Istri Juragan

Istri Juragan
Bab 12


__ADS_3

Waktu satu tahun telah berlalu, Tutik bahkan sudah resmi bercerai dengan Sutris baik secara hukum maupun agama.


Warung makan milik Tutik yang dulunya sederhana dan kecil kini telah berganti menjadi Rumah makan besar dengan gaya clasik khas kota Jepara, Berbentuk rumah joglo dengan ukiran-ukiran khas Bumi Kartini.


Usaha Tutik memang berkembang cukup pesat, bahkan rumah makan dengan nama 'Rumah Makan Bu Tutik' itu telah memiliki dua cabang di kota Jepara.


Selain bisnis rumah makan, bisnis pertanian dan perkebunan milik Tutik pun ikut berkembang pesat, benar apa kata mamak, Tutik tidak perlu turun ke sawah untuk nanam padi, atau turun ke kebun untuk metik sayur dan buah. Semua itu dikerjakan oleh para buruh, Tutik tinggal terima beres.


Mobil pajero berwarna putih berhenti di depan rumah baru milik Tutik, Bima keluar dari pintu samping kemudi, sedangkan tidak lama kemudian Tutik juga turun dari mobilnya.


"Sudah pulang Le..? gimana tadi sekolahnya?" Tanya mamak Yati pada Bima.


"Iya Mbah, biasalah Mbah tidak ada yang seru di sekolah. Hanya belajar dan belajar terus Mbah." Keluh Bima.


Sontak mamak Yati tertawa mendengar keluhan cucu kesayanganya.


Sedangkan Tutik hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tidak bisa dipungkiri darah Sutris mengalir di tubuh Bima, Bima yang paling malas saat disuruh belajar, tentu saja turunan dari bapaknya.


"Tadi Sugeng kesini Tik, nyariin kamu. Katanya mau ngebahas masalah kebun tebu, sudah waktunya panen katanya, Sugeng mau nawar harga sepertinya Tik." ucap mamak Yati.


"Iya Mak, tadi Juragan sudah hubungin Tutik, mungkin nanti sore mau datang lagi kesini."


Selain juragan tanah pemilik perkebunan terluas di kampung itu. Sugeng juga sering kali bekerjasama dengan para pemilik perkebunan lain. Sugeng biasa membeli tebu yang sudah siap panen, jadi pemilik kebun hanya terima uang bersih, sedangkan seluruh biaya panen dan buruh akan ditanggung oleh pembeli, yaitu Sugeng.


"Tik, apa tidak ada keinginan untuk menikah lagi Kamu Tik? sudah satu tahun kamu ini menjanda. Mamak tidak rela Kamu jadi bahan gosip tetangga terus, setiap hari selalu saja ada gosip-gosip hangat tentang kamu Tik." tanya mamak Yati.


"Biarkan saja lah Mak, suka-suka mereka saja lah mau bergosip seperti apa, Tutik belum ada kepikiran untuk menikah lagi Mak, Tutik mau fokus ngurusin si Bima."


Menjadi seorang janda yang kaya mendadak tentu saja Tutik jadi sasaran empuk bagi emak-emak netizen pencari berita biar hitz dan viral.


Ada yang mengatakna jika Tutik melihara tuyul, setiap hari Tutik harus nyusuin tuyul-tuyul itu sehingga kini tubuh Tutik menjadi lebih kurus dan ideal.


Ada juga yang mengatakan jika Tutik menjadi istri kedua dari pejabat kaya raya.

__ADS_1


Ada juga yang bilang jika Tutik main pesugihan jenglot, setiap hari selalu ada saja gosip hangat mengenai Tutik.


Sebut saja pelakunya adalah Marni, Wanita yang selalu merasa bahwa Tutik adalah musuh sekaligus saingan terberatnya.


Namun gosip-gosip itu hanya bertahan sebentar, tanpa ada yang pernah benar-benar mempercayainya. Tentu saja sekarang segala sesuatu harus disertai dengan bukti yang akurat.


Apalagi, pengangguran di kampung itu semakin berkurang setelah Tutik merekrut puluhan emak-emak untuk dipekerjakan di kebun maupun ladang.


Bukan Tutik tidak laku sehingga tidak mau menikah, jangan salah! bukan hanya dari kalangan rakyat biasa, petani, peternak, bahkan beberapa juragan kaya sudah datang melamar Tutik.


Ada yang bujang, Duda bahkan ada juga yang mau menjadikan Tutik istri kedua bahkan ketiga.


Hal itu juga yang menjadikan Marni ketar-ketir, takut Suaminya bakal ikut-ikutan melamar Tutik dan menjadikanya Binik muda, atau bahkan meninggalkan Marni lalu menikahi Tutik.


Tepat menjelang sore hari, Sugeng tiba di rumah Tutik. Duda kaya raya nomor satu di kampunh itu selalu tampil rapi dan wangi, tidak tau kenapa tapi Tutik selalu merasa ada yang berdenyut setiap kali bertemu dengan Duda tampan itu.


"Asaalamualaikum Tik." sapa Sugeng.


"Waalaikumsalam Juragan.. Mangga,silahkan duduk!"


"Begini Tik, tujuanku datang kesini untuk menawar tebu di kebunmu itu Tik, aku lihat sudah waktunya panen." ucap Sugeng.


"Kalau aku beli 50 juta apa boleh Tik?"


"Tambahin sedikit lah Juragan, jangan 50 juta. Masih belum dapet itu Juragan."


"Ya sudah, aku tambahin 5 juta ya Tik, jadi 55 juta totalnya, gimana?"


"Emm.. ya sudahlah, boleh. Rencananya mau dipanen kapan Juragan?"


"Insyaallah besok Tik, kalau hari ini Deal."


"Siap. Boleh Juragan. Kalau Juragan butuh tambahan tenaga buat tebang muat, nanti saya bantu carikan."


"Oke, sip. Ini uangnya 50 juta, kamu hitung dulu ya, sisanyq yang 5 juta besok pagi tidak apa-apa kan?"

__ADS_1


"Boleh juragan, gampang lah itu."


"Om Sugeng..!" Bima tiba-tiba berlari menghampiri Sugeng lalu mencium tanganya.


"Eh Bima.." Sugeng mengacak singkat rambut Bima.


"Om kesini bawa motor gak Om?"


"Iya.. Om bawa motor, kenapa emangnya?" tanya Sugeng bingung.


Bima melengok kedepan dan benar saja motor trail itu berdiri dengan gagahnya di halaman rumah.


"Malam ini ada pasar malam di lapangan Om, ayo kita kesana Om. Bima mau naik motor Om Sugeng." ucap Bima dengan penuh semangat.


"Siapp Bos.." Sugeng memberi tanda hormat.


"Eh. jangan Bima! nanti merepotkan Om Sugeng, mending nanti Bima pergi sama Mamak saja ya." Tawar Tutik.


"Gak Mau! Mamak gak asik, gak bisa naik motor."


"Kalau gitu sama Mbah Kakung aja, naik motor ya?"


"Tidak mau Mak. Bima maunya naik motor Om Sugeng, keren Mak."


"Sudah lah Tik, tidak apa-apa. Biarin Bima pergi sama aku ya, aku gak ngerasa direpotin. Tenang aja."


"Tuhkan Mak.. Om Sugeng aja seneng kok, ayo Om kita berangkat. Lets Go..!" Bima mengepalkan tangan keatas sambil berlari menuju pintu.


"Kemonn..!" Sugeng tidak kalah semangatnya.


Tutik hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala.


Mamak Yati tiba-tiba muncul dan berdiri di samping Tutik.


"Cocok sekali ya Tik mereka itu, tidak terlihat seperti orang asing. Kalau orang yang gak kenal, pasti ngira mereka itu bapak sama anak."

__ADS_1


"Mak.. sudahlah, jangan mikir yang aneh-aneh."


Tutik beranjak pergi meninggalkan mamaknya.


__ADS_2