Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Kecurigaan Jubaidah


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


"Mas Alvian!"Rania sangat terkejut ketika melihat pria di balik kursi itu yang ternyata adalah Alvian.


Begitu juga dengan kasir yang bernama Feby.


"Mbak kenal dengan Pak Alvian?"


"Ada apa?"sebelum Rania menjawab, Alvian terlebih dahulu bertanya. Dan lelaki itu terlihat biasa saja. Tidak menunjukkan ekspresi terkejut, kaget atau sejenisnya.


"Maaf Pak, ini Rania, dia ingin melamar kerja di sini."


"Feby, kau taukan jika saat ini kita hanya membutuhkan tenaga pria, dan usianya pun minimal 17 tahun?"


"Tau pak, maafkan saya."Feby menunduk, merasa bersalah.


"Cepat! Antar dia keluar,"titah Alvian, dengan mengusir tanpa berbasa-basi terlebih dahulu pada Rania, ia bersikap seperti tidak mengenali gadis itu.


"Baik Pak."


"Tunggu dulu,"cegah Rania, dan ia kembali berbicara pada Alvian,"Mas, maksud saya Pak Alvian tolong beri saya satu kesempatan, Saya berjanji akan bekerja dengan baik, dan Pak Alvian tidak perlu khawatir karena saya pun memiliki kekuatan sama seperti pria."Ucap Rania, sambil mengedipkan matanya, memberi kode agar lelaki itu bersedia menerimanya.


Namun Alvian tidak menanggapinya, ia malah menggerakkan tangan, menyuruh Rania pergi.


Di saat bersamaan dan Rania belum meninggalkan ruangan Alvian, seorang karyawan lelaki masuk yang tentunya sudah mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Maaf Pak, ada beberapa masalah di gudang. Ada kekeliruan dengan data barang-barang yang masuk pagi tadi, dan kita harus menyelesaikan masalahnya malam ini juga Pak, kerena jika tidak, kita tidak bisa menjual barang tersebut. Sedangkan Stok di rak sudah mulai habis."Ujar karyawan lelaki memberi penjelasan.


"Apa kinerjamu sekarang sudah Menurun?"sahut Alvian, yang malah meragukan karyawan setianya selama beberapa tahun.


"Maafkan saya Pak, tapi jika boleh jujur, semenjak Yono mengundurkan diri, saya merasa kerepotan harus mengurus dan mendata semua barang yang masuk dan keluar seorang diri."


Selepas mendengar keluhan karyawannya, Alvian melirik Rania.


"Kau, bantu dia untuk mengrus semua barang-barang yang masuk."Alvian memberi perintah.


"Saya!"Rania menunjuk dirinya sendiri, karena ia tidak yakin jika Alvian bicara dan memberi perintah padanya.


"Memangnya siapa lagi! kau mau bekerja tidak!"


"Baik, tentu saja mau, apa saya harus bekerja malam ini juga?"Rania memastikan.


Dan Alvian mengangguk.


"Baik, terima kasih, Pak Alvian!"


Setelah berterima kasih pada kakak dari kakak iparnya itu, Riana beralih pada karyawan lelaki yang masih terlihat bingung.

__ADS_1


"Ayo Mas, apa yang bisa saya kerjakan?"


Lelaki itu menatap Rania dari ujung kaki sampai ujung rambut, ia tidak yakin dengan Rania, karena pekerjaan di bagian gudang cukup berat, bukan hanya mendata semua barang yang masuk dan keluar, terkadang mereka juga harus mengangkat dan memindahkan benda-benda yang cukup berat. Tapi apa boleh buat, ini mendesak dan saat ini ia sangat membutuhkan teman yang bisa membantunya mengatasi masalah di gudang.


"Baik, ayo ikut saya!"Ajak lelaki itu.


❄️❄️


"Ini, kau lihat dan kau salin, barang apa saja yang masuk pagi tadi."Ucap lelaki itu seraya menyerahkan buku catatan pada Rania.


"Baik Mas."


Dengan teliti, Rania memulai pekerjaan pertamanya, meskipun ia tengah lelah karena seharian berkeliling, tapi ia harus tetap semangat untuk hari pertamanya ini agar mendapatkan kesan bagus.


"Siapa namamu?"tanya lelaki itu, di sela-sela pekerjaan mereka.


"Ah, iya, kita belum berkenalan,"Rania mengulurkan tangannya,"Namaku Rania!"


"Aku Azam, senang berkenalan denganmu."


Mereka sama-sama tersenyum.


"Boleh aku bertanya sesuatu?"izin Rania.


"Tentu, sekarang kita teman, kau boleh bertanya apapun, terkecuali pertanyaan (Kapan Nikah) karena aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan yang sudah sering aku dengar,"sahut Azam sambil tertawa ringan.


"Iya, dan sudah ada beberapa cabang juga, tapi dia jarang datang, semua urusan Minimarket ia serahkan pada para karyawannya. Ia hanya sesekali datang untuk mengontrol saja, tapi hari ini, tumben sekali Pak Alvian ada dia sini sudah sejak pagi tadi, biasanya hanya 1 atau 2 jam saja."Jelas Azam.


'Waah, Mas Alvian hebat juga! aku bahkan tidak tau jika dia punya beberapa Minimarket, aku hanya tau, Pak Rohim yang punya beberapa Ruko.'Batin Ranai.


❄️❄️❄️


Di tempat lain.


Via saat ini berada di kontrakan Jubaidah, tentu di temani dengan Rahman.


Kedua bola mata wanita yang tengah sakit itu tajam seperti belati kala menatap Via, ia benar-benar tidak bisa berdamai dengan menantunya.


Via yang melihat perubahan drastis fisik Jubaidah merasa iba dengan wanita itu, meskipun Jubaidah teramat jahat padanya tapi Via tetep tidak tega jika melihat Jubaidah seperti ini.


"Mas, apa Rania sudah bisa dihubungi?"tanya Via, ketika Rahman kembali dari luar kontrakan setelah mencoba menghubungi Rania, ia sudah menghubungi adiknya itu puluhan kali. Karena Rania pergi dari kontrakan pagi-pagi sekali dan sampai malam ia belum kembali tanpa memberi kabar apapun. Tentu membuat mereka sangat khawatir, karena ponsel Rania tidak aktif.


"Belum."Sahut Rahman.


"Man, apa tidak sebaiknya kau cari saja adikmu, Ibu khawatir jika terjadi sesuatu pada Rania, dia itu perempuan Man."Sahut Jubaidah.


"Kita tunggu sebentar lagi saja Bu, mungkin dia ada di perjalanan menuju pulang."Rahman yang enggan menuruti permintaan Jubaidah.

__ADS_1


"Apa karena Via melarangmu?"


Via dan Rahman, sontak menatap Jubaidah secara bersamaan.


"Aku!"


"Iya, pasti kau kan yang melarang Rahman untuk mencari Rania?"Jubaidah menyolot.


"Aku bahkan tidak bicara apapun pada Mas Rahman, selain menanyakan apa Rania sudah bisa dihubungi."


"Dasar picik, kok bisa saja beralasan."Sungut Jubaidah.


"IBU!"Bentak Rahman, sampai membuat wanita itu tersentak karena kaget.


Rahman sudah mengepalkan tangannya, ingin sekali rasanya ia memaki bahkan memukul wanita di hadapannya itu.


Wajah Jubaidah memerah melihat raut muka di wajah Rahman.


"Jangan pernah bicara seperti itu pada Via, apalagi sampai membentaknya."Kata Rahman, dengan nada suara yang ia pelankan, ia masih belum puas membuat Jubaidah tersiksa. Jadi ia masih harus berpura-pura di depan wanita itu.


Jubaidah melengos.


"Sekarang kau bahkan sudah berani membentak ibu di hadapannya."Kata Jubaidah.


"Ini semua salah Ibu, jika saja ibu tidak berkata sekasar itu pada Via, tentu aku tidak akan membentak Ibu."


"Rahman benar-benar sudah berubah, aku yakin sesuatu terjadi padanya, aku harus mencari tau sendiri. Mbah Gede sudah tidak ada, pada Siapa lagi aku meminta bantuan! Selvi, ya, aku hampir saja melupakan gadis itu." Batin Jubaidah.


"Sudahlah Mas, sepertinya ibumu benar, lebih baik kau cari Ranai, aku juga mengkhawatirkannya."


Rahman terdiam sejenak, sama seperti Via dan Jubaidah, ia juga sebenarnya sangat mengkhawatirkan Rania. Meskipun Rania bukan adik kandung Rahman, tapi karena mereka di besarkan bersma dan mendiang Mira selalu mengatakan jika Ranai adiknya. Rahman jadi memiliki ikatan batin yang kuat dengan gadis itu.


"Baiklah! tapi, Mas antara kau pulang ke Rumah dulu, setelah itu Mas akan mencari Rania."


"Kenapa harus mengantar Via dulu! dia bisa pulang sendiri kan! Manja sekali, ini baru Jam 9 malam, jalanan masih sangat ramai, lebih baik kau langsung saja pergi mencari Rania, akan membuang-buang waktu jika harus mengantar Via dulu."Protes Jubaidah.


Bersambung..


❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2