
Tak terasa setengah tahun sudah intan masuk dalam kehidupan Karno dan tini.selama itu pula hidup mereka benar-benar di uji.semenjak berhenti dari kantor Tini di minta tidak bekerja lagi oleh Karno.
Karno sendiri sudah beberapa kali ganti pekerjaan,hingga dia memilih bekerja serabutan.melihat keadaan ekonomi kedua orang tuanya memburuk intan memutuskan bekerja.
Awalnya Karno tidak setuju namun akhirnya ia mengalah dan membiarkan anaknya itu membantu perekonomian nya.
"Hati-hati.ingat kamu lagi hamil,sebentar lagi lahiran.jagan angkat berat-berat,jangan lupa makan tepat waktu," pesan Tini entah mengapa ia risau dengan putri nya itu.
"Ia,Bu."
Seperti biasa Karno yang mengantar intan,dia sebenarnya curiga dengan anaknya itu.karena semenjak bekerja intan lebih pendiam dan jarang keluar kamar.karno khawatir putrinya itu tidak mendapat perlakuan baik dari rekan kerjanya.
"*Intan,baik,pak.hanya sedikit lelah saja."
"Gak,apa-apa.hanya sedikit kelilipan,intan enggak nangis,kok*."
Karno Masi terbayang jawaban intan ketika Karno menjemputnya,dia selalu merasa aneh setiap menjemput pulang putri nya itu.dia merasa intan baru saja mendapat kekerasan,mengingat intan yang tengah hamil membuat Karno semakin khawatir bahwa intan akan mendapat cemoohan dari klien maupun rekan nya.
"Aw,tangan ibu.aduh ceroboh sekali aku," gerutu Tini.tangan nya berdarah karena tidak sengaja teriris saat ia memotong bawang.
"Ada,apa buk?" Karno yang sedang makan langsung ke dapur untuk melihat Tini.
"Tangan ibu luka,pak," balasnya dengan tangan Masi di bawah kran.
"Aduh,ibu ini kalau masak hati-hati," omelnya tapi segera bergerak mencari obat.
"Pak,kenapa,ya?hari ini perasaan ibu gak enak banget.ibu cemas dengan intan,pak." Tini memilih bercerita tetang keganjalan di hatinya.
"Bapak,juga,bu.makanya bapak memilih pulang, biasanya bapak makan siang di sawah.bapak khawatir sama intan,buk.semenjak kerja dia seperti menyembunyikan sesuatu dari kita," ucap Karno sembari mengobati tangan yang luka itu.
"Semoga anak kita baik-baik saja,pak.semoga dia selalu dalam lindungan yang maha kuasa."
__ADS_1
"Amiin."
Waktu telah sore,seperti biasa Karno akan menunggu intan di parkiran.namun hari ini sangat berbeda karena intan belum muncul juga,biasanya anak nya itu selalu tepat waktu jika ia jemput.
"Kemana kamu,nak.restoran sudah sepi,tapi,kamu gak nonggol-nonggol.apa dia pulang duluan,ya?" pikir Karno memilih berjalan lebih dekat ke restoran untuk mencari keberadaan intan.
Dari kejauhan matanya dapat menangkap ada seorang pria muda yang sedang berlari kearahnya.karno tidak kenal pria itu jadi dia mengacuhkan nya saja.
"Pak ... bapak harus ikut saya," pintanya dengan nafas Masi naik-turun.
"Saya gak kenal kamu.saya gak mau ikut kamu," tolak Karno.
"Ini demi keselamatan intan.anak bapak terkunci di ruang pengawet makanan,disana dingin pak dan oksigen di sana sangat kecil." pria itu memelas pada Karno agar mau percaya padanya.
"Apa??"
Karno meminta pria itu berlari sesegera mungkin untuk menunjukan di mana ruangan itu.karno berlari sekencang mungkin dan hatinya berdzikir agar anaknya itu dapat bertahan.
"Intan,apa kamu dengar bapak,nak?bertahanlah,nak,bapak akan menolongmu." Karno berteriak keras agar anaknya itu mendengar nya.
"Kau minggir,lah,aku akan menerjang pintu itu," titah Karno membuat pria itu langsung menurut.
Tiga kali terjangan dan pintu itu benar-benar bongkas.sebenarnya Karno bisa saja membobol dengan satu terjangan,namun ia takut intan ada di balik pintu dan bisa saja terluka.dengan mendengar terjangan pertama mungkin intan bisa menjauhi pintu.
"Intan!!" pekik Karno dan langsung masuk.
Panik bercampur sedih Karno rasakan.ia mendapati intan telah menggigil dan seluruh tubuhnya pucat.tidak ingin terlarut dengan rasa sedih Karno memutuskan untuk membawa intan ke rumah sakit.
Beruntung pria tadi memiliki mobil dan mau mengantar ke rumah sakit.sampai di rumah sakit intan langsung di tangani oleh dokter sementara pria tadi di interogasi oleh Karno.
"Ya,Allah,anak ku,jahat sekali orang itu.anak ku perempuan baik-baik kenapa mereka mengganggap hina anak ku?" sedih Karno setelah mendengar pengakuan dari pria itu.
__ADS_1
"Maafkan saya,pak.saya tidak bisa menjaga sepenuhnya anak bapak.saya tidak memiliki kekuasaan besar untuk melakukan nya," ucap turut sedih.
"Jika,tahu begini lebih baik anak ku duduk manis di rumah.aku Masi bisa memberinya makan dan memenuhi kebutuhannya.aku juga terlalu bodoh,aku tidak pernah menyelidiki bagaimana keseharian anak ku selama bekerja,aku bodoh sekali." sesal Karno tidak dapat membendung rasa bersalah nya,ia merasa apa yang terjadi pada intan adalah kelalaian ia sebagai orang tua.
Tak lama dokter keluar dengan raut wajah tak terbaca.mengetahui hal itu Karno berdiri dan menyiapkan mental untuk mendengar penjelasan dokter.
"Pasien harus segera melakukan operasi sesar.anda selaku orang tua harus menentukan pilihan,Operasi ini darurat jika tidak di lakukan maka keduanya tidak terselamatkan,kan." seketika hati Karno bergemuruh saat ini ia sangat takut.namun ia berusaha mengontrol nya.
"Tapi,jika dilakukan operasi sesar apakah keduanya akan baik-baik saja,dok?" tanya Karno meski dia takut jawaban dokter semakin membuat ia cemas.
"Hanya salah satu saja atau ada yang koma.tapi semua tergantung oleh takdir yang kuasa.ini semua Masi perkiraan saya," ucap dokter itu.
"Apapun dokter tolong selamatkan anak saya,lakukan yang terbaik dokter," pinta Karno.
"Saya akan usahakan."
Pria yang menolong intan telah pulang beberapa waktu lalu.kini tinggal Karno dengan kertas yang masi ia pegang dan lihat dari tadi,hingga ia tiba-tiba teringat pada istrinya.
"Apa yang harus ku lakukan,ya Allah?Tini,maafkan aku yang gagal menjaga anakmu." tangis nya ujian kali ini sungguh membuat hati Karno terguncang ia tidak dapat menahan kesedihan nya.
Banyak sekali yang ia pikirkan salah satunya biaya operasi dan perawatan selama intan berada di sini.ia Masi mencoba mencari jalan untuk melunasi biaya tersebut.tidak sanggup menghadapi semua ini ia akhirnya memilih untuk mengabari Tini.
Kini tinggal menunggu istrinya itu.sesuai dugaan,Tini datang langsung cemas dan panik. air matanya sedikit mengering mungkin istrinya itu telah menangis sejak mendapat kabar Tetang hal ini.
"Pak,intan ... " sedihnya.
"Kita harus kuat,buk.ini semua sudah takdir intan,kita doakan saja semoga dia lekas sembuh dan kembali bersama kita." Berusaha terlihat baik itu tidak mudah,menenangkan orang lain sementara hati kita tak karu-karuan itu juga tidak mudah.namun,sebagai kepala keluarga harus bersikap tenang dan bijak untuk orang di sekitarnya.
"Ya,Allah selamatkan,lah,intan."
Akhirnya satu masalah terselesaikan,Karno dan Tini sepakat untuk menjual rumah mereka untuk biaya pengobatan intan.saat ini harta tidaklah penting,karena bisa di cari kapan pun.namun kesehatan dan keselamatan intan adalah yang utama di pikiran keduanya.
__ADS_1