
Saat kembali ke Rumah Sakit, Sugeng ternyata sedang di priksa oleh Dokter, di ruangan itu terlihat ada seorang Doktet Wanita serta beberapa orang perawat.
Tutik yang awalnya ingin masuk akhirnya memilih untuk menunggu beberapa saat.
Cukup lama Tutik berada di depan pintu, Tutik memperhatikan interaksi antara Sugeng dan sang Dokter yang terlihat tidak biasa, keduanya terlihat begitu akrab seakan sudah lama saling mengenal.
Tak lama kemudiam Dokter pun keluar dengan diikuti beberapa perawat di belakangnya. Dokter yang Ia ketahui bernama Sarah dari name tag nya itu, tersenyum menyapa Tutik.
Tutik masuk ke ruangan Sugeng setelah Dokter Sarah pergi.
"Eh, kamu ternyata Tik?" ucap Sugeng.
"Iya Kang Sugeng, baru habis kunjungan Dokter ya Kang? gimana kata Doktet tadi Kang?"
"Iya Tik. Enggak gimana-gimana. Semua baik-baik aja, cuma disuruh banyak istirahat aja biar cepat sembuh lukanya."
"Syukurlah kalau gitu, berarti Kang Sugeng harus banyak-banyak Istirahat ya. Biar cepat pulih."
" Iya..Oh ya Tik, kamu gak papa malam-malam kesini? Bima sama siapa?" Sugeng bertanya.
"Tidak apa-apa Kang Sugeng Bima di rumah sama Mbahnya. Saya malah gak enak, di rumah kepikiran terus."
"Ohh.. jadi kamu kepikiran terus sama aku Tik?" Sugeng tersenyum menggoda.
"Eh itu, anu maksudnya Kang." Tutik menggaruk kepalanya.
"Maksudnya aku kepikiran, soalnya Kang Sugeng gak ada yang jaga disini. Takut butuh sesuatu."
"O.. gitu. Tapi kan sudah ada Suster yang jaga Tik, kalau butuh apa-apa juga tinggal manggil Suster." Sugeng kembali tersenyum menggoda.
"Emm.. ya udah kalo gitu, aku pulang aja kalo gak dibutuhin di sini." Tutik pura-pura berdiri dari kursinya.
"Eh jangan!" Sugeng reflek memengang tangan Tutik.
__ADS_1
"Jangan pulang. Aku kesepian, butuh temen ngobrol. Masa iya aku mau ngobrol sama Suster." Sugeng memelas.
"Ya, kali aja."
"Kamu disini ya, temenin Aku." ucap Sugeng lembut, lengkap dengan senyum mautnya.
"Iya.. tapi lepasin dulu tanganya."
Sugeng terkekeh lalu melepas tangan Tutik dari genggamanya.
'Please hati, jangan baper!' peringat Tutik pada hatinya.
Meskipum sudah cukup lama mengenal Sugeng yang sudah berstatus Duda kaya raya saat kembali ke kampunya. Namun Tutik baru kali ini mengetahui sisi lain dari Sugeng. Ternyata Pria yang terkenal dingin sedingin kulkas dua pintu itu memiliki sisi manis juga.
Ibu Sugeng adalah warga asli kampung Rukun yang menikah dengan Pria asal Jakarta. Keduanya kemudian dikaruniai dua orang anak, yaitu Sugeng dan Sita. Sugeng lahir di Jepara, sedangkan Sita di Jakarta.
Ayah Sugeng termasuk pengusaha Sukses di Ibu Kota, namun Ibu Sugeng juga bukan berasal dari keluarga biasa-biasa. Orang Tuanya, Pak Rustam adalah orang terkaya di Kampung Rukun ini.
Alih-alih memilih untuk meneruskan usaha Ayahnya di Jakarta, Sugeng justru lebih memilih untuk meneruskan usaha Kakeknya di Desa.
"Iya Tik.. kan tangan aku sakit." Sugeng menunjukkan tangan kananya yang dibalut perban.
"Katanya ada Suster, kalau butuh apa-apa bisa minta tolong Suster."
"Ya, masa aku makan minta disuapin Suster Tik? nanti kalau Susternya jadi suka sama Aku gimana?"
"Ya kan itu uda jadi tugasnya Kang. Gak perlu bawa perasaan juga."
"Aku maunya kamu aja yang nyuapin aku Tik."
"Terus, nanti kalo Aku jadi suka sama Kang Sugeng gimana?"
"Ya gak papa, alkhamdulillah malah. Hehehe.." Sugeng tersenyum hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
__ADS_1
Meskipun yakin jika Sugeng hanya asal ngomong, namun Tutik merasa ada yang berdenyut di dadanya. Rasanya itu... emm, seperti ada manis-manisnya.
Tutik mengambil piring berisi nasi dengan lauknya lalu menyuapi Sugeng dengan telaten.
"Makanan Rumah Sakit itu gak enak ya Tik. Anyep." ucap Sugeng di sela-sela kunyahanya.
"Makanan Rumah sakit gak enak aja banyak yang dateng kesini. Gimana kalo enak? kalah resto sebelah." cicit Tutik.
"Hahahaha iya juga ya Tik." Sugeng tertawa terbahak.
"Tapi meskipun rasa makananya anyep, kalo disuapinya sama kamu jadi penuh rasa kok makananya. Jadi enak, gak anyep lagi."
Lagi-lagi pipi Tutik dibuat memanas mendengar bualan Sugeng, ternyata si Juragan ini pinter modus juga hehe.
Tiba-tiba pintu ruangan diketuk dari luar dan tak lama kemudian terbuka.
"Y ampunn Dek Sugeng..! Kok bisa sampai kayak gini to? gimana ceritanya? mana yang sakit, mana- mana?" Mamak Sri datang dan langsung heboh.
"Mbak itu khawatir banget loh, begitu tau Dek Sugeng itu kecelakaan."
"Makasih Mak, tapi ini gak papa kok, cuma luka ringan aja."
"Walah-walah.. wong kayak gini kok dibilanh ringan to? ini luka parah namanya. Memang Dek Sugeng ini kuat sekali ya orangnya." Mamak Sri mulai meraba-raba tangan Sugeng.
Merasa tidak nyaman, Sugeng lantas menarik tanganya.
"Mamak datang kesini sama siapa?" Tutik bertanya kepada mamak.
"Loh kamu disini toh Tik?" mamak Sri terkejut.
"Iya Mak, dari tadi Tutik disini."
"Walah-walah.. aku Ndak lihat e. Tak kira tadi Dek Sugeng sendirian. Mamak kesini sama Sutris tapi orangnya lagi ke toilet dulu."
__ADS_1
'Lah. Orang segede gini gak kelihatan. Dikiranya aku ini Demit apa ya, transparan. Mana Emak datengnya sama Mas Sutris lagi. Males banget kalo ketemu."