
Sugeng mondar-mandir di depan pintu UGD dimana Tutik sedang ditangani oleh Dokter.
Sudah lebih dari 30 menit namun dokter tidak kunjung keluar, hanya ada beberapa perawat yang terlihat sibuk keluar masuk ruangan.
"Bapak Sugeng silahkan masuk.!" ucap seorang perawat mempersilahkan Sugeng masuk ke ruangan dimana Tutik sedang ditangani.
"Begaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Sugeng kepada Dokter.
"Alhamdulillah.. lukanya tidak terlalu parah Pak, Insyaallah sebentar lagi Ibu Tutik akan siuman, dan Alkhamdulillah nya lagi, anak Bapak juga selamat dan sehat."
"Anak saya Dok? lah anak saya kan emang srlamat dan sehat Dok. Yang ketabrak kan istri saya, sedangkan anak saya lagi sekolah belum pulang."
Dokter itu sedikit mengerutkan dahinya lalu tersenyu. "Jadi bapak belum tau kalau ibu Tutik saat ini sedang mengandung?"
"Mengandung? maksutnya istri saya hamil Dok?"
"Iya.. istri bapak saat ini sedang hamil, perkiraan usia kehamilanya sudah 8 minggu. Untuk lebih pastinya, nanti setelah Ibu Tutik siuman, bisa diperiksakan ke poli kandungan. Sekali lagi selamat ya Pak, atas kehamilan istrinya, dan semoga ibu Tutik segera pulih kembali."
"Alhamdulillah..."
Sugeng sujud syukur di samping brankar istrinya, Sugeng pun memeluk dan menciumi wajah Tutik dengan penuh haru.
Tutik pun mulai tersadar dan terlihat bingung.
"Sayangg.. kamu sudah sadar? Alhamdulillah.." Sugeng mendekap erat istrinya lalu kembali menciumi wajah Tutik. Tutik pun semakin dibuat kebingungan.
"Tadi aku kecelakaan ya Mas? terus kondisi Mayang gimana?"
"Sayang.. udah, kamu gak usa perduliin si Mayang. Kamu sampe kaya gini gara-gara dia gau gak? Mayang sekarang lagi di tahan di kantor polisi, diq juga sebenernya berniat mau kabur dari rumah Sutris, dia ambil juga sertifikat tanah sama rumah milik Sutris, abis itu kabur. Untungnya ketemu polisi di tengah jalan, Kebetulan mereka memang mau nangkap Mayang atas kasus pencemaran nama baik yang kemarin itu."
"Ya Allah.. jadi Mayang sebenernya mau kabur Mas? terus nyuri sertifikat tanah juga? bener-bener emang itu perempuan."
"Iya.. kamu gak usa mikirin dia lagi, sekarang uda beres kok masalahnya. Sekarang kamu harus fokus sama kesembuhan kamu dan kesehatan anak kita ada di sini." ucap Sugeng sambil mengelus perut istrinya.
"Mas sudah tau?"
__ADS_1
"Iya.. Mas sudah tau, tadi dibilangin sama Dokter. Kamu kok tega banget gak ngasih tau mas sih Yankk?"
"Bukanya aku gak mau kasih tau Mas.. tapi aku juga baru tau, dan rencananya nanti malem mau kasih kejutan. Eh.. malah dapet musibah gini akunya."
"Trimakasih ya Sayang.. trimakasih banyak. Kamu sudah mau nerima Mas apa adanya, sudah jadi istri paling sempurna buat Mas, sekarang kamu juga lagi ngandung anak Mas, Subhanallah.. Mas bener-bener bersyukur Sayang.."
Malam harinya, Mamak Sri datang ke rumah sakit berniat untuk menjenguk Tutik.
"Ayo masuk! kau ini mau masuk atau mau jaga pintu?" ucap Mamak sri kepada Sutris yang tidak berani masuk kedalam ruang rawat Tutik.
"Kau pilih masuk atau pilih tidak jadi aku maafkan?" mamak Sri melotot pada anak laki-lakinya itu.
"Iya-iya Mak.."
Sutris dan mamak Sri masuk ke ruangan Tutik setelah mengetuk pintu sebelumnya. Sutris hanya mampu menunduk tidak birani menatap ke arah Tutik.
"Sudah baikan kau Tik? bagaimana..apa parah lukamu?" tanya Mamak Sri.
"Alkhamdulillah Mak.. aku sudah baikan, lukaku tidak terlalu parah."
"Tidak perlu minta maaf Mak, mamak kan tidak salah. Ini sudah takdir Allah Mak."
"Maafkan Mamak, karena selama jadi mantu mamak, mamak tidak pernah baik sama kau. Mamak selalu menindas dan nyuruh-nyiruh kau sesuka hati mamak." air mata mamak Sri mulai berjatuhan.
"Makk.. sudah ya.. Tutik ikhlas Kok Mak. Tutik Ridho, semua itu Tutik lakukan sebagai bakti Tutik kepada Mamak. Jadi mamak tidak perlu minta maaf sama Tutik."
Mamak Sri mengangguk lalu mundur satu langkah.
"Maafkan Mas juga ya Dek." kini giliran Sutris yang berbicara,mata pria itupun berkaca-kaca.
"Maafkan Mas, yang sudah zolim sama kamu, selama jadi istri Mas. Mas menyesal Dek, mas baru sadar. Di dunia ini ternyata tidak ada wanita yang benar-benar tulus mencintai Mas selain kamu dan Mamak."
Melihat Sutris menyesal dan meminta maaf kepada Tutik, kemudian memanggil Tutik dengan sebutan Dek, sungguh membuat hati Sugeng panas dingin tidak karuan.
Sugeng mendekat ke arah ranjang, membuat Sutris terpaksa harus mundur satu langkah.
__ADS_1
"Iya.. Istriku sudah memaafkan kau. Tapi jangan harap istriku ini mau balik lagi sama kau Tris. Tidak akan! apalagi sekarang istriku ini sedang mengandung anakku. Jadi kau jangan pernah berani berharap untuk merebutnya dariku."
"Iya..iya... dasar Bos posesif." cibir Sutris.
*****
"Mamak..." seorang anak perempuan berusia sembilan tahun sedang berlari dan menghambur ke pelukan Ibunya.
"Dasar manja."
Seorang anak laki-laki yang masih mengenakan seragam SMA terlihat mengejek adiknya.
"Biarin.. Wekkk! ini kan mamakku." anak itu menjulurkan lidah, balik mengejek sang Kakak.
"Bima..Sinta.. kalian ini ya, berantem terus kerjaanya."
"Kakak itu Mak yang duluan. Dasar Resek!"
"Sudah-sudah! kalau berantem terus nati mamak hukum kalian ya! kalian ini sudah pada besar masih saja berantem, kamu juga Kak, sudah mau masuk kuliah tapi masih aja suka gangguin adeknya."
"Hehehe.. biarin aja Mak, abisnya aku suka kalo lihat mukanya sinta itu cemberut, tambah jelek dia Mak."
"Kakak.....!"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TAMAT