Istri Juragan

Istri Juragan
Kematian Lasmi


__ADS_3

Sesuai dengan keinginan Lasmi,kini dia perlahan melangkah kan kakinya keluar kamarnya.sebelum ia keluar dia mengumpulkan niat dan juga berusaha menyembunyikan rasa takut dan cemasnya agar orang mengawasi nya tidak curiga.


Lasmi terus melangkah semakin jauh dari kamar nya,dia sengaja menuju arah yang sepi agar orang jahat itu segera mungkin menunjukan taringnya untuk menangkapnya.


"Sudah ku duga pasti ada seseorang yang mengintai ku,aku tahu sekarang dia sedang diam-diam mengikuti aku dari belakang.jika aku menoleh pasti mereka akan bersembunyi."


Lasmi sengaja menghentikan langkah kakinya dan lalu dengan perlahan dia menoleh kebelakang.namun,setelah ia lihat Ternyata tidak ada orang lain.semua itu sesuai dengan dugaan nya.


"Biar saja mereka menganggap ku bodoh.jika mereka berpikir begitu akan sangat mudah membuat jebakan untuk mereka."


Jika awalnya Lasmi hanya berjalan kini tiba-tiba dia berlari sekencang mungkin dan samar-samar dia mendengar ada beberapa langkah kaki yang mengejarnya.


"Lepas!!" sentak Lasmi ketika tangannya berhasil di cekal oleh seseorang.


"Ternyata dia sangat liar,hampir saja dia lolos lagi.kelinci yang satu ini sangat lincah sekali,jika waktu itu kamu berhasil lari tapi tidak untuk kali ini," ucap salah satu diantara mereka.


"Bukankah kamu yang menyekap ku di gudang waktu itu?" tanya Lasmi saat mengenali orang itu.


"Ia.karena kamu kabur aku harus menanggung hukuman dari tuan muda Tito,sekarang aku akan membalas rasa sakit yang aku rasakan padamu!" sarkas nya.


"Kenapa kamu menyebut nama tuan kita?bagaimana jika ada yang mendengar nya?" omel temannya.


"Disini hutan.mustahil jika ada orang lain selain kita,lagi pula wanita ini akan mati.dia tidak bisa memberi tahu siapa pun," jelasnya.


"Siapa itu tuan muda Tito?" Lasmi sengaja melantangkan suaranya.


Plak!


Satu tamparan berhasil mendarat sempurna di pipi lasmi.wajah nya merah padam karena kuatnya tamparan.itu hingga tanpa sadar satu tetes air matanya jatuh di pelupuk matanya.


"Kecil kan suaramu!kamu tidak perlu berbicara sekuat itu karena aku tidak peka!" maki pria itu.

__ADS_1


"Jika tuan mereka adalah Tito.berarti yang menyekap ku waktu itu adalah orang yang sama.jadi,selama ini aku salah mengira bahwa yang melakukan semua ini adalah juragan dan pak Burhan,kenapa aku bisa sebodoh ini?kasihan nona Ani dan Wiwit yang telah telanjur mengetahui info yang salah ini.mereka pasti terjebak dengan kesalahpahaman ini."


"Kenapa kamu diam?kamu pasti mencari cara untuk kabur.aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi! cepat bawa dia!" titah nya membuat Lasmi langsung sadar dari lamunannya.


"Ya,tuhan.aku harus selamat,aku harus memberi tahu yang sebenarnya pada nona ani."


Tubuh lasmi di seret dengan paksa.lasmi mencoba memberontak agar cekalan tangan mereka lepas dan dia bisa lari dari sana.


Meski berulang kali mendapat bentakan dan pukulan,hal itu tidak ada berpengaruh dengan tekat Lasmi untuk kabur dari sana.hingga dia berhasil menendang naga emas mereka satu persatu dan menggigit lengan mereka.


Arghhh!!!


Pekikan serentak dari tiga orang itu sembari menutupi masa depan mereka. jangan lupa rasa ngilu yang teramat sakit yang mereka rasakan,hal itu mampu membuat mata mereka berair karena menahan rasa sakit yang dahsyat itu.


Sementara Lasmi terus berlari dalam keadaan cahaya redup.saat ini dia berada di taman rimba,dia sengaja memilih taman itu karena setahunya taman itu ada beberapa cctv yang terpasang.


"Ya Allah lindungi aku dari orang jahat itu."


"Hahhaha."


Tawa mereka gembira saat berhasil menangkap Lasmi yang telah bercucuran keringat itu.wajah Lasmi pucat pasi saat salah satu di antara mereka mengeluarkan pisau dan mengarahkan nya pada nya.


"Awalnya kami ingin menikmati tubuhmu.tapi,karena kamu terlalu menyebalkan kami tidak bernaf*su lagi padamu," ucap salah satu di antara mereka sembari menempelkan pisau itu di pipi Lasmi.


"Kenapa kalian senang sekali membunuh orang lain?apa kalian tidak sadar,yang kalian lakukan itu dosa besar?sebaik-baiknya kalian menyembunyikan kejahatan kalian,pasti Allah akan membongkarnya dengan beribu macam cara," cetus Lasmi tanpa takut sama sekali dengan pisau yang mengores pipinya.


"Ah,banyak omong kamu!" bentak orang itu lalu menancapkan pisau itu tepat di jantung Lasmi.


Taman yang awalnya sunyi kini terpenuhi dengan suara teriakan Lasmi saat pisau itu menancap di dadanya,melihat Lasmi Masi hidup membuat orang itu menarik tangan Lasmi,lalu ia iris urat nadi nya hingga Lasmi benar-benar menutup mata dan tak bernyawa.


"Apa dia sudah mati?"

__ADS_1


"Seperti nya ia.lebih baik jasadnya kita mutilasi agar seorang pun tidak mengetahui kematian nya."


"Ide bagus."


Taman rimba milik baja kini memunculkan sejarah baru,yaitu kematian Lasmi yang di bunuh dengan sangat kejam.rumput disana Berubah menjadi merah karena mereka tega memutilasi tubuh korban dan setelah selesai ia membuangnya di dekat danau.


"Akhirnya selesai,sekarang kita pulang dan esok hari kita harus menemui bos untuk memberi tahu kabar bagus ini."


Tanpa penyesalan mereka pergi dari sana,mereka seperti memiliki jiwa psikopat sehingga tidak merasa bersalah sama sekali.


Sedangkan di sisi lain Wiwit baru saja ke kamar Lasmi untuk mengambil buku ibu hamil itu.sebelum nya dia telah mencari keberadaan Lasmi namun tidak menemukan pemilik kamar itu,tanpa rasa curiga Wiwit langsung mengambil buku itu dan kembali ke kamar nya.


"Nih,buku yang kamu tanyain terus," ucapnya meletakan buku itu di pangkuan Ani.


"Gak ikhlas banget ngambilin buku ini untuk ku," rajuk Ani dengan wajah cemberut.


"Astaghfirullah sensitif amat," balas Wiwit yang mendapat rajukan dari Ani.


"Bu Lasmi nya mana?" tanya Ani sembari celingak celinguk melihat kearah pintu seakan-akan menanti kehadiran Lasmi.


"Aku juga tidak tahu.waktu aku ke kamarnya tadi dia sudah tidak ada,mungkin dia ngepel di lantai atas," jelas Wiwit.


"Semoga saja nanti malam dia mengunjungi ku," harap Ani lalu berdiri sembari membawa buku itu.


Namun langkah Ani terhenti,empat pasang mata kini beralih menatap kertas yang jatuh di lantai.setelah memperhatikan kertas itu Ani megambil kertas itu dan kembali duduk di tempat nya semula.


"Apa ini surat?" tanya Ani pada Wiwit.


"Mungkin saja," balas Wiwit lalu mengambil surat itu dari tangan Ani.


"Mari kita baca sama-sama," ajak Ani sambil membuka surat di tangan Wiwit.

__ADS_1


__ADS_2