Istri Juragan

Istri Juragan
Takbir Masa Lalu 2


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya,dok?" tanya Tini khawatir.


"Apa kalian berdua kelurganya?" tanya balik dokter.


"I ... a," balas ragu Tini.


"Keadaan pasien sangat memprihatikan,itu karena ia sedang mengandung.mungkin juga dia lemas saat terjatuh di air,saat ini kami belum bisa berbuat banyak.kami sangat mengharapkan doa dari kalian berdua,agar pasien dapat melewati masa sulit ini," jelas dokter itu serinci mungkin.


"Astaghfirullahalazim," sedih Tini entah mengapa air matanya lolos begitu saja.


"Kalau begitu,saya tinggal dulu.kalian mau masuk melihat pasien silahkan," pamit dokter itu.


Setelah kepergian dokter,Karno langsung mengajak Tini untuk masuk kedalam.kebetulan didalam tidak ada siapapun kecuali mereka berdua.


"Mas,kenapa aku sedih,ya?padahal baru kali ini aku bertemu dengan dia,tapi kenapa aku ikut prihatin atas apa yang menimpa dia?" ucap Tini sembari memperhatikan wajah pucat wanita yang tak di kenal nya itu.


"Itu tandanya kamu Masi punya hati nurani," balas Karno.


"Seandainya sejak kita menikah,kita di beri keturunan pasti anak kita udah sebesar ini,mas.dokter bilang dia hamil,ya Allah beruntung sekali wanita ini," iri Tini karena dia sampai detik ini belum diberi amanah seperti itu.


"Kamu jangan ngomong begitu,rejeki orang beda-beda begitu pula ujian hidupnya.hari ini kita sengaja di pertemukan dengan dia mungkin ada rencana Tuhan untuk kita," nasehat Karno.


"Semoga dia cepat sadar,mas,semoga juga dia mau ikut dengan kita," harap Tini.


"Loh,kok ikut kita?" protes Karno.


"Emang kamu gak kasihan sama dia,kamu tahu dia ini sengaja mau di bunuh.kamu ingat komplotan pria tadi,aku yakin mereka tidak akan diam saja saat tahu bahwa wanita ini masi hidup," omel Tini.


"Itu bukan urusan kita,sayang.tugas kita cuma nolong dia,urusan dia gak usah ikut campur," protes Karno lagi.


"Kamu kok jahat,sih.kamu gak bisa begitu,mas.jika kamu membiarkan dia untuk kembali ke desa itu maka sama saja kamu membiarkan dia mengantarkan nyawanya,kamu tahu dia ini lagi hamil,fisiknya pasti lemah.bisa kamu bayangkan,bagaimana nasib dia jika kita membiarkan dia pulang ke desa itu," pungkas Tini sedikit emosi.


"Sudahlah,kenapa kita yang berantem karena wanita tak di kenal ini?" ucap Karno sedikit pusing.


"Itu karena aku baru tahu kamu jahat dan tidak memiliki rasa kemanusiaan.padahal kamu tahu tidak ada harga untuk membayar rasa manusia yang dapat memanusiakan manusia," ketus Tini.


"Kenapa selalu mengecap aku jahat?kamu tahu aku belum melakukan hal itu.lagi pula kita tidak bisa mengambil keputusan sepihak.jika, seandainya dia sadar dan lalu ingin pulang ke desa.kita tidak ada hak untuk melarang nya," debat Karno.


"Aku akan membujuknya dan aku pastikan dia akan mau ikut dengan kita," yakin Tini.

__ADS_1


"Heh,percaya diri sekali kamu," remeh Karno.


"Tidak ada orang yang mau mengantarkan nyawanya,aku yakin dia tetap ingin hidup dan membesarkan anak di dalam kandungannya," kekeh Tini membuat Karno tertawa sumbang.


"Kamu ini terlalu baik.sekarang ayo kita pulang," ajak Karno sedikit memaksa.


"Aku tidak mau!kalau kamu mau pulang silahkan,aku masi mau tetap di sini," tolak Tini tegas.


"Kau melawan padaku hanya karena wanita itu," ucap Karno tak percaya.


"Ia.karena aku tahu rasanya di posisi dia,tidak ada kelurga di sisi dan merasa hidup sendirian.karena aku tahu rasa sakit itu makanya aku tetap di sini untuk menemani dia," jelas tini.


"Si*al.andai aku tidak berjumpa dia maka tidak akan serumit ini," sesal Karno.


"Kau menyesal.jadi maksud mu lebih baik dia mati di sana dari pada kita selamatkan,ini yang aku tidak suka dari mu,kau itu tidak tulus dalam menolong orang lain.kau akan menyesal karena merasa di repotkan," marah Tini.


"Uhh ... "


Suara itu berasal dari wanita itu,mendengar hal itu Tini mengesampingkan perdebatan dengan suaminya.dia memilih menekan tombol darurat agar dokter maupun suster segera kesana.


"Alhamdulillah,dia mulai sadar," senang Tini namun Karno hanya berwajah datar.


"Baik,dok.lakukan yang terbaik untuk kesembuhan dia," balas Tini sebelum keluar.


Tini tak tenang saat menunggu di luar,raut cemas dan kekhawatiran sangat jelas di wajahnya.dia tidak tenang,dia memilih mondar-mandir guna menunggu pintu itu terbuka.


"Duduklah,apa kamu tidak capek berdiri sedari tadi?" tegur Karno.


"Aku semakin gelisah jika duduk," tolak Tini.


"Dia sudah sadar,tidak perlu secemas itu," ucap Karno.


"Tapi,apa dia baik-baik saja?apa mungkin dia ada luka atau ada sakit serius karena kecelakaan itu," tebak Tini menerka-nerka.


"Itu bukan urusan kita," tegas Karno langsung di sambut tatapan tajam dari istrinya.


Tak lama akhirnya pintu terbuka,hal itu tentu saja membaut hati Tini senang.dia segera mendekati dokter untuk menanyakan keadaan wanita itu.


"Bagaimana,dok?apa ada luka serius?" tanya Tini begitu cepat.

__ADS_1


"Anak kalian mengalami amnesia permanen, untuk memulihkan ingatan nya seperti nya kami tidak ada rekomendasi obat ataupun pengobatan.karena amnesia yang pasien alami sangat langka dan tidak ada obatnya," jelas dokter.


"Amnesia," gumam Tini lalu entah mengapa dia diam-diam tersenyum.


"Apa ada sesuatu lagi yang dia alami selain amnesia?" kali ini Karno yang bertanya.


"Tidak ada.untuk kesehatan ia dan janin sangat baik hanya perlu beberapa hari dirawat lalu setelah nya ia akan sehat seperti semula," balas dokter.


"Alhamdulillah," sahut Tini bersyukur.


"Kalau begitu saya permisi dulu,kalian bisa masuk melihat keadaan nya," pamit dokter itu.


Tini langsung menerobos masuk sedangkan Karno hanya menggeleng kepala melihat tingkah Tini.sampai di dalam mereka hanya saling tatap-tatapan.hingga Tini buka suara untuk mencairkan suasana.


"Bagaimana keadaan mu,nak?apa kamu baik-baik saja?" tanya Tini penuh kasih membuat Karno langsung menautkan alisnya.


"Kalian siapa?" tanya balik wanita itu.


"Apa kamu tidak mengingat kami?" wanita itu menggeleng kan kepala. "Ini ibu dan itu bapak kamu,apa kamu tidak mengingat kami?" Karno tersedak ludahnya sendiri mendengar penuturan Tini barusan.


"Jadi kalian ini orang tua ku," ulang nya.


"Ia.nama mu intan Saputri,kamu baru saja jatuh dari jembatan.saat ini kamu sedang hamil dan suami mu baru saja meninggal beberapa bulan yang lalu,apa kamu tidak ada mengingat sedikit pun?" dusta Tini.


"Tidak,bu.Arghh ... kepala ku sakit," keluhnya merintih sedikit.


"Sepertinya dia butuh istirahat,lebih baik kita keluar," saran Karno Masi dengan wajah datarnya.


"Apa kepala mu sangat sakit,nak?apa perlu ibu panggil dokter?" lembut Tini membuat Karno geli sendiri mendengar kata 'nak' itu.


"Tidak,Bu."


"Baiklah.apa kamu tidak keberatan jika kami tinggal sebentar?" tanya Tini lagi.


"Tidak.apa kalian keluar?apa boleh aku minta di belikan nasi goreng,perut ku sangat lapar," pinta nya tanpa sungkan mungkin dia percaya bahwa dua orang itu adalah orang tuanya.


"Kami akan membelikan makanan untuk mu,kamu istirahat,lah," ucap Tini.


Sebelum keluar Tini menyempatkan mengecup singkat kening intan,Karno yang melihat dari kejauhan entah mengapa geli sendiri.mungkin dia berpikir bahwa Tini sangat pandai berakting menjadi ibu yang baik.

__ADS_1


"Apa maksudmu mengatakan dia anak kita?" tanya Karno tak senang.


__ADS_2