
"ada apa istri ku kenapa kau menutup mulut mu, kenapa kau tidak melanjutkan ucapan mu, suami mu ini sangat penasaran dengan kalimat selanjutnya apa kau tau itu."
benar saja yuan lagi dan lagi mengoda xixi. xixi terdiam dan membuang wajahnya menghindari tatapan mengejek yuan padanya, mengindari tatapn yuan xixi membuka kedua tanganya yang menutupi bibir mungilnya itu, xixi menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan napas dan jantungnya, menata ekpresinya lalu xixi menghadap yuan dengan senyum lembut dan ramah.
xixi tersenyum ke arah yuan seakan ucapan dan kejadian tadi tidak pernah terucap oleh xixi, yuan bingung dengan perubahan drastis dari ekpresi xixi yang tiba-tiba itu, yuan memiringkan kepalanya dengan tatapn curiga memandang xixi tapi xixi membalasnya lagi dengan senyuman, yuan mempunyai firasat tidak enak dengan senyum xixi yang terlontar itu untuknya.
xixi mendekat ke arah yuan dan semakin mendekat hingga xixi benar-benar dekat dengan tubuh yuan seakan menempel, xixi mejijitkan kedua kakinya dan merangkul leher yuan, "bisakah kau menunduk sedikit ada yang ingin ku beritau pada mu dan aku tidak mau orang lain mendengarnya" meski pikiran yuan penuh dengan keheranan akan tetapi yuan tetap menuruti apa yang xixi pinta karena itu sangat mudah.
xixi mendekatkan bibirnya ke telinga yuan dan membisikan kata manis di telinga yuan "suami bisakah kita pulang hari ini.....? aku sangat rindu dengan kamar kita dan KA.....S....U....R..... KI...TA...mari kita pulang ke rumah kita suami ku." xixi mengakhiri ucapannya di telinga yuan dengan satu tiupan, fyuhh di telinga yuan yang membuat yuan mengigil dan mabuk kepayang oleh ucapan dan tindakan xixi padanya.
xixi melepas rangkulannya dan memandang yuan dengan senyuman lembutnya, xixi tersenyum dengan kemampuan terbaiknya untuk menahan tawanya yang melihat yuan terhuyung setelah mendengar ucapannya, di dalam hati xixi ia sedang bersorak gembira atas kemenangan telaknya ini, ia bersyukur apa yang yuan ajarkan padanya menjadi bumerang utuk yuan sendiri.
xixi menjadi sangat dewasa dan sangat termpil untuk membuat orang lain terpojok dan itu semua berkat apa yuan lakukan padanya, semua tindakan dan ucapan yuan bagai sebuah contoh dan bimbingan, xixi sangat sadar semakin ia dekat dengan yuan semakin ia mirip dengan yuan, dan xixi menyukai itu terutama untuk saat ini, saat-saat di mana yuan sendiri terpojok oleh tindaka xixi yang tidak terduga oleh yuan.
yuan terhuyun seakan tidak percaya iistri kecilnya mengatakan kata-kata yang mengundangnya bahka menggodanya dengan sebuah tiupan erotis, yang membuat yuan bertanya-tanya dari mana xixi belajar semua itu,yuan tidak menyadi bahwa tindakan xixi semua terpengaruh oleh dirinya sendiri. yuan mematung dari ujung kaki hingga rambut yuan merasa menggigil dan tiba-tiba nafsunya meningkat pesat.
__ADS_1
yuan pria dewasa yang sudah terbiasa menghadapi banyak wanita, yuan juga terbiasa menerima godaan dari berbagai jenis wanita tapi baru kali ini yuan benar-benar terpancing hasratnya oleh xixi, ucapan xixi bagai sebuah panah yang menembus jantung dan otaknya, yuan merasa bodoh sesaat untuk mencerna ucapan xixi yang tidak ia bayangkan, yuan terdiam dengan ekpresi dingin.
xixi yang awalnya ingin sekali menertawakan yuan tapi kini mendadak terdiam melihat ekpresi yuan yang tiba-tiba berubah. yuan memandang xixi dengan tatapan atajam dan serius yuan mendekat lalu yuan memeluk xixi dan menganangkat xixi bagai putri dalam dongeng, "kyaaaaaaa apa yang kau lakukan" xixi tentu saja kaget dan bertanya serta memprotes yuan dengan nada yang sedkit jengkel.
"turunkan aku apa yang kau lakukan."
"tentu saja pulang."
"haaahhh...? lalu bagaimana makanannya."
"tentu saja, maka dari itu turunkan aku."
"tidak."
"makanan itu mubazir jika di buang, aku sudah memesannya dari tadi mungkin beberapa sudah matang dan akan di sajikan atau biarkan aku meminta mereka membungkusnya."
__ADS_1
"tidak, kita pulang sekarang kau harus mempertanggung jawabkan ucapan mu tadi, dan soal makanan biarkan itu tetap di sajikan mungkin ada orang yang membutuhkan hiburan sekarang."
"hmmm kau benar baiklah, aku akan berbaik hati bersedekah makanan kesukaan ku untuk merka yang membutuhkan."
xixi dan yuan tersenyum kata-katanya itu sangat menunjukan jesi yang membutuhkan hiburan, yuan dan xixi meninggalkan hotel saat itu juga dan jesi benar-benar terabikan, seolah ia tidak pernah ada tapa sepatah kata [un yuan dan jesi menhilang dari hadapan jesi dengan perdebatan manis yang memuakan untuk jesi dengar. seorang pelayan menghampiri jesi dengan teroli makanan yang tidak pernah jesi pesan.
"nona makanan sudah siap, nona mau di sajikan di meja mana" tanya pelayan itu dengan senyumdan nada yang ramah, jesi melebarkan matanya dan menatap ke arah pelayan itu.
" aku tidak peernah memesan ini semua."
"maaf nona tapi kata tuan dan nona tadi makanan ini di pesan untuk anda dan mereka sudah membayar semua ini."
jesi mengepalkan kedua tangannya ia marah dan malu seakan ia tidak sanggup membayar semua makanan ini, harga dirinya di injak-injak. jesi mendekat menghampiri pelayan yang membawa makanan itu, jesi menarik kain yang menjadi tatakan makanan itu di troli, dengan sekali tarikan jesi menghempaskan semua makanan yang di sajikan untuknya, dengan wajah kesal jesi meninggalkan pelayan dan makanan yang berserakan itu.
"ada apa dengan wanita tua itu, huft sayang sekali padahal gaji sebulan ku pun tidak akan sanggup untuk memesan ini hanya untuk sekali makan, dasar wanita sombong" ucap pelayan pembawa makanan itu setelah jesi pergi meningglkan lestoran dalam hotel itu.
__ADS_1