Istri Juragan

Istri Juragan
Bab 22


__ADS_3

Mamak Sri terlihat sedang berselonjor kaki di atas karpet, tangan nya sibuk mengotak-atik remot tv untuk mengganti canel.


Hingga pilihanya berhenti pada sebuah acara gosip infotaimen favoritnya.


Matanya seakan enggan berkedip saat menonton berita Lesti yang sedang berbelanja popok untuk anaknya, menurutnya berita itu sangat penting.


Sutris berjalan gontai memasuki rumah hingga duduk di samping mamaknya.


Mamak Sri bahkan enggan menoleh meski berkali-kali mendengar Sutris menghembuskan nafas frustasi.


"Kenapa kau ini tidak pulang ke rumahmu sendiri saja. Bekin sepet mata mamak saja kerjaanmu." Sarkas mamak Sri.


"Kok tega seklai Mamak ini sama aku. Rumahku kan sepi mak, mana kotor, tidak ada makanan pula. Jadi lebih baik aku tinggal di sini saja lah Mak, horor sekali rumahku itu sekarang, Mak. Sudah macam tempat jin buang anak saja."


"Kau bilang aku ini mamakmu, tapi kau tidak pernah mau dengar saranku. Lebih baik kau pergi sajalah! terserah mau tinggal dimana, itu bukan urusanku."


"Mak... tolong lah Mak.. restui hubunganku sama dek Mayang Mak.." Sutris merengek hingga berlutut di bawah kaki mamaknya.


Mamak Sri terlihat menghela nafas berkali-kali, perasaanya tentu gusar.


Ingin membiarkan saja Sutris menikah dengan Mayang, namun di sisi lain, mamak seakan sudah bisa menebak bagaimana alur cerita mereka kedepanya nanti.


"Sudah lah, terserah kau saja." Pasrah mamak Sri.


"Mamak mengizinkan aku menikah sama dek Mayang Mak?" Sutris tersenyum lebar.


"Iya, terserah kau saja."


"Alkhamdulillah... terimakasih Mak! terimakasih." Sutris memeluk erat hingga mengguncang-guncangkan pundak mamaknya.


"Besok kau bawa si Kuyang itu kesini, bertemu Mamak."


"Mau Mamak apakan dek Mayang nanti?" selidik Sutris.

__ADS_1


"Ya terserah Mamak lah! suka-suka hati mamak mau apakan si Kuyang itu. Kau mau tidak, dapat restu dariku?"


"Iya Mak, mau Mak. Besok Sutris bawa dek Mayang ke hadapan Mamak."


"Bagus."


Hari ini rencananya Ibu Sugeng akan kembali ke Jakarta, dan akan kembali lagi ke kampung 2 minggu kemudian sebelum acara pernikahan Sugeng dan Tutik di gelar.


Sedangkan ayah Sugeng serta anggota keluarga yang lain sudah kembali ke Jakarta satu hari setelah acara lamaran.


Tutik berencana untuk mengantarkan beberapa jajanan untuk dibawa sang calon ibu mertua kembali ke Jakarta sebagai oleh-oleh.


Tutik tidak pernah merasa se-nervous ini sebelumnya, jika akan bertemu dengan siapapun. Bahkan dulu saat masih menjadi istri Sutris. Dengan penagih kreditan panci sekalipun, Tutik tidak pernah gerogi saat tidak bisa membayar angsuran.


Tutik sampai berkali-kali mengganti pakaianya, mematut dirinya di depan cermin, pesong kanan, pesong kiri. Periksa alis apakah tinggi sebelah, periksa gigi apakaha ada sisa cabai atau kangkung yang nyangkut, bahkan periksa dempul apakah berpotensi longsor saat diguyur keringat yang deras.


Semua sudah pas sesuai porsinya, tidak kurang dan tidak lebih. Dandananya masih terlihat normal dan tidak ketebelan. Warna bajunya juga tidak membuat mata silau. Semua sudah pas.


Lagi-lagi Tutik membaca doa keselamatan dunia akhirat sebelum melajukan motornya.


Saat berhenti di halaman rumah Sugeng, Tutik melihat mobil Brio berwarna putih terparkir di halaman rumah.


'Mobil siapa ya, apa lagi ada tamu?' batin Tutik bertanya-tanya.


Tutik berjalan pelan dan mengucap salam saat sampai di bibir pintu. Tak perlu menunggu lama, salamnya langsung dijawab dari arah ruang tamu.


Ternyata calon ibu mertuanya sedang disana bersama Dokter Sarah. Ternyata mobil yang terparkir di depan milik Dokter Sarah.


"Eh Tutik.. sini-sini Nduk. Duduk sini..!"


Ibu Sugeng menyambut dengan ramah. Sedangkan Dokter Sarah hanya tersenyum simpul.


"Iya Buk.. terimakasih. Tutik kesini cuma mau antar ini, sedikit oleh-oleh. Kata Kang Sugeng Ibu sore ini mau balik ke Jakarta."

__ADS_1


"Ooo itu to.. walah.. ndak usah repot-repot Nduk.. Ibu nanti sore memang mau balik ke Jakarta, dua minggu lagi baru balik kesini. Ngomong-ngomong trimakasih ya Nduk oleh-olehnya. Bapak suka sekali sama jajanan ini."


"Alkhamdulillah kalau bapak suka, Bu. Sami-sami."


"Ayo Nduk duduk sini..! ini Dokter Sarah, temab Putra dari kecil. Mereka itu temenan sudah dari TK sampe kuliah, sampe sama-sama tua juga." ucap Ibu Sugeng memperkenalkan Dokter Sarah kepada Tutik.


"Hai Dokter Sarah.. alkhamdulillah ya, kita bisa ketemu lagi." Tutik tersenyum ramah.


"Loh.. jadi kalian ini sudah saling kenal toh?" ucap Ibu Sugeng.


"Iya Bu.. kita sudah pernah ketemu waktu di rumah sakit." kini giliran Dokter Sarah yang menjelaskan.


"Owalah... syukurlah kalau begitu."


Beberapa saat kemudian kembali terdengar salam dari luar, sontak semua orang menoleh ke arah pintu. Ternyata Sugeng baru saja datang dari kebun.


"Putra...!" Dokter Sarah berhambur memeluk Sugeng, sedangkan Sugeng yang mendapat serangan mendadak tentu tidak bisa mengelak.


Seketika air muka Tutik berubah saat menyaksikan Dokter Sarah memeluk erat tubuh calon suaminya.


Sugeng pun baru menyadari jika Tutik juga berada di ruangan itu, seketika Sugeng melepas paksa pelukan Dokter Sarah.


"Dek..? kamu disini?" Sugeng menghiraukan Sarah dan justru berjalan ke arah Tutik.


"Iya Kang." jawab Tutik singkat.


"Maaf ya Dek, tolong jangan salah faham, Dokter Sarah ini sahabat aku dari kecil."


"Iya Kang, tidak apa-apa kok. Aku sudah tau."


Sugeng mengangguk kemudian memperkenalkan Tutik sebagai calon istrinya kepada Sarah.


Sedangkan Dokter Sarah hanya diam, kemudian pamit untuk kembali ke Rumah Sakit dengan alasan ada pasien gawat darurat yang sudah menunggu.

__ADS_1


__ADS_2