Istri Juragan

Istri Juragan
Sutris dipecat.


__ADS_3

Setalah hampir satu bulan misi penyelidikan yang dilakukan oleh Sugeng, akhirnya kini mulai menemukan titik terang dibalik pelaku penggelapan bahan baku di pabrik.


Mobil tangki bermuatan getah karet yang harusnya dibawa ke pabrik, justru terlihat melaju ke arah luar kota.


Pagi tadi tim Sugeng telah mengamankan 6 mobil tangki milik perusahaan yang akan menuju luar kota.


Keenam supir truk beserta kernet itu telah diamankan. Namun Sugeng yakin, otak dari pencurian yang sebenarnya bukanlah mereka.


Dan benar saja. Kelima sepuluh orang yang terdiri dari supir truk dan kernet itu menyebutkan satu nama yang sama.


Mereka mengaku jika disuruh untuk mengantar bahan baku itu menuju luar kota, dan diantarkan ke sebuah pabrik pengolahan karet juga. Hanya saja pabrik disana tidak memiliki perkebunan sendiri, melainkan bahan bakunya didapat dengan cara membeli dari pihak lain.


Kini Sugeng telah berhasil mengantongi sebuah nama yang menjadi dalang dalam pencurian itu.


Tepat sesuai kecurigaan Sugeng, orang itu adalah Sutris, mandor sekaligus orang kepercayaan Sugeng justru berhianat di belakangnya.


Hari itu juga Sugeng memecat Sutris tanpa pesangon sepeserpun. Berdasarkan barang bukti yang sudah sangat jelas, Sutris pun tidak berani untuk mengelak sedikitpun.


***


"Mulai sekarang kau harus belajar hidup hemat Dek!" ucqp Sutris dengan tampang lesu ketika baru sampai di rumah.


Pria itu duduk di kursi teras sambil melepas sepatunya.


"Loh, kok gitu?" protes Mayang.

__ADS_1


"Mulai besok aku sudah tidak kerja lagi, jadi kau harus belajar hidup hemat sampai aku punya pekerjaan baru."


"Maksudnya, Mas mengundurkan diri? kok malah mengundurkan diri sih? seharusnya Mas itu mikir, sebagai suami, Mas itu punya tanggung jawab besar untuk nyukupin kebutuhan istri. Lah ini, malah sok-sokan resighn segala." omel Mayang.


"Dek, aku tidak resighn. Tapi aku di pecat!"


"Apa! di pecat. Kok bisa?"


"Semua ini gara-gara kamu tau gak! kalo kamu gak minta macem-macem, pasti aku gak bakalan dipecat!" Sutris mulai terpancing emosi hingga membentak Mayang.


"Kok jadi aku yang disalahin?"


Akkkrrhhh! Sutris mengacak rambutnya kesal kemudian melenggang masuk kedalam rumah meninggalkan Mayang yang masih berdiri di depan pintu.


"Dek..! mana sarapanku?" tanya Sutris ketika melihat meja makan kosong tanpa makanan sedikitpun.


Sedangkan Mayang justru Sibuk berdandan, memoleskan berlapir-lapis dempul dan lipstik ke wajahnya.


"Dekk... mana sarapanku?" kini Sutris berdiri di ambang pintu kamar tamu, tempat istrinya tidur semalam.


"Aku gak masak, gak ada duit."


"Gak ada duit kau bilang! apa kau bakar duit sejuta yang aku kasih kemarin pagi itu?"


"Duit sejuta buat belu bedakku aja masih kurang, sekarang belaga mau minta makan. Ngasih nafkah istri aja belum cukup." sinis Mayang.

__ADS_1


Sungguh darah Sutris telah mendidih dan naik sampai ke ubun-ubun. Rasanya pria itu ingin mencekik istrinya saat itu juga.


Demi menjaga kewarasan, Sutris membanting pintu rumah sekeras-kerasnya lalu melajukan motor bututnya menuju rumah mamak Sri. Berharap pagi ini ia mendapat sarapan nasi, bukan omelan dari mamaknya.


"Tumben kau pagi-pagi datang kesini? apa habis menang lotre kau?" sambut mamak Sri ketika Sutris datang.


"Sudah masak Mamak?"


"Sudah..sana kau pergi makan! baru beres masakan mamak."


Tanpa babibu, Sutris langsung menuju meja makan, mengambil piring kemudian menyendokkan nasi.


"Eh eh eh... penganten baru, minta makan ke rumah mamaknya. Apa tidak dimasakkan sama istrimu Mas?" tanya Endang kepada Sutris.


Endang yang sedang dalam proses perceraian memang lebih memilih untuk tinggal di rumah Mamaknya. Sedangkan Rani, ikut suaminya di kampung sebelah.


"Tidak." jawab Sutris cuek.


"Punya istri cantik tapi cuma bisa buat pajangan doang." cibir Endang.


Sutris hanya diam tidak menjawab cibiran Endang, mungkin yang dikatakan Endang memang benar adanya. Istri Sutris memang cantik, tapi tidak berguna.


Selesai makan, Sutris menceritakan semua kejadian yang dialaminya selama satu bulan ini kepada Mamak, tanpa ada sedikitpun yang ia tutup-tutupi.


Mamak Sri tentu marah besar atas kebodohan Sutris, ia pun merasa malu kepada Tutik dan Sugeng.

__ADS_1


__ADS_2