui ku di lantai dasar," titah baja pada salah satu pelayan.


"Baik,tuan."


Dekorasi kapal mewah itu sungguh memperindah mata baja,dia akui bahwa kapal milik Austin itu sangat indah sehingga dapat membuat siapapun yang datang akan terkagum dengan dekorasi yang sederhana itu.


"Bagaimana tidur mu?apa kau baik-baik saja?kata pelayan kau mabuk berat semalam sehingga tidak sadarkan diri," tanya Austin tiba-tiba yang muncul entah dari mana.


"Aku anggap perkataan mu barusan adalah ledekan untuk ku," balas baja seolah tersinggung dengan ucapan Austin.


"Astaga,jangan salah paham.aku bukan mengatakan bahwa kau peminum yang buruk,aku hanya cemas dengan keadaan mu saja," jelas Austin.


"Aku tidak butuh perhatian mu itu,jadi jangan pernah mencemaskan keadaan ku," ucap baja lagi sembari memasukan kedua tangannya di saku celananya.


"Sangat tidak ramah." Gumam Austin.


Keributan mulai terjadi di sebuah rumah sederhana,rumah itu di penuhi oleh suara tangisan anak kecil.hal itu tentu saja membuat penghuni rumah itu khawatir dan panik.


"Ada apa,nak?" tanya Karno yang mendengar suara tangis Adam yang tak kunjung berhenti.


"Gak,tahu,pak.ini Adam nangis terus,gak seperti biasanya," balas intan yang masi berusaha menenangkan Adam.


"Apa dia sakit?" imbuh Tini.


"Gak tahu,buk."


"Sini,coba ibu yang gendong," tawar Tini mengambil alih sang cucu.

__ADS_1


"Bu,aku kebelakang sebentar ya,aku mau menghubungi pak Lilik," pamit intan.


"Loh,kenapa kamu menghubungi bos mu?" tanya Karno heran.


"Intan mau izin gak masuk kerja,pak.intan,gak bisa kerja kalau Adam kayak gini.yang ada intan kepikiran terus," jelas intan.


"Ya sudah,pergilah hubungi bos mu itu."


Tini mencoba untuk membujuk cucunya yang masi rewel itu.melihat hal itu Karno juga ikutan membuat gurauan kecil agar sang cucu kembali tertawa.


"Nang Ning ninang oy,cucu kakek kenapa,hm," tanya Karno pada akhirnya karena Adam Masi terus menangis dan tidak berhasil di bujuk.


"Coba,deh,bapak yang gendong.mana tahu dia mau dengan kakek nya," usul Tini.


"Gak berhenti juga,Bu.mungkin Adam masuk angin,coba ibu ambil minyak telon lalu di usap di perut sama punggung nya," saran Karno lagi sembari mengusap lembut rambut Adam.


"Bapak, tunggu sebentar.ibu ke kamar dulu," gegas Tini.


"Alhamdulillah di izinkan,pak," celetuk intan yang datang dari arah dapur.


"Baguslah.ini kenapa Adam bisa nangis kejer begini?apa semalaman kamu menghidupkan kipas angin?" cecar Karno.


"Mungkin anak mu masuk angin,lain kali gak usah kipasan semalaman,biarkan anak mu berkeringat karena itu menyehatkan," nasehat Karno lembut.


"Lain kali,tidak akan intan ulangi."


Tak lama Tini datang dengan minyak telon di tangannya.dia langsung membuka baju Adam dan mulai membalurkan minyak itu di perut dan juga punggungnya.


Namun saat dia memperhatikan punggung Adam,ternyata ada yang aneh.ada sesuatu yang benjol dan membengkak,karena penasaran Tini segera memperhatikan benjolan itu.


"Ini,apa?apa dia di gigit serangga?lihat,bengkak seperti ini!" ujar Tini membuat intan segera melihat punggung Adam.


"Astaghfirullah,apa mungkin di gigit penyengat,buk?" tebak intan.


"Mungkin saja," sahut Karno.


"Bapak,cepat beli obat.kasihan Adam,pak.orang dewasa saja jika di gigit serangga akan merintih apa lagi adam yang masi kecil," panik Tini sembari meniup benjolan itu.


"Bapak,pergi dulu.cucu kakek sabar ya,kakek akan segera bawa obat," ucap Karno lalu mencium cucunya itu.

__ADS_1


"Maafin,bunda,ya,nak.bunda tadi malam tidur nyenyak,sehingga membiarkan kamu main sendirian," sesal intan memeluk Adam yang telah sesegukan itu.


"Ini semua terjadi bukan karena kamu lalai,tapi sudah takdirnya Adam akan di gigit serangga.lagi pula wajar kamu tidur karena kamu juga capek karena seharian bekerja," sanggah Tini.


"Begitu,ya,buk.semoga adam segera pulih,intan gak bisa lihat dia nangis terus kayak gini," sedih intan.


"Amiin.kamu harus semangat gak boleh sedih,nanti siapa yang menghibur Adam jika kamu ikut sedih seperti ini," nasehat Tini agar intan kembali semangat.


"Ibu,benar.aku harus kuat,sakit Adam tidak sebesar apa yang ia rasakan saat ada di perut ku," balas intan tiba-tiba teringat kejadian beberapa tahun silam.


"Nah,itu kamu tahu.anak mu itu kuat,buktinya dia bisa bertahan di perut mu,meski kamu kecelakaan dan hanyut di dalam sungai.jadi,jangan sedih,nak.sakit itu adalah hal yang manusiawi," terang Tini lagi membuat senyuman intan kembali terbit.


Akhirnya hari itu intan tidak pergi kemanapun,ia fokus pada Adam.berkat obat pereda nyeri yang Karno berikan,perlahan Adam kembali aktif lagi meski sesekali kembali nangis karena rasa nyut-nyutan yang muncul silih berganti.


Ting.


Pesan masuk di handphone intan,setelah membaca isi pesan itu intan tersenyum.karno yang memperhatikan itu sedikit curiga,dia takut yang mengirim pesan itu adalah seorang laki-laki yang hanya berniat mempermainkan anaknya.


"Tan,apa Adam beneran sakit?kami dengar Lo gak masuk karena anak Lo sakit.rencanya kami ingin jenguk Adam,tapi takut di teriakin penculik anak Ama bokap lo.kan,gak lucu kami datang di gebuki tangga Lo."


"Siapa,nak?" tanya Karno membuat intan terkejut hampir saja handphone di tangannya terjatuh.


"Astaghfirullah,bapak ngangetin aja."


"Siapa yang kirim pesan sama kamu?" ulang Karno tanpa memperdulikan intan yang kaget itu.


"Itu ... nisa.dia nanyain kabar Adam," jelas intan jujur meski Karno tidak senang mendengar nya.


"Hapus no dia.bapak gak mau dia sok baik lagi sama kamu,mereka itu jahat.jika tidak kamu memaksa mungkin bapak sudah membuat mu berhenti bekerja," omel Karno seperti dugaan intan.


"Bapak gak boleh gitu.mereka itu udah berubah,apa bapak lupa orang yang ingin membunuh Rasullullah saja kini terkubur di samping beliau,hal itu mengajarkan kita untuk saling memaafkan dan memberikan kesempatan kedua untuk orang yang pernah melakukan kesalahan," nasehat intan agar Karno mengerti.


"Mereka itu manusia akhir zaman,nak.tidak bisa kita menerima orang jahat begitu saja dan kamu tidak boleh memaafkan mereka begitu saja,kita itu harus melihat sejauh mana mereka berubah dan berkorban untuk kita.setelah kita memastikan itu semua baru kita bisa menjadikan mereka teman," bantah Karno membuat intan menghela nafas.


"Udah,jangan debat terus.kalian masuk, mending ngopi sambil makan ubi rebus,ibu," sahut Tini guna menengahi perdebatan itu.


"Tau,ah.sebel lihat bapak," ucap intan membuat Tini hanya tertawa.


"Kamu itu malah ngeyel nek di omongi,nduk," imbuh Karno lagi semakin membuat Tini tertawa.

__ADS_1


__ADS_2