
Baja memakan makanan tumis kangkung terasi yang masi menggebu karena di masak langsung di sebuah wadah yang mirip dengan cobek.
"Rasanya tidak buruk,hampir sama dengan masakan pembantu ku di rumah," ucap nya sambil mengangguk-angguk an kepala.
"Ini sangat enak,aku seperti tidak asing dengan makanan ini.seperti aku pernah makan tapi tak tau di mana?" timpal Austin.
"Kau ini aneh sekali,kau terlahir dan di besarkan di perkotaan mana mungkin pernah makan masakan ini," balas baja.
"Tapi aku merasa pernah mencobanya.emang sih di rumah ku lebih identik dengan masakan barat,tapi sepertinya lidah ku tak suka dengan makanan itu malah seperti asing," lanjut Austin.
"Apakah itu ada efek kecelakaan yang pernah anda alami?" sahut satria.
"Entahlah.tapi kata orang tua ku,aku sedari kecil suka masakan barat meski hidup di asia.tapi,entah mengapa perkataan itu seperti tidak sesuai kenyataan?" cerita Austin.
"Kecelakaan itu sebenarnya membentur kepalamu atau lidah mu.kenapa lidahmu seperti melupakan rasa makanan barat dan beralih makanan kampung," ucap baja tanpa di saring.
"Aku juga tidak tahu." Austin melanjutkan makannya dengan sangat lahap hingga baja dan Satria hanya menjadi penonton saja tanpa berniat ikut mencicipi makanan.
"Sepertinya aku tidak tertarik menu makanan ini,bisa kamu pergi sajikan nasi goreng buat ku?" titah baja yang tiba-tiba menginginkan nasi goreng.
"Tentu saja bisa,tuan."
Lilik bergegas pergi dari sana untuk menuju ke dapur,dia akan meminta koki terbaik untuk membuat nasi goreng seafood ala-ala luar negeri,karena nampaknya teman bosnya tidak menyukai makanan kampung.
Tapi langkah Lilik terhenti karena nyeri di perutnya.perutnya tiba-tiba melilit dan meminta untuk segera ke toilet untuk mengeluarkan dodol emas,alhasil ia gelagapan menahannya dan mencari seseorang yang berada di sana.
"Nah,itu Winda." gumam nya kesenangan. "Winda?!" jeritnya sedikit keras.
Mendengar namanya di panggil membuat Winda langsung menoleh ke sumber suara dan langsung mendekati bosnya itu.
"Ada apa,pak?" tanya nya.
"Kamu bisa bilang ke Rahmat untuk buat nasi goreng seafood,bilang buat dengan racikan rahasia dan buatnya secepat mungkin karena teman bos Austin sudah menunggu."
"Siap,pak.jangan lupa bonus untuk saya,ya?karena hari ini saya terlalu banyak ikut andil dalam melayani tamu VVIP.," ucapnya.
__ADS_1
"Ia,ia.cepat pergi,saya udah kebelet,nih," usir nya.
Dengan senyum mengembang Winda pergi kearah dapur,namun saat melihat intan yang tengah sibuk Menganti bunga hias.seketika itu ide jahil bersemayam di otaknya.
"Intan!" pekiknya.
"Winda,ada apa?" tanya intan menghentikan kegiatannya sejenak.
"Itu,pak Lilik minta kamu buat nasi goreng kampung,katanya dia lagi kepengen maka nasi goreng itu.kamu buat nya cepetan,ya,pak Lilik udah kelaparan tuh," titah nya.
"Loh,kok aku sih yang buat.kamu tahu kan aku cuma pelayan bukan koki,lagi pula gak bisanya pak Lilik minta aku masak untuk dia," ucap intan merasa aneh.
"Mungkin dia mau nyobain masakan kamu,udah sana buat nasi goreng.buat aja nasi goreng yang Lo biasa buat di rumah," lanjut Winda lagi.
"Mana temakan nasi goreng yang seperti itu di lidah pak Lilik," protes intan lagi.
"Kamu ini cerewet banget,sih.tinggal buat nasi goreng aja susah nya minta ampun.kamu ini males atau apa sih?" marah Winda sambil berdecak pinggang.
"Ya udah,gue buatin," ucap intan membuat Winda bersorak dalam hati.
"Gue temenin Lo ke dapur," tawar Winda membuat Intan semakin bingung dengan kebaikan Winda yang tiba-tiba itu.
"Oh,begitu."
Kebetulan pelayan dan koki makan siang,hal itu membuat dapur kosong sehingga hanya ada Winda dan intan saja.melihat hanya mereka berdua saja membuat Winda merasa keberuntungan sedang mendukung nya karena dengan keadaan sepi seperti ini tidak ada yang bertanya alasan intan masak di dapur.
"Ini beneran masak nasi goreng versi aku," tanya intan yang mulai memanaskan wajan.
"Ia.bisa cepet buatnya bos Lilik udah kelaparan,tuh," desak Winda sengaja karena takut yang lainnya keburu melihat mereka berdua.
"Sabar,minyaknya aja belum panas."
Karena terburu-buru membuat intan Hanya mengunakan bawang merah yang di iris agak tebal dan tidak lupa memasukan racikan penyedap dan garam.jika membuat nasi goreng seperti itu tidak memerlukan banyak waktu dan cepat untuk di sajikan.
"Sudah selesai," ucap intan memberikan nasi goreng polos tanpa hiasan sedikit pun itu.
__ADS_1
"Bagus.jika begitu aku akan segera antar,kamu bisa cuci piring.oh,ya,satu hal lagi,jangan ceritakan pada siapapun kamu masak untuk bos,entar takutnya kamu di gosipi yang tidak-tidak.kamu paham bukan maksud baik ku?" pesan Winda.
"Ah,tentu saja aku tidak cerita hal ini pada siapapun.terimaksih sarannya," ucap intan tersenyum tulus.
"Ah,sama-sama," balas Winda tak kalah tersenyum manis.
"Dasar gadis bodoh!bersiaplah di pecat dari restoran ini."
Dengan senyum terus terpancar Winda mendorong troli makanan itu,dia juga tidak sengaja bertemu dengan Lilik yang baru saja selesai buang hajat itu.
"Ah,apa ini nasi goreng nya?" tanya Lilik sedikit terkejut karena nasi goreng pesanan nya telah jadi.
"Benar,bos," balas Winda.
"Tumben kalian kerjanya bener.sini troli nya biar saya saja yang antar,kamu boleh melanjutkan pekerjaan mu," ucap Lilik mengambil alih troli itu.
"Bos suka gitu,habis manis sepah di buang," rajuk Winda.
"Jangan bercanda,saya sedang terburu-buru ini.gak ada waktu saya menangani perempuan yang ngambek kayak kamu," omel Lilik.
"Bos,ya.entar aku gak mau bantuin lagi,loh," ancam Winda menusuk perut Lilik dengan jarinya.
"Udah cepat pergi,nanti saya hilangi bonus yang tadi jika kamu masi menghambat perjalan saya," ancam balik Lilik.
"Oke,oke.silahkan lewat bos ku yang tampan," ledek Winda.
"Tinggal tunggu beberapa saat saja,hingga menunggu kemarahan dari bos lilik.habislah kamu intan!"
Dengan senyum penuh percaya diri Lilik membawa masuk troli makanan yang ia kira adalah makanan termewah itu.namun senyuman nya itu pudar saat ia telah membuka penutup piring itu.
"Astaga,apa ini?kenapa nasi goreng nenek ku tersaji di hadapan sultan?astaga apa-apa an ini Rahmat,kenapa asisten ku bisa ceroboh seperti ini?mana sarjana yang ia banggakan itu,lulusan sarjana namun masak nasi goreng nenek ku untuk sultan.benar-benar keterlaluan!"
"Inikah nasi goreng,pelit sekali kalian dengan bumbu.bahkan bawang merahnya,di iris sebesar ini.mantap sekali koki yang kalian miliki,ini nama nya nasi goreng zaman baharek.aku benar tidak?" oceh baja tidak menyangka nasi goreng bermodal minyak dan bawang itu tersaji di hadapan nya.
"Maafkan kesalahan koki kami,jika kamu tidak suka aku akan meminta dia membawakan nasi goreng seafood untuk mu," ucap Austin tak enak hati dan sedikit melirik tajam ke arah Lilik.
__ADS_1
"Aku akan cicipi dulu,jika enak aku makan.tapi,jika tidak aku ratakan bersama makanan lainnya?"
Bertambah berpaculah jantung milik Lilik, sungguh saat ini dia tidak sanggup jika restoran yang ia sayangi akan di tutup oleh Austin.