
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang ketika Tutik baru saja akan berangkat untuk menjemput Bima di sekolah.
Baru saja menginjakka kaki di teras, terlihat Bima sudah datang bersama dengan Bapaknya. Tumben-tumbenan sekali Sutris mau menjemput anaknya, batin Tutik bertanya-tanya.
Sutris menghentikan motornya di halaman rumah, Bima buru-buru turun dan berlari masuk kedalam rumah.
Tutik melihat ada yang tidak beres pada anak semata wayangnya itu.
Tidak biasanya Bima mengabaikan Tutik dan tidak menyaliminya, namun hari ini Bima justru langsung nyelonong, masuk kedalam rumah.
Baru saja ingin menyusul Bima kedalam rumah, Sugeng datang dan ikut memarkirka motornya di halaman rumah Tutik.
"Assalamualaium.."
Hanya Sugeng yang mengucap salam, sedangkan Sutris hanya nyelonong seperti jailangkung yang datang tidak diundang.
"Waalaikumsalam.." jawab Tutik.
"Bima apa sudah pulang Dek? Mas jemput ke sekolahnya kok kata gurunya, Bima sudah pulang."
"Iya Mas, Bima baru saja pulang dijemput sama bapaknya."
"O.. Syukurlah kalau begitu, sekarang lagi marak penculikan soalnya. Kemarin anak dari kampung sebelah kabarnya diculik dan masih belum ditemukan. Polisi masih berusaha melacak keberadaan korban. Jadi khawatir sama si Bima aku Dek." sambung Sugeng.
"Ya ALLAH.. kasihan sekali Mas, semoga anak itu bisa segera ditemukan ya Mas."
"Amin..." jawab Sugeng.
__ADS_1
"Eh Sutris.. apa tidak ke kebun kamu Tris? kok jam segini malah berkeliaran?" tanya Sugeng kepada Sutris.
"Aku tidak berkeliaran Juragan. Cuma jemput anakku saja sebentar. Tidak sampai satu jam pun."
"Oh yasudah, kau kembalilah ke Kebun. Awasi itu para pekerja, jangan sampai makai gaji buta kau."
Sugeng memang sudah hilang respek kepada Sutris setelah melihat sendiri tabiat laki-laki itu yang kurang baik.
Berselingkuh dan mengabaikan anak serta istrinya.
Tidak mungkin Pria seperti itu akan mampu menjadi pemimpin yang baik pula.
Setelah kepergian Sutris, Sugeng pun berpamitan untuk kembali ke pabrik.
Sungguh calon ayah sambung idaman. Rela meninggalkan pekerjaan demi untuk menjemput calon anak tirinya, hanya karena hawatir Tutik telat menjemput dan saat ini sedang marak-maraknya kasus penculikan. Ditambah lagi, sekolah SD dan SMP disana berada di tengah-tengah perkebunan karet.
Tutik bergegas masuk kedalam rumah dan tidak lupa menutup pintu utama rapat-rapat.
"Bima.. buka sayang..! kau kenapa?" teriak Tutik dari luar pintu.
"Bimm..... apa kau marah sama Mamak karena telat jemput sekolah?"
"Maafkan Mamak Bim.. tadi Mamak ada pekerjaan jadi telat jemput kau."
Ceklek.
Pintu kamar terbuka dan Bima menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
__ADS_1
"Hei.. anak mamak yang tampan kenapa menangis? apa berantem sama teman kau ha? apa di pukul? mana yang sakit, bilang sama mamak siapa yang berani pukul anak mamak ini, biar mamak labrak itu orang tuaya." ucap Tutik menggebu-gebu.
"Apa lah mamak ini, tidak ada yang pukul aku. Tidak berantem pula aku Mak."
"Tidak berantem? terus kenapa kau menangis? apa dimarahi sama guru kau, pasti kau bandel mangkanya dimarahi."
"Ah cerewet sekali lah Mamak ini. Tidak ada tang berantem, tidak ada juga yang dimarahi. Lagian Bima tidak akan menangis kalau cuma berantem sama dimarahi Mak."
"Lah terus kenapa? mangkanya cerita, kau jangan bikin mamak mu ini bingung saja." sewot Tutik.
"Bapak mau menikah lagi Mak."
"Ooooo itu toh?"
"Kok cuma Ooo saja Mamak ini, tidak kaget?" rajuk Bima.
"Ya terus Mamak harus apa? itu kan hak bapakmu Bim. Kita memang sudah punya kehidupan masing-masing, tidak bisa sama-sama lagi Bim. Jadi bapakmu juga punya hak untuk melanjutkan hidupnya bersama siapapun."
"Seperti halnya mamak yang akan menikah lagi dengan Om Sugeng, Bapakmu juga bisa menikah lagi dengan siapapun Bim."
"Tapi aku tidak mau punya ibu tira, Mak." Bima kembali menangis.
"Eh.. Bima.. sini-sini." Tutik mendekat dan memeluk putranya.
"Kau kan tinggalnya sama Mamak, jadi tidak perlu risau. Lagian tidak semua ibu tiri itu jahat Bim, ada juga ibu tiri yang baik. Malah terkadang bisa lebih baik dari ibu kandung. Walau apapun yang terjadi kedepanya nanti Bim, kau harus tetap sayangi bapakmu, Ikatan Suami Istri itu bisa putus, tapi tidak ada yang bisa memutuskan ikatan darah antara anak dan orang tuaya. Kau paham itu?"
"Iya Mak." Bima mengangguk.
__ADS_1
"Anak pintar.. ya sudah, sekarang kau cuci tangan, cuci kaki, terus ganti baju ya. Setelah itu makan siang, Mamak siapkan makananmu dulu dibawah, Ok?"
"Iya Mak."