
sementara itu. ibu dan kaka xixi telah sampai di gerbang kediaman yuan, sesuai intruski tuannya. penjaga rumah membukakan gerbang pintunya. nenek yang di beritau jika calon besannya sudah memasuki gerbang bergegas ke depan pintu bersama para pelayannya. di dalam mobil ibu xixi takjub dengan kediaman dan keamanan rumah calon menantunya.
sementara di dalam mobil "anak itu seperti mendapatkan sebuah harta karun" jihan yang mendengarnya pun tersenyum kecil dan menjawab ucapan yang keluar begitu saja dari mulut ibunya. "hahaha bu jangan terlalu berharap apa kau lupa bagai mana anak itu menolak tuan muda itu" jihan kembali mengingat bagaimana xixi menolak keras keberdaan yuan saat itu.
"ya ibu tau, tapi ini demi xixi, bukannya ibu mau memaksanya seakan menjualnya, ibu hanya berharap ia bahagia bersama pria yang mencintai dan menginginkannya tidak seperti ibu, hidup seperti benalu." raut wajah ibu xixi langusng berubah muram saat mengingat kehidupan pernikannya tidak seindah novel atau dongeng yang ia impikan saat kecil. "jangan berbicara seperti itu, jika bocah itu mendengarnya ia pasti akan melakukan hal-hal aneh."
"hehehe begitulah xixi, sangat sulit menebak apa yang ada di pikirannya, dan tindakan apa yang akan dia lakukannya nanti, tapi ibu harap ia bahagia tanpa tekanan dari ayah lagi." ibu bener-bener berharap agar putrinya bahagia. "ayah ya..... entah lah bu, kenapa ayah penuh dengan ambisi dan mengabaikan keberadaan putrinya." jihan pun sangat menyayangkan sikap ayahnya pada adiknya itu.
"ya justru itu ibu harap xixi bahagia bersama keluarga barunya" pembicaraan mereka terhenti ketika mobil sudah mendekati pintu utama, di sana ada seorang wanita tua yang menyambut ibu xixi dan jihan dengan penuh senyum. jihan dan ibu xixi berhenti dan keluar dari mobil. nenek mendekat, "selamat datang, apa perjalanannya melelahkan.....? silahkan masuk aku sudah memerintahkan para pelayan untuk menyajikan makanan terbaik, ku harap kalian suka."
"maaf.... nyonya.... ini.... ?"
__ADS_1
"oh astaga aku lupa memperkenalkan diri, aku terlampau bahagia menyambut ibu dari cucu perempuan ku yang manis itu."
"cucu.....?" ibu xixi bener-bener bingung dengan ungkapan bahwa putrinya cucunya." nenek yuan tersenyum melihat, kebingungan ibu xixi "aku neneknya yuan dan berarti xixi itu cucu ku jugakan." ibu xixi sontak saja kaget dan sedikit membungkuk, "oh astaga maafkan aku nyonya oh, aku tidak tau maafkan aku atas kelancangan ku." lalu jihan tak luput dari perkenalan singkat itu, "halo salam nyonya, saya kakanya xixi gu jihan."
"tidak perlu sungkan dan terlalu formal, kita akan menjadi keluarga, panggil aku nenek saja sepeti yu dan xixi memanggil ku, itu membuat ku merasakan punya banyak keluarga. "baik nyo...ehh nenek." ibu xixi tersenyum lembut dan puas atas apa yang ia lihat, ia lega anaknya mendapatkan keluarga baru yang hangat dan menyayanginya.
mereka pun memasuki ruangan tengah, duduk di kursi tamu lalu hidangan manis dan minuman di sajikan, dengan sangat tanggap oleh stuad dan para pelayan yang lain. "nikmatilah cemilannya, tunggu xixi masih di kamar, stuad...?" nenek memanggil stuad yang memang sedari tadi siaga di dekta nenek yuan selain pak go.
"panggil nyonya muda dan tuan yu, bilang pada mereka ibu dan kakanya sudah datang dan menunggu mereka di ruang tamu."
"baik nyonya besar, saya permisi dulu."
__ADS_1
stuad pun pergi meninggalkan nenek dan menuju lantai dua. (tok, tok) stuad mengetuk pintu dengan pelan. "maaf tuan mengganggu, ibu dan kaka nyonya muda sudah sampai, mereka sedang menunggu di ruang tamu." xixi yang mendengar stuad dari dalam kamar mandi sontak kaget dan bahagia. "apa ibu dan kak sudah tiba.....?" teriaknya di dalam kamar mandi. yuan terkekeh dengan oendengan tajam xixi itu, "ya maka cepat lah keluar, aku tidak mungkin menemui orang tua mu sendiri tanpa mu."
"ya ya baiklah aku keluar." xixi keluar dari kamar mandi dengan menggunakan gaun yang menutupi leher dan pundaknya, pakiannya sangat simple tapi tubuh mungil dan wajah polos xixi memancarkan aura yang berbeda, dengan sedikit riasan yang hanya sebuah perona bibir xixi terlihat sangat cantik natural yang membuat yuan terpesona dalam diamnya.
postur xixi dalam balutan baju yang ia sediakan walau tanpa makeup justru terkesan terlihat menawan dan sangat natural. "aku benar, aku tidak salah pilih" yuan bersorak membagkan dirinya sendiri dalam batinnya. yuan mengulurkan tangannya "mari.....?" xixi diam dan malu. "kenapa orang ini Seperti bunglon sikapnya selalu berubah rubah di setiap kondisi dan situasi, membuat jantung ku berolahraga tanpa aba-aba, harusnya aku sudah terbisa tapi sepertinya malah aku yang harus berusaha berubah menyamakan ritme mood dan sikapnya."
xixi diam dalam pikirannya sendiri. yuan ngengendus kesal dengan sikap xixi yang terkesan mengabaikannya.
"cepat lah keong aku tidak mau terlihat buruk di depan nenek dan orang tua mu." xixi kaget dan menghela napas "sudah ku duga, hus hus buang jauh jauh hal yang positif dari pria sinting ini, ini.........! ya ia bersikap manis seperti ini karena nenek ya karna nenek, anggap saja dia tembok yang bisa berbicara, ya bagus xixi anggap dia tembok."
tanpa menjawab xixi mengela napas dan mengulurkan tangannya dan meraih tangan yuan. yuan tersenyum saat xixi meraih tangannya, mereka keluar dari kamar dan menuruni tangga ke lantai dasar, mata xixi langsung tertuju pada ibu dan kakanya. sepontan xixi ingin melepas pegangan tangannya, lompat dan berlari ke arah ibunya, tapi yuan yang merasa xixi sedikit mengendurkan genggamannya semakin mengencangkannya, menoleh dan tersenyum.
__ADS_1
yuan berbisik kecil "ya ampun istri ku kau lupa ada siapa saja di sini, jangn buat situasi yang terlihat kau tidak bahagia bersama ku." xixi tersenyum dan membalas kata-kata yuan dengan suara kencang. "YA AMPUN SUAMI KU INI PECEMBURU SEKLI SEPERTI ANAK KECIL, HO HO OH SAYANG AKU LEBIH MUDA DARI MU JANGAN KEKANAKAN LEPASKAN AKU UNTUK SEMENTARA YA, AKU HANYA MAU MEMELUK IBU BOLEH KAN SUAMI KU."