Istri Juragan

Istri Juragan
Melamar Tutik


__ADS_3

"Mamak...!" Bima berteriak dari memanggil mamaknya, yang diiringi dengan deru suara motor yang berhenti di halaman rumah.


"Loh Bima. Kok sudah pulang Dia." batin Tutik.


Tutik berjalan kearah pintu untuk memastikan, benar Bimq yang datang, atau orang lain. Dan ternyata Bima datang dengan diantar Sugeng.


Anak itu tersenyum lebar kearah Tutik. Bocah SD yang mengidolakan Sugeng serta motor trail nya itu tersenyum lebar.


"Assalamualaikum Mamak." ucap Bima menyalami tangan mamaknya.


"Kok sudah pulang, bolos ya?" Tutik bertanya.


"Tidak lah Mak. Tadi gurunya pergi ke Kecamatan, mau lomba senam Zumba. Jadi kita disuruh pulang Mak."


"Hemm.. ada-ada sajalah guru jaman sekarang, pakai acara lomba senam zumbq segala. Ya sudah sana masuk dulu, ganti baju terus makan ya."


"Iya Mak." ucap Bima patuh.


"Kok bisa barengan sama Bima Kang? ketemu dimana?" Tutik bertanya kepada Sugeng yang masih berdiri di depan pintu.


"Ketemu di depan sekolahnya Bima Tik, kebetulan pas aku lewat, Bima mau pulang."


Tutik hanya membulatkan bibirnya, mendengar penjelasan dari Sugeng.


"Aku gak disuruh masuk ini Tik? tamu loh ini." ucap Sugeng dengan senyuman Khasnya yang menghanyutkan. Asek!


"Eh I-iya. Maaf, lupa. Hehe" Tutik jadi cengar-cengir malu sendiri.

__ADS_1


"Duduk Kang, aku buatin minum dulu ya."


"Gak usah Tik, lihat kamu aja uda seger kok. Gak usah minum." Loh loh.m sejak kapan Sugeng pinter ngegombal ya?


Tutik susah payah menyembunyikan senyumanya, hingga memilih untuk menghiraukan Sugeng dan kabur ke dapur.


"Diminum dulu Kang.." Tutik meletakkan segelas es sirup berwana merah.


"Trimakasih Tik.."


Keadaan kembali hening, Tutik menjadi canggung sendiri untuk memulai percakapan.


Sedangkan Sugeng justru terlihat gelisah.


"Ada apa Kang? apa tidak nyaman?" tanya Tutik.


"Anu apa Kang?" Tutik semakin terlihat bingung.


Sugeng menarik nafas dalam-dalam kemudian tanganya meraih kotak kecil berwarna merah dari saku celananya.


Tutik semakin dibuat heran namun perasaanya sudah tidak menentu. Harap-harap cemas.


Sugeng membuka kotak kecil yang ternyata berisi sebuah cincin bertahtakan berlian mungil. Sangat cantik.


"Tik, sebenarnya aku suka sama Kau, apa kau mau jadi istriku Tik. Hidup menua bersamaku?"


Tutik hanya mampu melongo tanpa bisa menjawab. Nyawanya seakan dicabut seketika. Lidahnya terasa begitu kelu, hanya hatinya saja yang teriak-teriak namun tidak ada srorqngpun yang mampu mendengar.

__ADS_1


"Gimana Tik?"


"Tik.." Sugeng mengguncang pundak Tutik yang masih terbengong.


"Eh. I..iya Kang."


"Berarti aku diterima Tik?" Sugeng kegirangan.


"Eh bu-buka! bukan itu?"


"Bukan? tadi iya, sekarang bukan. Jadi yang betul yang mana Tik? aku diterima atau tidak?"


"Apa Kang Sugeng serius?" tanya Tutik.


"Serius aku Tik. Kan aku sudah bawa cincin. Mana mungkin aku tidak serius Tik? perlu bukti apa lagi Kau Tik, kalau kau terima lamaranku ini. Besok aku bawa orang tuaku kesini, untuk melamar secara resmi Tik."


"Kalau begitu besok Kang Sugeng ajak orang tuanya kesini ya."


"Itu berati aku diterima Tik?" Sugeng kembali tersenyum lebar, sedangkan Tutik terlihat menyembunyikan senyumanya.


"Kamu pakai dulu ya cincin ini Tik. Besok aku kesini lagi sama orang tuaku."


"Aku belum menerima Kang Sugeng, tapi Kang Sugeng harus bilang sendiri ke orang tuaku, bawa juga orang tua Kang Sugeng."


"Baiklah Tik, kalau itu maumu. Besok aku bawa orang tuaku kesini ya. Sekarang aku pulang dulu Tik, waktuku tidak banyak.mau kasih kabar ke Ibuk. Asslamualaikum Tik."


Sugeng terlihat buru-buru keluar dari rumah Tutik. Sedangkan wajah Tutik sudah merona tidak karuan.

__ADS_1


__ADS_2