Istri Juragan

Istri Juragan
Kebaikan Tutik


__ADS_3

Siang ini Tutik ingin jalan-jalan naik motor keliling kebun karet bersama suaminya.


Jalanan desa yang bergelombang membuat Sugeng melajukan motornya dengan pelan.


"Kamu ini Dek, perempuan di luar sana kalo jalan-jalan itu sukanya ke emol. Shoping, terus nyalon. Lah ini kamu malah sukanya ke kebun karet, liatin kebo." ucap Sugeng saat membonceng istrinya.


Saat melewati jalanan dengan lubang yang cukup dalam, Sugeng menarik pelan tangan istrinya dan meminta agar Tutik bepegangan lebih erat.


"Ya biarin aja lah Mas, kalo shoping sama ke salon itu kan uda biasa. Tapi liatin kebo-kebo yang bebas berkeliaran memakan rumput itu menjadi kesenangan tersendiri loh. Suasananya malah makin romatis kalo sama kamu. Hahaha.."


"Istriku ini emang unik ya, beruntung aku bisa dapetin kamu Dek."


"Halah.. apaan sih Mas, lebay." Tutik tersenyum malu-malu di punggung suaminya.


"Eh, siapa itu Dek? kok tampangnya mencurigakan sekali." ucap Sugeng ketika melewati rumah Marni.


Tutik pun ikut menoleh. Benar saja, 3 orang berbadan tinggi besar sedang berdiri di depan pintu rumah Marni.


Satu orang dengan kepala plontos terus mengetuk-ngetuk pintu dengan memanggil Marni.


Sedangkan dua orang lainya yang berambut gondrong terlihat berusaha mengintip kedalam rumah melalui jendela dan lubang pintu.


"Siapa mereka itu Mas, kok seram kali tampangnya." tanya Tutik.


"Mas juga tidak tau Dek, tapi sepertinya itu penagih hutang."


Tidak lama kemudia, Tutik melihat Marni keluar dari pintu belakang kemudian berlari.


Kakinya yang tanpa mengenakan alas, bersentuhan langsung dengan panasnya aspal dan tajamnya kerikil jalanan yang rusak. Namun Marni tetap berlari.


"Itu orangnya...!" teriak seseorang berkepala plontos.


"Ayo kejar..!" si gondrong berlari diikuti dengan kedua temanya.


Marni Pun berlari tanpa arah hingga masuk ke kandang sapi, namun ketiga orang itu pantang menyerah meskipun kandang itu penuh dengan kotoran.

__ADS_1


Melihat dirinya dalam bahaya, Marni kembali berlari menuju jalan kampung, namun apesnya hari itu kampung begitu sepi, tidak ada seorang pun warga yang melintas, karena sedang musim panen.


"Woy! jangan kabur..!" Si gundul terus berlari mengejar Marni.


Melihat hal itu Tutik merasa iba, "Kasihan itu Marni Mas, ayo kita tolongin."


"Biarin aja Dek, dia kan selama ini uda jahat sama kamu."


"Mas.. kalo kejahatan dibalas dengan kejahatan pula, berarti kita gak ada bedanya dong sama Marni? udah.. ayo kita tolongin."


"Iya."


Sugeng memarkir motornya dipinggir jalan.


"Kamu tunggu disini aja ya Dek! Bahaya." ucap Sugeng.


"Gak Mas, aku ikut!"


"Ya sudah, tapi jangan jauh-jauh dari Mas ya..?"


"Woy..! tunggu!" teriak Sugeng menghentikan ketiga orang yang berpakaian premen itu.


Sontak ketiga orang tersebut pun berhenti dan menoleh kepada Sugeng.


"Apa..? jangan ikut campur kau!"


"Aku warga sini, jadi aku berhak ikut campur.! ada urusan apa kau sama perempuan itu?" Sugeng bertanya pada ketiga preman.


"Dia punya utang, sudah nunggak berbulan-bulan, tapi ditagih tidak mau bayar. Apa mau bayarin hutangnya Kau? kalau tidak, jangan ikut campur!"


"Memang berapa hutangnya? sampai-sampai kalian ini tidak punya rasa belas kasihan sama perempuan." ucap Tutik penuh emosi.


"Heh! belas kasihan kau bilang? kami ini bukan dari panti sosial, tidak ada belas kasihan disini. Jadi tidak usah banyak cing-cong kalo kalian tidak bisa bayar hutangnya."


"Berapa hutanganya?" Tutik kembali bertanya.

__ADS_1


"3 juta ditambah bunganya jadi 7 juta totalnya."


"Heh, kok bisa pula, bunga lebih besar dari hutang? bagaimana pula cara kalian menghitungnya?"


"Karena perempuan ini sudah 4 bulan tidak bayar hutang, bunganya 1 juta per bulan. Jadi 4 juta total hutangnya."


"Ya sudah. Aku bayar semua hutang-hutangnya. Tapi jangan berani-beraninya kalian datang lagi ke kampung ini! kalau kalian sampe berani menginjakkan kaki disini lagi. Akan aku bantu kalian kembali ke pangkuan Illahi." ucap Tutik Garang.


Tutik menghubungi Bapak, dan memintanya agar membawakan uang 7 juta rupiah ke rumah Marni.


Tidak lama kemudian Bapak datang dan menyerahkan uang yang diminta oleh Tutik.


Tutik pun memberikan uang itu kepada tiga preman dan meminta bukti pelunasan hutang.


Marni menangis sesenggukan dan berterimakasih kepada Tutik.


"Kok kamu mau menolongku Tik, kan selama ini aku sudah jahat sama kau?"


"Tadinya sih aku malas mau tolong kamu Mar, tapi di pikir-pikir. Kalau aku jahat, aku sama saja kaya kamu jadinya. Kan aku tidak mau kalau disama-samakan sama kamu Mar." Canda Tutik.


"Ish.. kau ni...memang beda lah kita ini Tik, tidak akan sama. Aku minta maaf ya Tik, sudah jahat sama kau selama ini. Aku cemburu buta saja, padahal kau tidak pernah melirik suamiku sedikitpun. Aku hanya iri saja sama kau Tik."


"Sudahlah.. tidak apa, jangan dibahas lagi, yang sudah-sudah biarlah berlalu. Mari, kita buka lembaran baru."


Marni mendekat hendak memeluk Tutik, namun Tutik reflek menjauh dan menutup hidungnya.


Marni pun berhenti dan melihat penampilanya, sebagian tubuhnya sudah hitam legam penuh dengan air got. rambutnya pun awut-awutan dan bau kotoran sapi.


"Hehehe.. maaf Tik, bau got aku." Marni meringis sambil menunjuk tubuhnya yang basah.


"Iya Mar, tau aku. Hahaha.. ya sudah, kau pulang sana, mandi. Jangan ngutang lagi ya."


"Iya Tik, janji aku tidak akan ngutang rentenir lagi, sekali lagi terimakasih banyak ya Tik."


"Iya.. sama-sama."

__ADS_1


"


__ADS_2