Istri Juragan

Istri Juragan
Ketahuan Mamak


__ADS_3

Dari siang, hingga petang menjelang, Tutik masih setia menamani mamak mertuanya. Dengan sabar menyuapi makan, mengambilkan obat, mengantar ke toilet, dan masih banyak lagi. Tak jarang Tutik harus pergi keluar rumah sakit untuk membeli makanan yang diinginkan mamaknya, heran. Orang sakit tapi doyan makan.


Sudah sehari semalam mamak di rawat tapi anak perempuan yang selalu dibanggakanya tak kunjung datang, begitulah yang namanya anak dan menantu. Yang jauh bau wangi, yang dekat ya.. tau sendirilah, seperti Tutik ini contohnya.


Hari sudah semakin tua, Tutik mulai meresah gundah, Tutik kepikiran bagaimana jika suaminya belum pulang dan Bima harus berada dirumah sendirian.


Hingga akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, Endang tiba bersama dengan suami serta anaknya.


"Sakit apa Mamak?" tanya Endang sembari meletakkan kantong kresek berukuran sedang dengan logo minimarket. Sepertinya barang itu Ia beli saat dalam perjalanan.


"Ini ada roti sama biscuit. Mamak makan ya.." ucap nya.


"Trimakasih Nduk.. tidak perlu repot-repot. Kamu datang saja Mamak sudah seneng. Lagian rumahmu kan jauh." Hello...! jauh apanya, jarak sekilo doang dibilang jauh. Berlebihan emang ya mertuanya si Tutik ini.


"Sakit apa Mak?.. jangan sakit-sakit lah Mak." ucap Endang kemudian.


"Biasa lah, tensi Mamak naik tinggi. Pusing kepala Mamak."


Waktu terus berlalu, Emak dan anak itu terus saja berbasa-basi tanpa menghiraukan keberadaan Tutik. Endang pun sepertinya lupa untuk sekedar menyapa Mbak Iparnya itu. Sedangkan Suami serta anak Enak sudah pergi entah kemana.


Tutik yang merasa khawatir dengan Bima, akhirnya memberanikan diri untuk berpamitan pulang.


"Mak, aku pulang dulu ya, mau ngecek Bima. Kasihan dari pagi ditinggal, takutnya Mas Tris belum pulang, Bima itu takut kalau dirumah sendirian malam-malam, khawatir kalo Bima malah keluyuran nantinya."


"Iya.." Mamak Sri hanya menoleh dan menjawab singkat. Baginya keberadaan Tutik sudah tidak diperlukan lagi, toh Endang dan suaminya sudah datang.


"Jangan lama-lama ya Mbak, nanti Aku kemaleman." ucap Endang.


Mendengar ucapan Endang, Tutik yang baru saja melangkah sontak berhenti.


"Apa tidak mau menginap barang semalam saja Kamu dek?"


"Tidak Mbak, Aku gak bisa tidur di Rumah Sakit. Suamiku juga besok harus kerja, belum lagi nanti anakku rewel kali diajak nginep disini, kan gak ada tempat tidurnya."


Astaghfirullah..

__ADS_1


"Tapi ini Emak lagi sakit loh Dek! Apa Kamu gak mau merawat Emak sebentar saja?"


"Gak bisa Mbak..."


"Sudah-sudah! kenapa kalian malah jadi berisik to? Lagian ya Tik. Endang itu memang gak bisa jagain Mamak disini, Dia rumahnya jauh. Besok suaminya harus kerja, anak nya juga kasihan. Kenapa Kamu maksa-maksa Dia. Emangnya gak ikhlas Kamu jagain Mamak disini? emang gak ada bakti-baktinya sama orang tua ya Kamu, jadi mantu."


"Ya Allah.. Mak. Bukan gitu maksut Aku."


"Sudah-sudah! gak usa banyak cing-cong. Pulang aja sana, Kamu. Biarin aja Emak disini sendirian, mau mati sendirianpun juga pasti gak bakal ada yang tau."


"Astaghfirulah.." lagi-lagi Tutik hanya mampu beristigfar dalam hati.


Tidak ingin membuat keributan yang akan menimbulkan tensi Mamak semakin naik, Tutik pun mengalah.


"Ya sudah Mak.. maaf, Aku yang salah. Tapi sekarang Aku pulang dulu sebentar nggak papa ya? nanti Aku balik lagi kesini sama Mas Sutris."


"Dek, tolong nitip Mamak sebentar ya.."


"Iya Mbak."


Mamak Sri masih melengos kesal, sedangkan Tutik tetap harus pergi untuk memastikan keadaan Putranya.


Kepulangan Mamak Sri dari Rumah Sakit tidak lantas membuat Tutik bisa bernafas lega, Tutik masih tetap harus bolak-balik Rumah mamak dan rumahnya. mengurus Anak, mengurus rumah, mencuci pakaian, balik ke rumah Mamak dengan jalan kaki, seharian mengurus Mamak. Membuat Tutik merasa seperti siluman kuda lumping. Tidak ada capeknya.


Tutik memang hanya mengurus Emak dari pagi sampai sore, sedangkan malamnya, Mamak akan ditemani oleh sutris.


Tutik tidak bisa ikut serta menginap di rumah Mamak, pasalnya Banyak hal yang harus Tutik urus secara bersamaan.


****


Dari sudut Sofa, Mamak sedang sibuk memperhatikan anak laki-laki semata wayangnya.


Sejak menginjakkan kakinya di rumah, Sutris selalu sibuk sendiri dengan ponselnya, sesekali bibirnya menyunggingkan senyum saat menerima pesan yang entah dari siapa pengirimnya, hingga hp Sutris berdering, menampilkan nama Marno disana.


"Siapa Tris?" tanya Mamak.

__ADS_1


"Oh.. ini Mak, si Marno. Teman Sutris."


"Marno?" dahi mamak mengernyit. "Siapa Marno, kok Mamak tidak kenal, apa orang sini Dia?"


"Bukan Mak.. Orang kampung sebelah."


Seakan tidak ingin membiarkan Marno menunggu terlalu lama, Sutris lekas berjalan menuju teras.


Sesampainya di teras, sutris celingak-celinguk, memastikan kondisi aman.


Telepon di angkat dan seketika wajah perempuan dengan senyum lebar menyambut Sutris."Halo Kang Mas Ayang.." ucap suara yang dibuat manja mendesah-desah. Bagi sutris mungkin seksi, tapi bagi kita, telinga orang waras. Suara itu terdengar seperti banci kebelet Pup. Entahlah.


"Halo adek cantik.. tambah cantik saja Adek ini kalau Kang Mas lihat." Rayu Sutris.


"Ya harus dong Kang Mas. Seluruh kecantikan Adek ini hanya untuk Kang mas seorang."


"Jadi tambah kangen saja lah kang Mas ini kalau lihat adek."


"Adek juga kangen loh kang Mas.. pingin di ajak jalan-jalan lagi ke emol."


"Oo.. benarkah, Adek juga kangen? kalau begitu besok Mas jemput ya. Kita jalan-jalan ke Emol."


"Aaaa.. beneran Mas? gak lagi bohongin adek kan?" Suara Mayang semakin serak mendayu-dayu.


"Iya Sayang.. Kang mas sudah rindu sama servis Adek."


"Servis apa Tris?" Mamak Sri tiba-tiba muncul di samping sutris, sutris yang kaget buru-buru mematikan Hp nya.


"Eh Mamak! sejak kapan Mamak disini?" Mendapat pertanyaan dari mamaknya, jantung Sutris seakan mau melompat dari dadanya.


"Sejak Kau rindu sama servis Adek." Mata Mamak sri memicing penuh curiga.


"Oh.. itu, kirain apa. iya Mak, tadi itu si Marno, Dia itu punya bengkel motor. Sudah lama aku tidak servis motor disana, jadi rindu Aku sama servisanya."


"Terus kenapa kamu panggil Adek sama si Marno itu?" nampaknya Mamak masih belum puas dengan jawaban Anaknya.

__ADS_1


"Ya tentu lah mak Aku panggil Dek. Kan usianya lebih muda dari Aku Mak. Masak mau Aku panggil Mas."


"O.. Mamak kira tadi istri mudamu." Alamak!


__ADS_2