Istri Juragan

Istri Juragan
Pernikahan Rani


__ADS_3

Hari pernikahan Rani semakin dekat, hanya kurang dari seminggu lagi.


Di Rumah Mamak Sri saat ini pasti sudah mulai ramai dengan tetangga yang sibuk membantu untuk mempersiapkan pesta.


Tradisi di Kampung memang seperti ini, jika salah satu tetangga mau mengadakan pesta, pasti tetangga yang lain berdatangan untuk membantu tanpa harus diminta.


Yang paling unik dan pasti ada di setiap acara hajatan adalah tradisi 'Njenang' atau membuat dodol.


Hal ini biasanya dilakukan secara bersama-sama oleh para tetangga. Mengingat proses untuk membuat Dodol bisa membutuhkan waktu seharian penuh, bahkan lebih.


Para Ibu-Ibu akan sibuk memarut puluhan kelapa, ada juga yang membuat adonan, sedangkan bapak-bapak mulai menyiapkan Tungku untuk memasak. Setelah adonan siap, maka tinggal giliran bapak-bapak yang akan mengaduk sampai adonan matang.


Tutik masih diujung dilema, antara datang membantu atau tidak. Jika datang, Sutris pasti akan berfikir jika Tutik masih belum bisa Move on darinya, sedangkan jika tidak datang, Tutik merasa tidak enak kepada Mamak Sri.


'Ah yasudahlah. Tidak datang mungkin tidak apa-apa, nanti tinggal minta maaf saja sama Mamak, bilang kalau lagi sibuk parah. Tapi pasti Mamak bakal ngerasa kalau pekerjaanku jauh lebih penting dari Mamak. Au ah, ribet.'


Hingga sehari sebelum acara tiba, Tutik baru datang kerumah Mamak. Dan benar saja, ada gurat kekecewaan disana. Namun semua itu sirna ketika Tutik meminta maaf dan tentunya memberi amplop berisi uang 5 juta rupiah untuk tambah-tambah beli bahan dapur.

__ADS_1


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Rani dan suaminya sedang duduk di pelaminan bak Raja dan Permaisuri sehari.


Tutik datang bersama Bima serta Emak dan Bapak.


Tamu berdatangan silih berganti, Tutik bahkan turut membantu melayani tamu.


Kebanyakan tamu disini jarang yang membawa amplop, melainkan Gula dan beras untuk tamu perempuan, sedangkan tamu laki-laki ada yang membawa amplop, ada juga yang membawa rokok satu slop untuk menyumbang. Begitulah budaya kami.


Sejauh ini Tutik sama sekali tidak bertemu dengan Mayang, kabarnya sampai saat ini Mayang dan Sutris bahkan belum menikah.


"Eh Tik, tidak usahlah bantu-bantu. Kau duduk manis saja di depan memyambut tamu sama Mamak. Kau kan sudah cantik begini dandananmu. Tidak usah bantu-bantu di belakang. Biar dikerjakan mamak-mamak yang lain saja itu." ucap Mamak Sri dengan menggandeng lengan Tutik untuk berjalan kedepan.


Di halaman rumah berdiri tenda mewah dengan dua panggung, satu panggung pelaminan sedangkan satunya lagi panggung hiburan orkes.


Sudah menjadi tradisi di Desa kami, bahwa setiap acara hajatan akan menanggap hiburan orkes, wayang atau ketoprak. Apa lagi jika yang memiliki hajatan orang kaya, sudah bisa dipastikan pesta pasti akan berlangsung selama dua hari dua malam.


Bima terlihat sibuk bermain dengan teman sebayanya. Bocah itu terlihat asik menjajaki satu persatu lapak pedagang mainan bahkan jajajanan.

__ADS_1


Saat acara pesta pernikahan yang kebanyakan menanggap orkes, biasanya memang banyak pedagang makanan dan mainan yang mangkal. Jadi sudah bisa dibayangkan seperti apa ramainya, Pasar malam saja kalah.


"Minum Dek." Sutris datang dari arah belakang dan menyodorkan sebotol teh kemasan.


Tutik hanya menoleh sebentar tanpa berniat menerima teh pemberian Sutris.


Sutris meraih kursi kosong lalu mengambil posisi duduk di samping Tutik.


"Bima kemana?" tanya Sutris.


"Beli mainan di depan." jawab Tutik acuh.


Sutris cukup lama terdiam, mungkin sedang mencari topik pembicaraan.


"Kamu belum menikah lagi?" Sutris kembali bertanya setelah diam beberapa saat.


"Belum."

__ADS_1


Lagi-lagi mendapatkan jawaban yang super singkat, Sutris akhirnya memilih untuk diam dan tidak lagi bertanya.


__ADS_2