
"kyaaaaaaaaaaaaa." yuan tertawa puas sambil berjalan kearah pintu keluar kamar, saat tangan yuan sudah meraih gagang pintu dengan satu langkah lagi yuan menoleh. yuan menunjuk lehernya sendiri sebagai kode ke arah xixi "oh ya jangan lupa pakai baju yang menutupi leher mu itu, aku tidak mau terlihat buruk di depan mertua ku dan ipar ku, hmmm sepertinya jumlah mereka bertambah" bammmm suara pintu terbuka dan tertutup terdengar membuat xixi berteriak.
"DASAR SINTINGGGGGGGGGGGG"
suara xixi bergema di setiap penjuru rumah, yuan menuruni tangga tangannya mengepal mengeluarkan satu jari telunjuk yang menekuk dan menutupi bibir yuan dengan tawa yang tertahan. "DASARRRRR SINTINGGGG."nenek sempat kaget sesaat ketika mendengar teriakan dari menantunya itu, tapi ketika melihat ke arah tangga yang menuju lantai dua nenek melihat yuan turun dengan senyuman lembut yang hampir tidak pernah nenek liat.
"fufufufu jika aku tidak melihat cucu ku ini, mungkin aku sudah panik dan berlari untuk mengecek teriakan tadi, yah sepertinya aku tau bagaimana hubungan mereka fufufu aku seperti melihat yuan yang baru" nenek terus melihat yuan yang terus menuruni tangga yang menuju lantai satu tempat neneknya berada, "seperti nya seru" tanya nenek yuan pada yuan saat melihat yuan terseyum-senyum.
yuan kaget dan mengangkat wajahnya yang sedikit menunduk, yuan hampir lupa pada keberadaan nenek di kediamannya. "ya nek seru sangat seru" yuan tersenyum kecil dengan sangat lembut "apakah kau sedang jatuh cinta....?" mata yuan membelalak, sedikit kaget dengan pertanyaan nenek, kini matanya perlahan melembut dan mengekpresikan kejujuran, "ya nek sangat, keberadaannya sungguh aneh membuat ku bertanya tanya siapa dia, apa kah ada yang salah dengan ku.....?"
nenek tersenyum melihat ekpresi cucunya, yang tanpa ragu menjawabnya dengn jujur dan tulus. "tidak ada yang salah dalam menyukai atau mencintai seseorang" nenek tersenyum, menasehati apa yang benar untuk cucunya,
__ADS_1
"tapi umur kami terlampau jauh bahkan aku memaksanya dan secara egois merebutnya dari keluarganya tanpa memikirkan atau mendengarkan pendapatnya, dan lagi .....!?"yuan terdiam sejenak dan mengepalkan kedua tangannya dengan berani yuan menjelaskan "aku dan dia belum menikah nek."
"fufufu nenek tau" nenek tertawa dan membuat ekpresi sombong. "nenek tau.....? tapi tadi.....?" yuan kaget dan bertanya-tanya prihal semua yang di kketahui neneknya tentang ia dan xixi. "kau pikir siapa nenek mu ini, langsia tua yang mudah untuk di bohongi....? aku tau semua ceritanya dari awal hingga sekarang" nenek menjawab dengan sombong.
"dari awal......?" yuan mengekpresikan wajah bingungnya, "jangan meremehkan janda tua ini, aku juga pernah berada di posisi mu bahkan aku sudah merasakn posisi yang lebih tinggi dari mu di dunia bisnis dan politik, jika hanya untuk mencari informasi mu dan anak itu hanya perkara mudah untuk ku" nenek memamerkan kekuasannya sebagai nyonya besar oh.
yuan menarik napas dan membuangnya, "haaaaaahhh aku hampir lupa kau bukan nenek tua yang rentan" ekpresinya langsung berubah dengan tenang. "fufufu, jadi yu kapan kau akan menikah secara resmi dan memiliki buku nikah, aku tidak butuh foto praweding mu yang aku butuh foto di buku nikah mu" nenek bertanya sekaligus meminta yuan agar cepat mengesahkan hubungan mereka.
"tidak ada yang salah dengan umur, umur hanya angka yang tak berarti dan hannya sebuah jarak waktu kapan kita di lahirkan, tapi kebahagiaan itu di dapatkan dengan sedikit sikap egois pada diri sendiri, jadi percaya diri lah." yuan tersenyum bahagia saat mendapati dukukangan dari satu-satunya keluarga yang ia sayangi, membeberkan semua perasaanya pada nenek membuatnya lega dan sedikit menghilangkan rasa ragunya.
"nek apa kau menyukai xixi....?" yuan bertanya prihal pendapat nenek tentang xixi, nenek tersenyum, dan menjawab pertanyaan yuan dengan tegas "ya sangat suka" dengan wajah santai dan agak puas nenek berkata bahwa iya cukup menyukai xixi, "apa nenek juga menyelidiki xixi hingga nenek merasa puas dan suka kepada xixi" yuan bertanya dengan wajah serius. "bukan.....?"
__ADS_1
"lalu apa......?" jawaban ambigu nenek membuat yua semakin penasaran, "hanya merasa ini cukup menarik menemani mu main rumah rumahan sebelum aku mendapatkan cicit, tidak buruk juga jika aku mendapatkan cucu wanita. nenek tersenyum dan menaikan satu alisnya.
yuan menghela napas "sudah ku kira nenek tidak akan menjelaskan nya dengan detail soal xixi, yah aku kurang cukup puas dengan jawaban nenek. memang sangat sulit menebak apa yang akan di lakukan atau di pikirannya, nenek bukan lawan ku hmmm main rumah rumahan.....?" yuan tersenyum dan memijit pelipisnya mendengar jawaban nenek yang di luar prediksinya, "aku tidak tau sejauh mana nenek mencari informasi tentang xixi tapi melihat nenek suka dan bahagia sudah cukup puas untuk ku"
"oh ya nek aku hampir saja lupa, calon ipar dan mertua ku akan ke sini jadi nenekk..." uan memberi tau kedatan kaka xixi dan ibu xixi dengan kode yang mengisyaratjan apa yang harus neneknya lakukan. "ya ya jangan meremehkan kemampuan acting ku, aku bisa tau apa yang aku lakukan nanti" yuan tersenyum dengan jawaban nenek yang membaca situasi, "nenek memang yang terbaik."
"jadi kapan mereka kesini.....?" yuan tersenyum polos, "15 menit lagi oh mungkin 5 menit lagi setelah waktu yang terbuang saat obrolan kita tadi oh mungkin sebentar lagi" yuan tersenyum konyol ke arah nenek. "apaaaaaa kenapa kau baru bilangggggggg.....!?" nenek panik dan kesal dengan apa yang yuan beritaukan, "nenek yang dulu mengajak ku berbicara dan juga tidak tanya....?"
tongkat nenek melayang dan memukul kepala yuan. "cucu sialannnnnnnn" buk buk buk "heiii uuuu awww awaa sakit nek hentikan kau membuat ku malu" nenek tidak menggubris keluhan yuan dan memutar tubuhnya, ia memanggil para pembatu dan stuad. "stuaaaddd kumpulkan para pelayan siapkan hidangan sepesial untuk tamu sepesial, hidangkan dengan cepattttttt"
dengan nada tegasnya sebagai mantan pemimpin kelurga oh nenek memerintahkan semua pelayan di bawah komandonya. stuad kaget dan sedikit panik. "sudah ku duga keberadaan nyonya muda saja sudah membuat rumah ini kelimpungan di tambah nyonya besar ..... sepertinya aku harus menyiapkan lembaran surat lembur"
__ADS_1
dengan panik nenek berdecak kesal ke cucu sialannya yang baru saja ia puji-puji. "sialan sialan cucu bodoh hal sepenting ini di tunda tunda dengan pembicaraan konyol."