Istri Juragan

Istri Juragan
Kecelakaan Tutik


__ADS_3

Mendengar aduan Mayang tentang Mamak Sri dan Endang yang datang kemudian merundung dirinya, membuat Sutris emosi.


Pasalnya mamak tidak pernah berubah, dan tidak pernah mau akur dengan menantunya.


Mungkin dulu Sutris akan memarahi Tutik jika Tutik mengadu prihal mamak Sri, namun kali ini berbeda, Mayang yang sulit untuk dikendalikan oleh Sutris selalu mengancam untuk pergi dari rumah dan meminta cerai.


Sutris merasa perjuanganya selama ini akan sia-sia jika Mayang benar-benar pergi dari rumah. Sutris telah merelakan segalanya demi bisa mendapatkan Mayang, Tutik, Bima bahkan Harta telah ia korbankan demi seorang Mayang.


Dengan penuh emosi, Sutris mendatangi rumah Mamaknya.


Tanpa salam tanpa permisi, Sutris nyelonong masuk lalu berteriak memanggil mamaknya.


"Makkk..Mamaakk..!"


"Apa..? kenapa kau ini teriak-teriak macam di hutan saja, tidak budek telinga mamakmu ini."


"Mamak apakan istriku? apa tidak mamak ini sekali-sekali baik sama menantu?"


"Memangnya aku apakan istrimu itu? ada ngadu apa dia sama kamu?"


"Kenapa Mamak bilang istriku itu pantas untuk dilecehkan, memangnya salah apa istriku sama Mamak? kurang baik apa Mayang sama Mamak? bahkan uang pun sering ia kasih buat mamak, sampai-sampai ia rela tidak punya uang untuk memasak."


Mendengar ucapan anak laki-laki semata wayangnya, air mata mamak Sri mulai berdesakan keluar, sungguh hatinya sakit dibentak-bentak oleh anaknya sendiri.


Mungkin dulu Mamak pernah melakukan itu kepada Tutik, tapi tidak dengan Mayang. Mamak tidak pernah sekalipun meminta uang kepada menantu barunya itu.


"Kau lebih percaya sama orang lain dari pada mamakmu sendiri Tris? mau jadi malin kundang kau! tak ada sekalipun mamak ini minta uang sama Mayang itu, kalau sama Tutik memang iya mamak sering minta uang. Tapi tidak pernah itu kau sampai teriak-teriak datangi mamakmu seeprti ini. Apa sudah dibutakan oleh cinta, matamu itu Tres?"

__ADS_1


Mamak Sri menangis tergugu di depan anaknya dadanya begitu sesak seakan tertindih batu besar tak kasat mata. Ia memang tidak pernah menyukai Mayang, namun cara Sutris menegurnya sangat membuat mamak sakit hati.


***


Tanpa sepengetahuan siapapun, Mayang sedang berusaha menyelinap masuk ke kamar pribadi bekas milik Tutik dan Sutris di lantai dua.


Mayang begitu penasaran dengan isi ruangan itu, pasalnya Sutris tidak pernah mengizinkanya untuk masuk kesana.


Setelah memastikan Sutris benar-benar tidak ada di rumah, Mayang mulai melancarkan aksinya, dengan berbekal kunci cadangan yang ia temukan, Mayang akhirnya berhasil masuk kedalam kamar.


Tidak ada yang istimewa dari ruangan itu, hanya saja ukuranya memang lebih besar dari kamar yang ada di lantai bawah.


Mayang bergegas membuka lemari yang ternyata tidak dikunci. Disana ternyata masih banyak baju-baju milik Tutik, tidak ada pakaian bagus, semua hanya berbentuk daster dan beberapa pakaian model lawas.


Kembali membuka lemari di sampingnya, ternyata dikunci, Mayang pun kembali mencari-cari dimana letak kunci itu disimpan.


Di dalam sebuah laci, Mayang menemukan beberapa map yang seeprtinya berisi surat-surat penting.


"Ini dia yang aku cari."


Buru-buru Mayang mengambil dua berkas yang terdiri dari surat tanah dan rumah. Ternyata tanah itu beratasnamakan Bimasena, sedangkan yang atas nama Sutris hanya rumah dan tanah yang saat ini mereka tempati.


Mayang hanya menutup lemari asal, dan keluar tanpa kembali mengunci pintu kamar.


"Misiku sudah selesai, jadi buat apa aku lama-lama disini. Sebaiknya aku buru-buru pergi sebelum Sutris datang."


Mayang mengambil tas besar berisikan pakaian yang ia gunakan untuk mengancam Sutris sebelumnya, kemudian memasukkan seftifikat yang tadi ia ambil ke dalam tas.

__ADS_1


Mayang buru-buru pergi dengan mengendarai motor matic barunya.


Motor itu pemberian dari Sutris setelah mereka menikah, hanya Mayang yang boleh menggunakanya sedangkan Sutris tidak diizinkan.


Mayang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi di area perkampungan, bahkan Mayang hampir saja menabrak seorang lansia yang hendak menyebrang jalan.


Dari kejauhan, Mayang melihat sebuah mobil polisi, dan beberapa warga yang sedang berkerumpul.


"Eh itu Pak Orangnya!" seorang pria berteriak dengan menunjuk ke arah Mayang. Semua orang termasuk polisi pun ikut menoleh kearahnya.


Mayang buru-buru putar haluan lalu melesat dengan kecepatan tinggi menghindari kejaran polisi.


Tutik baru saja sampai di depan rumahnya, sebelumnya wanita itu pergi belanja ke warung yuk Ton yang memang lokasinya lebih dekat daripada harus pergi ke pasar atau minimarket.


Tin tin tin...!


"Awaaassss!"


"Aaaaaaaaaa....!"


Bruaakkk...!


Baru saja berniat menyeruput kopinya, Sugeng berlari keluar setelah mendengar suara tabrakan yang begitu keras di depan rumahnya.


Pria itu sepontan berteriak saat melihat istrinya terbaring di aspal dengan bersimpah darah, tidak jauh dari lokasi Tutik, Mayang pun sama, wanita itu pun jatuh tertindih motornya, hanya saja wanita itu masih sadar dan berusaha untuk bangun.


Tidak lama kemudian, polisi datang dan langsung mengamankan Mayang, ssdangkan Sugeng dengan dibantu seorang polisi, melarikan Tutik menuju rumah sakit terdekat.

__ADS_1


__ADS_2