
Samar-samar mereka mendengar suara motor yang berhenti tepat di depan rumah.belum usai menebak siapa yang datang,mereka di kaget,kan,dengan suara pintu yang di tendang.ternyata Vito yang melakukan nya,belum ada suara yang menyapanya namun Vito telah ambruk di depan intan dengan adam Masi di gendongan nya.
"Intan ... aku ... mencintaimu!" ucapnya lirih mampu di dengan semua telinga yang ada di sana.
"Vit,kamu kenapa?" panik intan menahan tubuh Vito agar Adam tidak terhimpit di tengah mereka.
"Astaghfirullah,punggung nya berdarah!" Tini melihat darah basah itu,dia repleks langsung menangis sedangkan Karno telah mengambil alih Adam.
"Bu,cepat panggil ambulans.cepat,Bu!" pinta intan cemas dan memeluk tubuh Vito.
Semuanya bergerak secepat mungkin,meski penasaran apa yang telah Vito lalui sehingga bisa terluka seperti ini.terlebih kedatangan nya membawa Adam,apa mungkin dia berkorban untuk menyelamatkan Adam?begitulah pikiran kedua orangtuanya.
Akhirnya mereka dapat bernafas lega,karena kini Vito telah berada di rumah sakit.meski keadaan awal nya buruk karena kehabisan darah,namun pria muda telah stabil berkat penanganan dokter.
"Bu,bagaimana ini?aku takut dia terluka begini karena mencari adam.bagaimana jika sampai keluarga nya tahu?pasti kita akan di salahkan dalam hal ini." Begitulah kekhawatiran intan,dia sama sekali tidak memikirkan perkataan Vito sebelum pingsan di pelukan nya.
"Seharusnya bukan itu yang kau pikirkan.seharusnya kau berpikir bagaimana jika dia bangun lalu meminta jawaban atas perasaan nya.apakah kau juga mencintai nya atau tidak?" sahut Karno membuat intan menjadi resah tiba-tiba.
"Ia,nak.coba sekarang kamu rasakan, bayangkan saat-saat bersama vito.waktu kamu bersamanya apa yang kau rasakan?dengan begitu kau akan tahu apa hatimu punya rasa atau tidak padanya?" tutur tini.kedua orang tuanya seperti nya sangat menyukai vito.mungkin mereka tersentuh dengan semua kebaikan yang Vito lakukan selama ini.
"Aku ... tidak tahu." Entah mengapa intan merasa tak nyaman setelah mendengar pengakuan yang tak di sangka itu.
"Sebaiknya jika dia bangun jangan bahas itu.takutnya dia drop karena terlalu stress.saat dia bangun lebih baik kamu ajak dia bicara hal-hal yang menghiburnya,agar ia cepat pulih." Saran Karno sangat mengerti keresahan anak nya.
"Bunda!" panggil adam.anak itu baru bangun, bisa-bisa dia tidur nyenyak saat keadaan genting tadi.intan sempat terpikir bahwa anaknya itu di beri obat bius.
"Ya, Allah adam.kamu gak apa-apa,kan?apa ada yang sakit?" cecar intan tidak lupa memutar tubuh Adam untuk memeriksa tubuhnya.
"Gak,ada.tadi Adam main sama oom.dia bilang mau pergi jemput ayah." Anaknya itu polos sekali.mungkin Adam belum pernah bertemu dengan sosok ayahnya sehingga gampang di bohongi oleh penculik itu.
"Nak,udah bunda bilang ayah udah pergi.jauh banget!ayah mu udah di langit,dia udah ada di sisi Allah.kalau Adam mau jumpa adan mau ketemu ayah,tunggu malam.adam bisa lihat bintang,ayah ada di sana!" jelas intan memilih kata-kata yang sekiranya Adam dapat mengerti.
__ADS_1
"Adam gak mau ayah yang itu.adam mau nya ayah yang seperti teman-teman Adam,Bun." Adam berkata dengan sedih dan memainkan ujung bajunya.
"Kalau ayah Vito mau tidak?" tawar Karno yang langsung mendapat tatapan tajam dari intan.
"Boleh.lebih bagus,emang om Vito bisa jadi ayah Adam?" tanya ada dengan mata yang berbinar semakin membuat anak itu terlihat mengemaskan.
"Bis_"
"Pak,jangan meracuni otak adam.nanti dia semakin berharap dan menuntut padaku." sanggah Intan memotong pembicaraan Karno.
"Jika bisa kau penuhi kenapa tidak kau lakukan.jangan sampai menyesal intan,jangan sampai anak mu tidak merasakan manis nya masa kecil karena kamu egois!" Karno menekan setiap ucapan nya lalu memilih menggendong Adam dan membawanya pergi dari sana.
"Apa benar aku egois?" lirih intan.
"Jangan pikirkan ucapan bapak.selama Masi bisa di pertimbangkan maka pikirkan secara matang.yang menjalani rumah tangga nanti adalah kamu,jadi jangan sampai menyesal karena salah memilih ayah Adam." Bijak Tini menepuk bahu intan lalu berlalu menyusul Karno.
Tanpa sepengetahuan mereka semua,bahwa Vito mengetahui pembicaraan itu.sebenarnya dia telah bangun,namun karena ingin mengetahui reaksi intan mengenai perasaan nya Vito memilih menahan matanya.
Vito telah membuka matanya tanpa sepengetahuan intan.pria itu tengah menikmati wajah intan yang tengah kebingungan.entah mengapa wanita itu tampak menggemaskan apalagi saat ia sengaja mengigit bibir bawahnya.
"Apa karena aku,kau gundah seperti ini?" intan sedikit terkejut mendapat usapan di kepalnya.dia mendongak tanpa sengaja kedua mata itu saling tatap.
Jika di mata Vito penuh cinta namun arti tatapan intan hanya kekhawatiran beserta kaget.
"Apa yang kau harapkan,vit?wanita ini sangat sulit kau taklukkan."
"Ehm!apa ada yang sakit?" intan memilih batuk untuk menghindari tatapan Vito,dia juga sengaja mengalihkan pembicaraan agar lebih nyaman di dekat pria itu.
"Ada."
"Dimana?apa perlu aku memanggil dokter?" panik intan diam-diam Vito tersenyum tipis sangking tipisnya hingga intan tidan menyadari nya.
__ADS_1
"Disini." pria itu mengerakkan tangan nya untuk menyentuh dadanya.
"Aku sangat khawatir.tapi kamu malah bercanda."
"Aku tidak bercanda.di sini emang sakit!apalah arti pria seperti ku,janda saja menolak ku bagaimana dengan seorang gadis!" sedih nya memilih berpaling tidak melihat intan lagi.
"Aku tidak bilang menolak mu!" intan sejenak terdiam karena baru menyadari ucapan konyolnya.ya,tuhan apa yang harus ia lakukan.terlebih Vito kembali menatap nya dengan tatapan Sungkar untuk di artikan.
"Maksudnya?" alis nya telah terangkat dan tatapan pria itu semakin mendalam.
"Beri aku waktu untuk memikirkan nya," pintanya membuat harapan Vito musnah meski ada setitik harapan.
"Ays,hampir saja hatiku berbunga-bunga.ku sangka mau menjadi istriku!"
"Hehe.maaf.tapi jika kau tidak mau menunggu ku silahkan mencari perawan desa mana tahu lebih cocok dengan anak gadis dari pada seorang janda." Saran intan.
"Aku tidak mau.aku sukanya kamu dan Adam,tidak ada yang lain lagi selain kalian!" tolaknya cepat membuat intan diam-diam tersipu terlebih pria itu mau menerima anaknya.
"Wah!wah!wah!kapan tanggalnya?katakan saja.kami siap untuk menjadi bridesmaid nya,benarkan,vir!" ternyata ada yang tengah menguping pembicaraan mereka.setelah mendapat kan waktu yang pas baru membuat pintu,benar-benar tokek didinding dua temannya itu.
"Benar dong.nanti kita pakai warna unggu sebagai tanda bahwa masa janda telah berakhir," timpal Vira.
"Bukan masa janda telah berakhir tapi janda semakin di depan.kita yang gadis aja lewat jika sudah bersaing dengan janda," ledek nisa.dua biji nangka itu jika sudah bergabung maka susah untuk di hentikan.
"Sudahlah,hubungan kami belum sejauh itu!" ucap intan agar temannya tak mengerti.
"Ia gak jauh.dekat,tan.sangking dekat nya nanti bisa duduk berdampingan di pelaminan!kami yang jomblo paham kok." Sudah di duga pasti makin menyeleweng jika di tanggapi.
"Sabar,ya,sayang.nanti Aa Vito siapin acara nya!" Timpal Vito membuat yang lain heboh sedangkan intan langsung refleks memukul lengan pria itu.
"Cie!Aa!hahaha ... geli gue dengernya!" ledek Nisa memegangi perutnya.
__ADS_1
"Biasa telinga jomblo emang suka panas kalau dengar yang romantis.bener gak sayang?" Vito semakin menjadi membuat intan geram sendiri.