
Selama satu minggu Tutik harus bolak-balik rumah sakit untuk menjaga Sugeng, semua itu ia lakukan atas dasar tanggung jawab, karena Sugeng telah menolongnya.
"Trimakasih ya Tik. Sudah mau direpotin sama Aku." ucap Sugeng ketika baru saja keluar dari Rumah Sakit.
"Sami-sami Kang Sugeng, harusnya kan Aku yang terimakasih. Kalau waktu itu Kang Sugeng gak nolongin Aku, Malah gak tau lagi gimana kondisi aku sekarang."
"Putra..!"
Sugeng menoleh kearah sumber suara, begitupun dengan Tutik.
Tutik tau jika yang baru saja dipanggil adalah Sugeng.
Hanya saja Pria itu lebih kerap dipanggil Sugeng. Mungkin hanya orang-orang tertentu saja yang manggil Putra.
"Eh Sarah, ada apa?" ternyata Dokter Sarah yang memanggil Sugeng.
Bahkan Sugeng juga hanya memanggil nama tanpa embel-embel Dokter. Sedekat apa mereka?
"Syukurlah.. kamu sudah boleh pulang ya?" tanya Dokter Sarah dengan tersenyum lebar. Jelas terlihat gurat kebahagiaan disana.
"Iya alkhamdulillah.. kondisi aku cepat membaik, akibat resep dari kamu hehe."
"Bisa aja Kamu, oh ya Put. Aku minta nomor kamu ya, kapan-kapan aku mau main ke rumah kamu. Kangen banget sama Ibu."
"Oo.. boleh-boleh. Mana HP Kamu?"
Sarah menyerahkan Hpnya, kemudian Sugeng mengetikkan nomornya disana.
__ADS_1
"Sip. Thanks ya. Nanti aku telfon kamu."
"Iya.. Aku balik dulu ya." pamit Sugeng.
Di dalam mobil.
"Kang Sugeng seeprtinya kenal akrab ya, sama Dokter Sarah."
Tutik mengendarai mobil, sedangkan Sugeng duduk manis di samping kemudi.
"Iya Tik, lumayan deket lah. Kita itu sudah temenan dari SMA sampe kuliah. Papanya Sarah itu sahabatnya Bapakku. Jadi kita lumayan deket juga." ceria Sugeng.
"Kalian cocok, serasi. Yang satu ganteng, satunya lagi cantik."
"Iya sih Tik. Aku emang uda ganteng dari lahir" ucap Sugeng percaya diri.
"Hemm.. Nyesel deh jadinya."
"Ganteng dan cantik aja itu bukan jaminan jodoh loh Tik. Kalo yang ganteng dapet yang cantik, terus nanti yang jelek sama siapa dong? masa iya uda jelek dapet yang jelek juga. Kan kasian." lanjut Sugeng.
"Hehehe iya juga ya."
"Oh ya Tik, maaf ya aku mau nanya sama kamu? tapi kamu jangan marah ya?" ucap Sugeng sedikit ragu.
"Nanya apa Kang?"
"Kamu belum ada rencana untuk menikah lagi?"
__ADS_1
"Hahaha.. kenapa? Kang Sugeng mau ngajakin aku nikah?"
"Ya.. kalo kamu mau sih."
"Hehe enggak kok, aku cuma becanda aja Kang."
"Yah.. padahal aku uda serius, jadi kecewa deh."
"Hahaha Kang Sugeng bisa aja. Kalo rencana menikah lagi sih ada, soalnya aku kan cantik gini ya, masih muda lagi. Masa iya mau sendiri terus hehe.. tapi ya gak tau juga sih, aku juga gak mau terburu-buru. Jujur aku ada trauma juga, meskipun aku percaya, gak semua laki-laki itu sama."
"Kalau Kang Sugeng sendiri, kenapa kok betah banget menduda? Padahal kan banyak cewek yang ngantri di kampung ini."
"Belum nemu yang cocok Tik. Tapi sekarang kayaknya sih uda nemu." Sugeng tersenyum tipis.
'Pasti perempuan yang dimaksud Kang Sugeng itu Dokter Sarah. Emang kelihatan cocok banget sih mereka. Tapi kenapa ya, hatiku kok clekit-clekit rasanya. Apa iya aku cemburu?' batin Tutik.
"Oh iya Tik. Uang Kamu yang 5 juta masih di aku ya, yang kuranganya pembelian tebu kapan hari. Maaf ya Tik, aku lupa hehe.."
"Iya Kang, gampang itu. Gak usah dipikirin, yang penting Kang Sugeng sembuh dulu."
"Aku transfer aja ya Tik nanti."
"Iya.. oh ya Kang? Ibu kapan pulangnya?"
"Katanya sih seminggu lagi Tik." jawab sugeng.
"Terus kalo kang Sugeng butuh apa-apa gimana? kan tangan sama kakinya belum pulih betul."
__ADS_1
"Gampang itu Tik.. ada Bik Sumi, sama yang lain juga banyak. Pokoknya gampang kalo uda di rumah."
"Alkhamdulillah kalo gitu Kang."