
Keesokan harinya, Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, namun Bima sepertinya enggan untuk bangun dan berangkat sekolah.
Tutik yang sudah lelah membangunkan akhirnya memilih untuk membiarkan putranya membolos sekolah hari ini.
Tutik pun hari ini libur jualan, jiwa dan raganya seakan membutuhkan healing. Masalah keluarganya belakangan ini cukup menguras habis energi serta kewarasan otaknya.
"Bapakkk..!" Bima tiba-tiba berteriak memanggil Bapaknya, bahkan anak itu terlihat menangis sesenggukan. Sepertinya bermimpi.
"Bima.. kamu kenapa nak? kenapa teriak-triak? bermimpi, ha?" Tutik memeluk anaknya.
"Mimpi aku Mak." jawab Bima.
"Mimpi apa? kenapa sampai nangis?"
"Mak.. apa Bapak mau ninggalin kita Mak? apa bapak sudah tidak sayang lagi sama Mamak dan Bima?"
"Bim.. kau dengarkan mamakmu ini baik-baik ya. Mungkin kedepanya mamak sama bapak memang tidak bisa sama-sama lagi, tapi Bima harus percaya, kasih sayang mamak sama bapak tetap sama seperti sebelumnya, tidak akan pernah berkurang."
"Iya Mak." Bima menunduk sedih.
"Ya sudah, mamak mau ke depan dulu ya, kau cepat bangun terus mandi, mamak sudah siapkan sarapan."
"Tapi Bima tidak mau sekolah hari ini Mak."
"Kenapa tidak sekolah, nanti ketinggalan pelajaran, sekolah saja ya, mamak yang antar. Oke?"
Bima akhirnya menuruti ucapan mamaknya.
"Tik.. mamak sama bapak ini sudah tua, sudah waktunya kita ini menikmati hidup. Sudah lelah bapak sama mamak ngurus kebun sama sawah Tik. Kapan kamu mau gantiin mamak sama bapak?" Ucap Mamak Yati.
"Tutik apa bisa Mak?" tanya Tutik ragu.
__ADS_1
"Kamu pasti bisa Nduk, sudah saatnya kamu bangkit, buat mantan suamimu itu menyesal sudah nyia-nyiain kamu Nduk. Lagian menjadi petani itu kan tidak harus turun langsung ke sawah buat nanam padi. Jaman sudah canggih sekarang Nduk, kita duduk manis di rumah pun tetap bisa jadi petani, Kita bisa buka lapangan pekerjaan juga Nduk, itung-itung kita bantu warga sini."
"Kalau semua mengandalkan buruh, apa masih bisa dapat untung kita Mak? tanya Tutik.
"Nduk, tanah-tanah kita itu harga diri keluarga kita Nduk, warisan dari Mbahmu dulu, yang diteruskan ke mamak sama bapak, sekarang giliran kamu yang meneruskanya Nduk. Jangan kuatir soal untung, Allah sudah mengatur rezeki kita."
"Baik Mak."
***
"Tik..! mana kopiku?" teriak Sutris dari ruang tamu.
"Tikk! apa tidak dengar kau aku panggil?"
Sepi, tidak ada jawaban.
Sedetik kemudian Sutris baru menyadari kebodohanya yang sudah teriak-teriak memanggil Tutik.
"Arrgghh!" Sutris menjambak rambutnya kasar.
Sutris yang sudah diambang Frustasi akhirnya menuju dapur untuk membuat kopi, namun sesampainya di dapur ia hanya menemukan toples gula yang sudah kosong tak bersisa.
Beralih membuka kulkas, berharap menemukan biscuit atau makanan apapun yang bisa digunakan untuk mengganjal perut sebelum berangkat ke kebun, namun lagi-lagi Sutris tidak menemukan apapun disana.
"Kenapa sama sekali tidak ada makanan, tumben sekali kulkas ini kosong. Apa sengaja si Tutik itu, ingin membuatku kelaparan."
Kembali kedalam kamar untuk mandi dan bersiap berangkat ke kebun, lagi-lagi Sutris tidak bisa menemukan dimana pakaian dalamnya disimpan.
"Dimana pula jeroan-jeroanku itu disimpan Tutik ya, kenapa pula aku tidak bisa menemukanya, apa iya aku ke kebun tidak pakai CD bisa habis cacing alasku nanti bentol-bentol di gigit semut."
Sutris akhirnya menyerah, kamar sudah tidak karuan bentuknya, hampir seisi lemari sudah berhamburan di lantai.
__ADS_1
Menjelang Sore Mamak Sri berkunjung ke rumah Sutris, rumah itu terlihat sepi. Sutris belum pulang dari kebun.
Dengan berbekal kunci cadangan, Mamak Sri berhasil masuk kedalam rumah. Seketika hawa-hawa mistis menggelitik tengkuk mamak.
"Kenapa jadi horor sekali rumah ini. Sudah macam kuburan saja."
Mamak bergegas membuka seluruh pintu hingga jendela, beberapa saat kemudian udara pengap berangsur menghilang.
Bergegas menuju dapur, kepala mamak seketika pening nyut-nyutan. Baru sehari bercerai dari Tutik, rumah Sutris sudah seperti habis diterjang angin ****** beling. Morat-marit tidak karuan!
Lantai kotor penuh debu, tong sampah terguling habis ditendang kucing hingga isinya berserakan, tidak cukup disitu, bahkan pakaian kotor terongok dilantai begitu saja.
"Suduhlah pusing kepalaku."
Meski dengan mulut komat-kamit seperti dukun membaca mantra, mamak Sri tetap bergegas mengambil sapu dan membersihkan rumah anaknya.
"Baru sehari ditinggal Tutik saja nasibmu sudah begiti Tres, bagaimana kalau setahun. Tamat riwayatmu." gerutu mamak Sri.
"Tik..! Tutik.. apa kau di dalam?" teriak seorang wanita dari arah pintu belakang.
"Eh, Mamak rupanya. Aku kira Tutik yang pulang." ucap Siti dengan cengiranya.
"Memangnya kenapa kalau aku? apa tidak suka kau?" balas mamak Sri sewot.
"Eh, bukan Mak. Bukan itu maksudku, kok tumben semua pintu sama jendelanya kebuka, aku kira Tutik pulang. soalnya sudah satu minggu aku tidak lihat Tutik Mak."
"Kenapa kau cari-cari Tutik? tidak ada disini dia. Di rumah mamaknya sana kalau mau cari Tutik!"
"Memangnya kenapa Mak kok Tutik tidak pulang-pulang apa lagi betantem sama Sutris Mak? kemarin aku lihat Sutris itu datang bawa perempuan loh Mak, apa calon istri keduanya itu Mak?"
"Heh! kenapa kepo sekali kau ini jadi manusia? ingin tau saja urusan orang, daripada kau sibuk ngurusin masalah orang, lebih baik kau bantu aku bersih-bersih. Bisa dapat pahala kau nanti."
__ADS_1
Mamak Sri menyerahkan sapu beserta kain pel kepada Siti.
"Eh.. I itu Mak, Siti lupa tadi lagi masak air Mak, takut gosong. Siti pulang dulu Mak, Assalamualaikum.." Siti buru-buru kabur sebelum benar-benar disuruh bantu bersih-bersih rumah oleh mamak Sri.