Istri Juragan

Istri Juragan
Mengetahui Masa Lalu


__ADS_3

Semua mata fokus pada raut wajah baja ketika makanan jadul itu baru saja masuk ke dalam mulutnya.dunia seakan tiba-tiba terhenti karena mereka terlalu fokus pada baja hingga bernafas pun mereka lupa.


"Masakan ini,kenapa sangat mirip dengan masakan nenek?kenapa aku tiba-tiba sedih?ya,tuhan rasanya sangat mirip dengan masakan nenek."


Tiba-tiba Bayangan masa kecil berputar di otak baja,bayangan kenangan ia dan neneknya.mulai dari bermain bersama,hingga bayangan ketika neneknya menyuapi ia nasi goreng.sungguh bayangan itu membuat baja terlarut hingga tanpa sadar menghabiskan sepiring nasi goreng itu.


"Apakah seleranya makanan purba?habis tidak tersisa sebiji nasi pun.apa yang di lakukan Rahmat,ajian apa yang ia campurkan sehingga dapat membuat Sultan ini terhipnotis memakan nasi goreng jadul ini."


Lilik bergelut di dalam hati karena merasa aneh dengan selera baja,namun meskipun begitu ia tetap merasa lega akhirnya ia dapat terhindar dari hal buruk.


Sedangkan di sisi lain,Winda baru saja berbisik sesuatu dengan kelvin.dua manusia itu sama-sama ber tos ria saat mengetahui kemenangan akan di menangkan oleh mereka.


"Kali ini aku salut sama lo,lain kali jika gue gajian gue akan traktir lo?" puji Kelvin sangking senang nya.


"Awas ya,gue tagih janji Lo itu," balas Winda.


"Aman tuh."


"Gue gak nyangka,sama lo.ternyata Lo sebenci itu sama intan," ujar Winda ingin membuka takbir masa lalu.


"Gimana gak benci.dulu gue udah bilang sama dia waktu pemilihan asisten pak Lilik,kan,calonnya gue sama rahmat.nah,gue udah menggebu-gebu nih yakin gue bisa menang,eh,semuanya berujung malu karena perempuan itu," omel Kelvin Masi kesal dengan kejadian itu.


"Emangnya dulu pemilihan asisten pak Lilik pakai coblos kayak pemilu gitu," kaget Winda secara dia Baru saja bergabung di restoran itu sekitar baru setengah tahun.


"Ia.kemaren itu sekalian pak Lilik ingin seru-seruan sekalian bikin sejarah baru yang beda dari restoran lainnya." jedanya.


"Lo tahu dulu jumlah koki dan pelayan di sini ganjil.nah,sialnya si intan itu paling akhir waktu nyoblos.padahal poin aku dan Rahmat itu seimbang,tapi,lantaran si gadis to*lol itu nyoblos Rahmat makanya gue kalah.hari itu gue kesel,ingin gue cekek tu perempuan," lanjutnya.


"Hahaha ... kasihan banget deh Lo," tawa Winda melihat wajah kesal Kelvin.


"Gue muak kalau mengingat hal itu,padahal awalnya yang dukung gue banyak soalnya gue banyak teman.tapi,karena gue yakin gue menang jadi gue sombong waktu itu,gue minta si Sule nyoblos Rahmat biar poin Rahmat gak memalukan banget,tapi yang terjadi gue malah kalah.dasar intan sia*lan!" umpat nya lagi membuat Winda semakin tertawa lepas.


"Gue dari awal masuk sini,udah panas kuping gue.katanya jangan temenan dengan intan kalau gak mau di pandang murah.nah,itu maksudnya apa ya?Lo tahu gak?" tanya Winda seakan ingin mengetahui sejarah intan di musuhi.


"Itu karena,ada seseorang yang mengirim foto di grup," bisik Kelvin lagi.


"Foto apa?" tanya Winda semakin penasaran.

__ADS_1


"Foto intan sama pak Lilik habis keluar dari sebuah hotel.foto itu di ambil di lobi hotel,lo tau di foto itu rambut pak Lilik basah kayak habis keramas gitu.nah,dari situ kami mengecap intan murahan," cerita Kelvin.


"Masa,sih.rasanya gue gak percaya,secara intan itu berhijab gak mungkin gitu ngelakuin hal kotor?" bantah Winda.


"Hijab dia itu untuk nutup aib dia.padahal aslinya ck ... ck ... menjijikan,pantes anak nya gak ada ayah,ternyata dia murahan!" lanjut Kelvin.


"Gak,nyangka banget gue!" ujar Winda.


"Alasan kami gak suka dia itu,dia pakai cara kotor untuk ambil hati bos.itu sih Nisa sama Vira udah terpengaruh sama dia,besok-besok elo juga terpengaruh.awas jangan sering bicara sama dia entar terhipnotis," nasehat Kelvin.


"Amit-amit gue mau berteman dengan wanita gak bener kayak dia," geli Winda.


"Bagus kalau Lo sadar."


"Oh,ya,Lo bilang Nisa sama Vira terpengaruh?itu berarti dulu mereka juga ikutan gak suka sama intan?" tutur Winda lagi.


"Ia.seru malah waktu mereka Masi gabung sama kami,Lo tahu si intan itu gak ada sehari pun gak nangis kami buat.gak peduli dia hamil atau apa kek,yang kami tahu dia itu wanita kotor yang gak pantes kerja disini!" seru Kelvin.


"Hamil.dia sedari hamil kerja disini?" tanya Winda.


"Ia,bahkan kami beberapa kali ingin membuat janin nya keguguran.untuk apa coba anak haram kayak gitu di biarin hidup?tapi nampaknya intan pakai ilmu kebal sehingga apapun yang kami lakukan padanya tidak ada pengaruh sama sekali untuknya?" pungkas Kelvin sembari memainkan lembaran daun sawi di tangan nya.


"Ia.kami juga menganggap begitu.pokoknya intinya siapapun jangan ada dekat dengan dia,wanita itu pembawa sial gak baik berteman dengan nya,dia itu terlalu buruk untuk di manusia kan" saran Kelvin.


"Kamu,benar."


Tak lama terdengar keributan dari arah depan,seketika itu Kelvin dan Winda saling tatap seakan tahu apa yang tengah terjadi.tidak mau melewatkan momen yang mereka tunggu akhirnya mereka memutuskan untuk berlari menuju keberadaan Lilik.


"Mana Rahmat?" tanya Lilik dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak.


"Sebentar kami akan panggil,kan!" ucap salah satu koki.


"Bos!!" panggil Nisa dengan nafas ngos-ngosan.


"Ada apa lagi?mau buat kericuhan!" omel Lilik.


"Yeah.bos,sok tahu banget," sungut Nisa. "Makanya dengerin dulu,pak.bos,kami bertiga minta izin,ya?" ucap Nisa tidak lupa dengan wajah puppy eyes nya.

__ADS_1


"Jangan sok imut kamu.kamu izin kemana?" ketus Lilik.


"Ada yang tengah berduka,bos,yaitu temen kami vira.bos,tahu nenek nya Vira di kabarkan meninggal,jadi untuk saling menguatkan kami terpaksa hari ini bolos untuk mendampingi Vira dalam proses pemakaman neneknya," tutur Nisa panjang kali lebar.


"Yang meninggal itu neneknya Vira tapi kenapa kamu dan Intan yang heboh.gak ada pokoknya gak ada bolos,tamu belum pergi tapi kalian seenaknya aja ingin pulang," seru Lilik tak terbantahkan.


"Yah,gak di izinin," lesu Nisa tak semangat.


Tak lama Rahmat datang bertepatan dengan Winda dan Kelvin yang berada di belakang nya.nisa yang sedari tadi belum faham dengan maksud Lilik memanggil Rahmat akhirnya menjadi penasaran.


"Rahmat apa kamu yang membuat nasi goreng untuk tamu?" tanya Lilik Masi dengan raut wajah yang tidak terbaca.sedangkan Kelvin dan Winda diam-diam tersenyum.


"Bukan,pak!" jawab cepat Rakhmat.


"Lalu siapa yang membuatnya,Winda?" tanya Lilik memicingkan mata.


"Saya bisa jelaskan,pak.tolong bapak dengarkan cerita saya tanpa di sela terlebih dahulu," ucap Winda serius membuat Nisa mengerutkan kening seakan tahu ada kelicikan yang sedang di mainkan disini.


"Begini,pak.sebenarnya tadi waktu saya ke dapur tidak ada orang.jadi,saya berniat ingin mencari keberadaan kak Rahmat,tapi,tak sengaja saya berjumpa dengan intan.lalu saya ceritakan perihal nasi goreng itu,dia bilang dia saja yang buat dia tahu resep itu.ya,karena waktu nya udah mepet jadi saya biarkan saja intan yang buat." ucap nya.


"Waktu proses pembuatan saya lagi ada di kamar mandi,pak,saat saya kembali nasi goreng nya udah jadi.intan cuma minta saya bawa troli itu pak selebih nya saya tidak tahu," lanjut nya lagi.


Pok!pok!pok!!.


Suara tepuk tangan itu berasal dari Nisa,entah apa maksudnya yang jelas nisa bertepuk tangan dengan riuh tidak lupa sesekali tertawa.


"Benar-benar dongeng yang memekakkan telinga,gue salut dengan kerangka cerita lo.gue kagum,mantan sutradara dimana Lo?" celetuk Nisa.


"Maksud Lo apa?" pungkas Winda.


"Jangan pura-pura gak tahu deh,bahkan anjing yang tengah menggonggong pun tercium akal busuk Lo itu!" cetus Nisa.


"Udah jangan berantem.sekarang intan nya mana?" tanya Lilik ingi tahu keberadaan intan.


"Dia pergi nemenin Vira," balas Nisa sedikit ketus.


"Aduh,anak itu.ya sudah kalian bubar,kalau mau berkelahi di belakang jangan di sini karena bos Austin mau lewat sini!" titah Lilik lalu pergi kembali ke ruang VVIP.

__ADS_1


"Awas jika gue denger intan dalam masalah,gue tahu Lo biang keladi nya.jangan sok cari masalah Lo disini,pelayan ingusan kayak Lo mau natangi senior pula!jangan sok pemberani jika nafas aja Masi numpang!" bentak Nisa setelah kepergian Lilik sedangkan Winda terbungkam mendengar ultimatum dari Nisa.


__ADS_2